Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Bertemu lagi!!!


__ADS_3

Diandra melangkah turun dari taksi online yang dia tumpangi dari rumah sakit. Dia sangat bersyukur diizinkan pulang oleh Ratna setelah dia memergoki Diandra kembali sesenggukkan menangis. Tidak hanya diizinkan pulang, Diandra


dibebastugaskan hari ini. Sungguh Diandra selalu dipertemukan residen dan senior yang begitu baik hati. Apakah efek karena dia istri Dokter spesialis di rumah sakit itu?


Entah, Diandra tidak tahu!


Diandra menghela napas panjang. Dia tidak pulang, tidak kembali ke rumah setelah dari rumah sakit. Yang dia tuju sekarang adalah toko buku! Dia perlu membeli beberapa buku, novel atau apapun itu untuk sekedar menenangkan dirinya.


Diandra melangkah masuk. Dia hampir sampai di lantai tempat di mana deretan buku berjejer di masing-masing rak ketika di depan meja besar berisi novel, nampak gadis yang begitu dia kenal tengah berdiri di sana dengan tas dalam gendongannya.


"Aliya?" Panggil Diandra dengan senyum lebar.


Gadis dengan seragam batik dan rok putih itu sontak menoleh, tersenyum lebar dengan begitu antusias melihat kedatangan Diandra.


"Kak Dian?" Dia langsung melonjak dan meraih tangan Diandra. Macam sahabat yang sudah sangat lama tidak ketemu. Nampak Aliya menatap sejenak Diandra dengan saksama. Senyumnya makin merekah ketika membaca nama dada yang terbordir di dada sebelah kiri Diandra.


"Kakak mahasiswi Kedokteran? Baru koas?" Tebak Aliya dengan wajah terkejut bukan main, Diandra hanya tersenyum, mengangguk pelan membenarkan tebakan Aliya yang masih melongo terkejut di tempatnya berdiri.


"Kenapa nggak bilang sih, Kak?" Sorot mata itu berubah cerah, membuat Diandra ikut tersenyum lebar.


"Loh, nanti dikira sombong, pamer-pamer kalau Kakak ini calon Dokter." Jawab Diandra sambil tersenyum.


Senyum Aliya mendadak lenyap, hal yang langsung membuat kening Diandra berkerut. Ada apa lagi ini? Kenapa wajah itu nampak sedih.


"Kenapa, Aliya? Ada masalah? Kok sedih gitu?" Diandra menyentuh bahu Aliya, mengguncang bahu Aliya lembut.


"Mama pengen banget aku bisa jadi Dokter kayak dia, Kak. Itulah mengapa mama selalu menekan aku supaya nilai aku selalu sempurna. Supaya aku bisa lolos jalur SNMPTN untuk masuk FK."


Senyum Diandra lenyap, jadi begitu? Dia dipaksa Mamanya masuk Kedokteran?


"Memangnya Aliya tidak ingin jadi Dokter? Kakak aja dari kecil sudah pengen jadi Dokter kayak kedua orang tua dan keluarga kakak yang lain." Gumam Diandra sambil tersenyum.


Nampak wajah itu terkejut.


"Mama sama Papa Kakak Dokter juga?"


Diandra menganggukkan kepala.


"Iya. Bahkan kedua orang tua Mama sama Papa juga Dokter. Dua kakak juga Dokter, om, tante, hampir semua Dokter."


"Astaga!" Desis gadis itu nampak takjub.


"Sekeluarga Dokter semua? Turun temurun gitu kan?"

__ADS_1


Diandra tersenyum, dia menggelengkan kepala.


"Sebenarnya kita semua dibebaskan untuk memilih jalan kita sendiri-sendiri. Mau jadi apa, mau sekolah apa. Semua bebas. Hanya saja, seiring berjalan waktu, hati kita terketuk buat ikutin jalan orang tua jadi penyelamat nyawa orang-orang."


Aliya nampak menundukkan kepala, membuat Diandra kembali menyentuh dan mengelus bahu gadis itu.


"Kenapa, Aliya?" Tanya Diandra dengan begitu lembut dan lirih.


"Aku nggak mau jadi Dokter, Kak. Trauma."


Alis Diandra berkerut.


"Trauma apa?"


"Jadi Dokter bikin waktu Mama dan Papa habis di rumah sakit. Mereka di sumpah untuk mementingkan dan mengutamakan keselamatan pasien di atas segala-galanya sampai aku dan rumah tangga yang mereka korbankan."


Diandra menghela napas panjang. Diandra tidak bisa memungkiri bahwa apa yang Aliya katakan itu ada benarnya!


