
Kiki mencebik, dia mengambil tasnya dan melangkah lunglai menyusuri koridor rumah sakit. Harusnya dia dapat tebengan gratis sampai kos. Tetapi karena si Dokter edan itu, Kiki terpaksa harus merogoh kocek untuk membayar ongkos pulang. Benar-benar lelaki menyebalkan!
Sampai kapan dia harus seperti ini? Konsulennya semua enak untuk stase anak, semoga untuk stase yang lain pun sama. Residennya pun bisa diajak kerja sama dan tidak terlalu menonjolkan senioritas mereka. Tetapi kenapa malah Dokter definitif nya yang sangat menyebalkan dan menguras kesabaran Kiki sampai titik terakhir?
Kiki mendesah, menatap ke sekeliling. Hari sudah mulai gelap, dan Kiki sadar, dia bahkan belum order ojek online untuk mengantarkan dia pulang dari 'romusha' di bawah kendali Derren hari ini. Ponsel dengan softcase berwarna pink pastel itu sudah berada dalam genggaman Kiki, Kiki baru saja hendak membuka kunci layar ketika suara klakson mobil itu mengejutkan dirinya.
"Woy! Mau kemana, Ki?"
Kiki menoleh, mendapati kaca mobil itu terbuka dan si pemilik mobil melongok menatapnya. Kiki mendesah, mau apa lagi sih?
"Balik lah, Dok! Emang mau kemana lagi? Capek seharian romusha!" jawab Kiki tanpa tedeng aling-aling.
Harap-harap Derren sadar sudah terlalu menyiksa' Kiki hari ini, tetapi sayang, dia malah terbahak-bahak dengan begitu menyebalkan. Membuat Kiki rasanya ingin melempar ponsel dalam genggaman tangannya hingga mengenai jidat lelaki itu.
"Masuk! Aku anter sampai kos!" titah suara itu yang kembali mampu membuat Kiki melonjak terkejut.
Derren hendak mengantarkan dia pulang? Ah tidak! Lebih baik dia pulang sendiri!
"Terima kasih, tapi aku udah order ojek, Dok!" tolak Kiki berbohong. Sudah cukup dia berurusan dengan Derren hari ini! Sudah sangat cukup!
"Cancel ajalah! Ribet amat!" jawab Derren dengan begitu santai.
Kiki melotot, enak sekali mulut itu bicara? Kiki hendak kembali memberikan penolakan, ketika dengan tegas dan lugas, Derren kembali berteriak dari tempatnya duduk.
"Ayolah! Pulang sama aku atau besok aku suruh gantiin visit?" sebuah ancaman yang mampu membuat Kiki melongo seketika.
Selain somplak dan sedikit kurang waras, Derren ternyata tipe lelaki yang sedikit pemaksa! Dengan bersungut-sungut, Kiki segera membuka pintu mobil, masuk ke dalam dan memakai seat belt nya. Sementara Derren, bisa Kiki lihat dari sudut mata nampak tersenyum lebar, segera membawa mobilnya pergi dari depan gerbang rumah sakit.
"Nah gitu dong! Sok-sokan nolak." Gumamya dengan senyum di wajah yang belum mau pergi.
__ADS_1
"Udah di cancel belum? Kasian ojek online nya nanti."
Kiki mencebik. Tak tahu saja Derren kalau Kiki sebenarnya belum memesan ojek. Itu hanya sebuah alasan untuk menolak ajakan lelaki ini. Alasan yang gagal total karena sekarang Kiki duduk di jok samping Derren, bukan duduk di boncengan abang-abang ojol.
Kiki nampak pura-pura memainkan ponsel, setelah itu memasukkan ponsel itu ke dalam tas, dia kemudian menyandarkan tubuh, memejamkan mata sambil berusaha mengabaikan si pemilik mobil yang duduk di sebelahnya.
"Ki...."
Kiki menggerutu dalam hati, dengan terpaksa membuka mata dan menoleh ke arah panggilan.
"Apa lagi sih, Dok?" tanya Kiki kesal. Kenapa auranya jadi jelek sekali ketika dia berada di dekat lelaki ini?
"Galak amat sih? Lagi PMS? Cuma mau nanya kos kamu di mana, kan aku belum tahu." Derren nampak mengerucutkan bibir.
