Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Kau mau jadi Dokter apa tukang tunggu kantin, heh?


__ADS_3

"Sayang!"


Gavin menoleh, mendapati sang istri sudah berdiri di belakangnya dengan senyum manis. Gavin membalikkan badan, mengelus lembut kepala istri mungilnya dengan penuh kasih.


"Loh sendiri? Bodyguard kamu mana?" Tanya Gavin sambil mencubit gemas pipi Diandra.


Alis Diandra berkerut. Sementara Gavin masih menatapnya dengan saksama. Bodyguard? Siapa yang Gavin maksud? Sedetik kemudian Diandra tersenyum ketika tahu siapa yang suaminya itu maksud dengan bodyguard.


"Oh, Kiki?" Tanya Diandra sambil menahan tawa.


"Nongkrong di kantin dianya."


"Iya dong, siapa lagi?" Gavin meraih tangan sangat istri, membawa Diandra melangkah menuju parkiran.


Karina kembali terkekeh, akan ada banyak hal yang hendak Diandra ceritakan pada suaminya ini. Entah penting atau tidak, tapi ingin rasanya Diandra menceritakan semua itu pada suaminya.


"Dia protes tadi pagi, Sayang. Katanya kalau PP ke rumah sakit sama aku terus, kapan dia mau jalan sama babang residen bidikkannya." Jelas Diandra yang ingat protes Kiki tadi pagi.


"Eh, baru sehari koas dia udah sukses bidik residen? Residen apa, Sayang?" tampak Gavin terkejut, membukakan pintu mobil dan membantu istrinya naik ke dalam.


Diandra tersenyum, kenapa Bujang Lapuk menyebalkan ini sekarang begitu manis? Sikapnya membuat Diandra selalu terpesona dan jangan lupa... Makin cinta!


"Belum sih, itu baru halunya dia aja." Jelas Diandra ketika Gavin sudah masuk dan duduk di sisinya.


"Astaga itu bocah! Kirain udah sukses gebet residen di rumah sakit ini." Gavin terkekeh, membawa mobilnya pergi dari parkiran yang diperuntukkan khusus untuk para Dokter.


Diandra tertawa, menyandarkan kepala di bahu sang suami dengan begitu manja. Sementara Gavin hanya melirik sekilas, tersenyum lalu kembali fokus pada jalanan.


"Dia malah ketemu sama jodohnya yang kemarin aku ceritain itu, Mas. Tadi aku tinggal lagi makan berdua di kantin." Bagaimana tanggapan Gavin ketika tahu orang yang dia maksud ini adalah Derren? Apakah Gavin masih akan marah?


"Eh? Jodoh yang kemarin mana lagi sih? laris juga ya si Kiki itu ternyata?" Gavin terkekeh, tidak lagi berani protes dengan sikap manja Diandra yang jujur membuat bahunya pegal. Daripada dia tidak dapat jatah, lebih baik dia tahan saja.


"Yang nyerempet Kiki kemarin, Mas! Mereka berjodoh agaknya. Ketemu lagi mereka di sini, ribut terus dari tadi pagi di IGD." Jelas Diandra yang masih bersandar manja di bahu suaminya.


"Mereka cocok banget, Mas. Serius! Ya walaupun kalo dilihat macam kita dulu, ribut terus kerjaannya."

__ADS_1


Gavin terkekeh, benarkah?


"Yang bener? Jadi yang nyerempet Kiki itu Dokter sini? Residen? Atau gimana?" Tanya Gavin nampak begitu penasaran.


Diandra menghela napas panjang, apa reaksi Gavin kalau tahu lelaki itu Derren? Marah kah Gavin? Atau malah dia akan berpikiran tidak-tidak? Diandra menghela napas panjang, memeluk lengan kekar suaminya dengan begitu posesif.


"Dokter definitif, belum residen. Temennya Bang Drian itu loh. Yang kemarin Mas salah paham sama dia." Jawab Diandra harap-harap cemas.


Gavin tampak terkejut, wajahnya terlihat berubah. Diandra bisa melihat perubahan wajah itu. Hal yang jujur membuat hati Diandra was-was.


"Bisa cepet gitu dia berpaling? Keren!" Desis Gavin lirih.


"Bukankah itu bagus? Biar Mas nggak cemburu terus sama dia."


Gavin terkekeh, tangan kirinya menekuk guna mengacak rambut sang istri. Membuat hati Diandra lantas lega seketika.


Itu artinya Gavin tidak marah, kan?