"Saking sibuknya Papa di rumah sakit, bahkan kadang lupa sama tanggal penting anaknya, istrinya. Jarang punya waktu buat keluarga. Lebih sering di rumah sakit, ketemu teman-teman di rumah sakit yang ujungnya bikin Papa khilaf selingkuh."


Diandra menghela napas panjang. Dia tahu dan paham betul apa yang Aliya rasakan. Ya meskipun kedua orang tuanya tidak kebablasan macam orang tua Aliya. Tapi sebagai anak dari keluarga besar yang semuanya Dokter, tentu Diandra paham betul.


"I see, Aliya. Aku paham." Desis Diandra sambil tersenyum.


"Sama seperti Papa, Kak. Sayangnya Mama tidak begitu." Desis Aliya dengan wajah sendu.


"Mama sangat berambisi aku jadi Dokter. Entah apa alasannya, Mama tidak bilang, Kak."


Diandra tersenyum.


"Coba lain kali bicarakan dengan baik dari hati ke hati dengan Mama, Aliya. Siapa tahu Mamamu mau terbuka hatinya."


Aliya menghela napas panjang.


"Udah aku coba, hasilnya nihil, Kak."


Karina menghela napas, memaksakan diri tersenyum.


"Kita makan keluar aja gimana? Ngobrol banyak di McD mungkin atau dimana? Kamu butuh teman bicara sepertinya, Aliya."


Aliya tersenyum lebar dan mengangguk cepat.


"Gantian aku yang traktir ya, Kak? Mau, kan?"

__ADS_1


#########


Diandra keluar dari kamar mandi dan hendak menghampiri Aliya yang menunggunya di parkiran ketika sayup-sayup dia mendengar suara teriakan itu.


Alis Diandra berkerut, itu suara Aliya! Diandra dengan tergesa-gesa melangkah hendak menghampiri sosok itu dan benar saja, di bawah pohon tempat Aliya menunggu dirinya tadi, Diandra bisa lihat gadis itu tengah ditarik paksa dua orang laki-laki bertubuh tinggi dan besar. Siapa mereka?


Refleks Diandra berlari, dia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.


"KAK DIAN, TOLONG!" tampak jelas wajah itu ketakutan, matanya memerah dan dia tampak tengah meronta.


Diandra berlari mendekat.


"HEH LEPASIN NGGAK ADEK SAYA?" teriak Diandra galak, kenapa tidak ada yang berusaha. membantu mereka?


"JANGAN DEKAT-DEKAT!" salah satu lelaki itu menodongkan sepucuk pistol, membuat Diandra kini paham, kenapa banyak orang tetapi tidak ada yang berani mendekat atau bahkan sampai menolong Aliya yang nampak ditarik paksa itu.


"LEPASIN ADEK SAYA!" Diandra berdiam di tempatnya berdiri, tidak berani mendekat tetapi tetap berusaha menolong Aliya yang sudah menangis ketakutan dengan wajah pucat.


"ADEK? BOHONG! PERGI, NGGAK!" ucap lelaki yang menodongkan pistol itu ke arah Diandra dengan galak.


"MAS LEPASIN ADEK SAYA, SAYA BAKAL PERGI! MAS MAU DUIT BERAPA? BILANG SINI!" tantang Diandra tanpa rasa takut.


Lelaki itu nampak mengeram, herannya dia malah nampak ketakutan dan sedikit bimbang, Diandra bisa lihat betul wajah itu! Membuat Diandra sedikit lebih berani. Apakah hanya pistol mainan yang mereka todongkan?


"DIA BUKAN ADEKMU, KAN? UDAHLAH PERGI SANA!"


Kening Diandra berkerut, dari mana lelaki itu tahu kalau sebenarnya Diandra bukan siapa-siapanya Aliya? Diandra melangkahkan kaki mendekat, yang entah mengapa malah membuat dua lelaki itu ketakutan dan beringsut mundur.


Fix! Senjata itu cuma mainan!


Diandra makin dekat melangkah, sorot matanya berubah tajam.


"LEPASIN ADEK SAYA, MAS!" Ancam Diandra lagi.


"NGGAK! PERGI SANA!" tukas lelaki itu kasar.


Diandra sudah tidak tahan lagi, dia mendekat, menangkis tangan lelaki yang memegang kuat lengan dan tangan Aliya.


"LEPAS NGGAK?" teriak lelaki itu keras-keras.


Namun Diandra tidak peduli, dia terus berusaha melepaskan Aliya dari tangan itu. Hingga kemudian Diandra terhuyung setelah salah seorang dari mereka mendorong tubuh Diandra dengan kasar.


"KAKAK!"

__ADS_1


__ADS_2