"Dan satu lagi, kalau di luar panggil 'Mas' ajalah, jangan 'Dokter', aku kalau sama orang-orang asing ngakunya banker, bukan Dokter." Jelas Derren panjang lebar.
"Hilih, kemarin aku ngaku anak seni tari aja dimarahin!" gerutu Kiki dengan lirikan mata tajam.
"Ya beda. Tujuanmu apa coba ngaku anak tari? Kenapa nggak ngaku anak Kedokteran? Aku berani taruhan kamu pasti nggak bisa nari, kan?"
Kiki mencebik, kedua tangannya dilipat di dada.
"Lah Mas sendiri ngaku banker orang-orang kenapa? Nggak bangga sama profesinya? Di luar sana banyak loh Mas, yang pengen jadi Dokter tapi nggak kesampaian!" cerocos Kiki melempar balik pertanyaan Derren. Kalau Kiki punya alasan yang kuat kenapa kemarin berbohong, lagipula hanya di depan Derren saja Kiki berbohong. Di depan orang lain? Tentu dia akan sangat bangga mengatakan bahwa dia adalah calon Dokter.
"Ya bukan gitu juga, Ki. Tahu sendiri netizen +62 kaya gimana? Ngaku Dokter, ntar pada nanya obat, padahal nggak langsung bisa kita kasih dia obat, kan? Perlu anamnesa lebih lanjut apalagi kalau ternyata masih perlu konsul spesialis atau perlu pakai prosedur lain." Suara itu sedikit melunak.
"Nggak dijawab ntar dikatain Dokter yang nggak mau rugi lah, mata duitan, nggak simpatik sama orang dan lain-lain. Kalau asal di jawab, ntar salah kasih obat kita juga bakalan kena lagi, kan? Serba susah."
Kiki tertegun. Benar juga. Dia saja yang belum lulus jadi Dokter udah sering kok berondongan chat dari saudara yang konsul dadakan. Mana via chat lagi! Mana Kiki tahu? Selain dulu ilmu Kiki belum terlalu banyak, memangnya Kiki dukun bisa menerawang dari jauh berapa vital sign mereka? Susah memang berhadapan sama orang Indonesia ini.
__ADS_1
"Ya bener juga sih" Suara Kiki ikut melunak.
"Pernah ngalamin, padahal jadi sarjana Kedokteran aja belum. Baru juga jadi mahasiswi Kedokteran. Udah pada ditanya macam-macam soal penyakit dan obatnya apa."
"Nah, itu!" Derren menjentikkan jarinya
"Ya itu alasanku."
Kiki menghela napas panjang, mengangguk pelan dan kembali menatap jalanan yang ada di depan. Belum ada beberapa menit Kiki diam dan tenang di kursinya, Derren kembali bersuara, agaknya lelaki itu tidak suka melihat Kiki tenang barang sebentar.
"Ki, ini kos mu di mana? Aku dari tadi tanya belum kau jawab." Suaranya kembali melengking dan terdengar menyebalkan.
"Astaga, itu loh The Stacy, Mas. Yang belakang Pelita dekat kampus, tau, kan?" Kiki membelalakkan mata, dia tahu betul posisinya hanya menumpang saat ini, tapi entah mengapa rasa kesalnya pada Derren sama sekali tidak berkurang.
"Ya kan tadi belum kau jawab, mana aku tahu?" ucap Derren tidak terima.
Kiki memejamkan mata, berusaha tidak menjawab dan mengabaikan lelaki di sampingnya ini. Namun baru beberapa detik, kembali Derren bersuara, membuat Kiki sampai kesal di buatnya.
"Ki....
"Apa lagi sih, Mas? Ya ampun, ada apa lagi?" rasanya Kiki ingin mencekik Derren, menyumpal mulutnya dengan benda apapun yang ada di sekelilingnya saat ini, apapun itu!
"Galak amat sih, Ki? Woles kenapa sih?"
Jika suara itu terdengar kesal, maka jangan lupa, Kiki juga sama kesalnya! dia menoleh, menatap Derren yang kebetulan juga tengah menoleh menatapnya.
"Kenapa?" tanya Kiki ketus.
"Cuma mau bilang...." Derren menghela napas panjang.
__ADS_1
"Temenin makan ya? Mau kan?"