"Aku nggak peduli dia mau beneran serius sama Kiki atau cuma mau jadiin dia pelampiasan. Satu yang perlu diingat, bahwa kalau dampak dia berani nekat dan macam-macam gangguin istriku, ku patahkan tangannya. Lihat saja!"


"Eh serius! Tanyalah pada ibu, rekor suamimu ini mukulin orang seberapa banyak!" Gumam Gavin dengan bibir mengerucut.


Diandra membenamkan wajah di lengan itu. Kenapa tiap inci tubuh Gavin begitu nyaman? Membuat dia enggan melepaskan diri jika tubuh mereka menempel macam ini.


"Diam-diam Mas ini preman juga, ya?"


Diandra yang kini tahu untuk apa Gavin memanfaatkan telapak tangannya yang besar itu. Selain untuk membedah orang, rupanya dia manfaatkan untuk memukuli orang juga! Multifungsi memang.


"Ya tergantung, kalau ada yang macam- macam tentu aku maju!" Gumam Gavin tidak peduli.


Diandra tertawa, dia kembali mempererat pelukan itu, kalau begini, Diandra rasanya tidak ingin kembali ke rumah sakit. Rasanya ingin terus seperti ini. Kenapa semua yang berhubungan dengan Gavin jadi begitu candu untuk Diandra?


#########


"Makasih loh dibayarin!" Derren meletakkan gelas es tehnya setelah isinya tandas dia minum.

__ADS_1


"Sama-sama, kan kemarin Mas juga bayarin makan. Beliin coklat sama es krim" Kiki tersenyum, mengaduk gelas es teh nya.


Derren tertegun. Dia melihat senyum itu. Kenapa wajah itu makin cantik kalau tersenyum macam ini? Sikap konyol dan menyebalkan yang Kiki miliki seperti lenyap tak bersisa. Derren masih hendak menikmati wajah itu ketika ponselnya lantas berdering.


Dengan sigap Derren merogoh dan mengambil ponselnya. Wajahnya berubah serius ketika membaca nomor itu yang tertera di layar.


"Halo, gimana?" Tanya Derren serius.


Kiki menatap wajah itu dengan alis berkerut. Kenapa jadi begitu serius wajah yang biasanya slengean itu? Apa yang terjadi?


"Kebetulan udah selesai kok. Saya ke sana, Sus. Makasih!" Derren menutup teleponnya, memasukkan kembali benda itu ke saku kemeja.


"Udah dibayar, kan?" Sepasang mata elang itu menatap Kiki dengan saksama. Sebuah tatapan mengintimidasi dan penuh curiga kalau- kalau Kiki tidak membawa uangnya lagi.


"Ya udah lah! Gila aja belum dibayar, Dok!" ucap Kiki galak.


"Eh aku panggil Dokter aja deh ya? Kalau Mas kok kesannya SKSD." Ujar Kiki yang tidak enak jika memanggil Derren 'Mas' jika berada di lingkup rumah sakit.


"Panggil apa aja terserah deh. Ayo!" Derren bangkit, menatap Kiki yang malah melongo di tempatnya duduk.


"Kemana?" Tanya Kiki dengan begitu polos, hal yang lantas membuat Derren menghela napas panjang dan menarik telinga Kiki sampai memerah.


"Lepas ih! Kebiasaan banget ya suka main tangan!" Kiki menepis tangan itu dengan bibir mengerucut. Ini lelaki punya bibit psikopat apa gimana? Demen amat nyakitin Kiki! Heran!


"Kau itu! Bisa nggak sih nggak bikin aku kesal, Ki?" Derren hampir saja berteriak, namun dia masih bisa mengendalikan dirinya.


"Masalahnya, Dokter mau ajak saya kemana?" Tanya Kiki yang masih tidak paham. Waktu istirahatnya masih ada dua puluh menitan.


Derren menepuk jidatnya dengan gemas. Mengusap wajah sambil menghela napas panjang


"Ki, tadi dapat telpon dari IGD sana penuh. Jadi pikirmu, kemana aku hendak mengajakmu kalau nggak balik kesana, Ki?" Jelas Derren masih mencoba sabar.


"Loh... Tapikan..."


Derren kehilangan kesabaran, dia menarik tangan Kiki dan menyeretnya keluar dari kantin. Mengabaikan belasan pasangan mata yang menatap aksi tarik menariknya itu.

__ADS_1


"Nggak ada tapi! Kau mau jadi Dokter apa tukang tunggu kantin, heh?"


__ADS_2