Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Tempat biasa kan?


__ADS_3

"Dian," tampak lelaki dengan lesung pipit itu tersenyum, dia lantas meraih dompet milik Diandra berdiri tegak dan menyodorkan balik benda itu.


"Milikmu?" ujarnya santai lalu membalikkan badan dan berdiri tepat di depan kasir.


"Sekalian sama punya teman saya ini yah," desisnya yang langsung membuat Diandra terbelalak.


"Baik Kak, mau pakai pin a..."


"Mbak saya bayar sendiri saja," potong Diandra cepat.


Dia hendak menerobos ketika tangan lelaki itu menghalangi Diandra mendekati meja kasir, lelaki itu hanya tersenyum sambil menggeleng lalu kembali serius pada karyawan kafe yang nampak bingung itu.


"Pakai tanda tangan jadikan satu saja struknya," titahnya tegas yang langsung direspon sang karyawan.


"Kenapa jadi kamu yang bayar sih Bang?" Diandra mencebik, dia punya duit kok banyak malah! ya walaupun duit itu punya suaminya tetapi ini hak Diandra.


"Kenapa memang? suamimu melarang aku mentraktir istrinya? aku hanya membayar pesanan kamu nggak berniat macam-macam sama kamu," ujarnya begitu santai.


Diandra sedikit terkejut.


"Abang udah tahu kalau aku udah nikah?" tentu Diandra terkejut pasalnya Diandra sudah sangat lama sekali tidak berjumpa dan berkomunikasi dengan Derren, kira-kira ada tiga tahunan semenjak dia lulus SMA.


"Drian yang kasih tahu, katanya kamu nikah sama dosen kamu sendiri," jelasnya sambil tersenyum.


Diandra sontak nyengir lebar, tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal, rupanya Derren masih sering berkomunikasi dengan abangnya itu, ya mau bagaimana lagi mereka kan sohib sejak SMA.


"Ya begitulah Bang!" jawab Diandra pasrah, dia memang sudah menikah dan apa yang Derren katakan tadi ada benarnya.


"Silahkan Kak,"


Derren menoleh menerima struk pembayaran dan menyunggingkan senyum pada karyawan itu, pandangannya lantas teralih pada Diandra.

__ADS_1


"Mau duduk di mana?" tanya Derren.


Tentu Diandra melonjak kaget, dia menatap Derren dengan mata membulat, jangan bilang kalau Derren hendak mengajaknya duduk satu meja, bisa ngamuk Gavin nanti kalau tahu Diandra duduk berduaan dengan lelaki lain di saat dia sedang bekerja keras di dalam OK sana, tapi pesanan Diandra semua Derren yang membayar rasanya tidak enak juga kalau menolak tawaran lelaki itu, mereka hanya duduk saja kan?


"Di sana mungkin," tunjuk Diandra pada sofa paling ujung yang kosong.


Derren mengangguk l, dia melangkah lebih dulu diikuti Diandra yang nampak takut-takut mengikuti langkah tegapnya, Diandra mengedarkan pandangan ke sekeliling beberapa Dokter dan petinggi rumah sakit kemarin masuk dalam daftar tamu undangan di pernikahan Gavin dan Diandra, tentu mereka akan bertanya-tanya kenapa istri dari Gavin duduk berduaan dengan lelaki lain bukan?


Ah! Diandra menyesal setengah mati sudah datang ke kafe ini, sekarang rasanya dia ingin kabur saja dan menunggu Gavin di depan OK.


"Duduk Dian," titah Derren sambil tersenyum, Diandra mengangguk dengan kikuk menjatuhkan diri di sofa yang ada di hadapan Derren.


"By the way Bang Derren kok di sini bukannya kata Bang Drian Abang dulu internship dan langsung kerja di Sumatera yah?" tanya Diandra yang jujur sangat tidak nyaman dengan situasi saat ini.


"Iya memang cuma sekarang jadi DU di sini baru aja kemarin mulai," jawabnya sambil tersenyum.


"Pengen cari pengalaman dan suasana baru aja," ucap Derren lagi.


Diandra mendadak sakit kepala, harusnya dia sadar karena dilihat dari pakaian Derren, dia nampak sama Dokter lain yang bekerja di sini tapi kenapa harus di sini?


Ah Diandra lupa.


Paman dari Derren adalah tidak lain dan tidak bukan Dokter senior rumah sakit ini, tentu mudah bukan dia bisa bekerja di sini kalau dia punya koneksi orang dalam, mana Dokter senior itu masuk salah satu Dokter yang berpengaruh di rumah sakit ini.


"Dian," ucap Derren.


Panggilan itu begitu halus dan lirih tapi mampu membuat Diandra terkejut dan hampir melonjak bukan karena panggilan itu tetapi karena Diandra sadar apa arti panggilan itu.


Dia menatap Derren yang menatapnya dalam-dalam sebuah tatapan yang membuat Diandra merasa ingin lenyap dari tempat ini, saat ini juga!


"Kamu sukanya sama spesialis yah, Dian? kenapa nggak bilang, kenapa kamu nggak mau nungguin abang, Dian?"

__ADS_1


########


"Vin, nggak ikut nih?" Dimas mengejar langkah Gavin yang nampak terburu-buru keluar dari OK, dia begitu penasaran kenapa Gavin begitu terburu-buru.


Gavin menoleh, snelli putih miliknya di bawa di lengan kanan sementara di bahu kiri bertengger tas ransel kesayangan, matanya menatap Dimas dengan seksama.


"Mau ke mana sih?" tanya Gavin penasaran.


"Aku sama anak-anak mau mampir billiard nih, yakin nggak ikutan?" tanya Dimas.


Gavin tersenyum, kepalanya menggeleng perlahan sebuah hal yang membuat Dimas mencebik dan berubah manyun.


"Kau itu mentang-mentang sekarang udah nikah jadi nggak mau ikut kumpul lagi," protesnya dengan bibir manyun.


"Udah ada yang disodok di rumah jadi nggak mau lagi ikut nyodok bola?" ucap Dimas lagi.


Tawa Gavin kontan pecah, benar sih yang Dimas katakan barusan, tentu kalau disuruh milih mau nyodok bola billiard atau Diandra, pilihan Gavin jatuh pada Diandra, kecuali kalau Diandra sedang kedatangan tamu, mungkin bisa Gavin pertimbangkan lagi dengan main billiard itu.


"Ya, kamu tahu itu lah, kamu lebih pengalaman dari aku kan?" alis Gavin terangkat disusul tangan kanannya lalu membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa banyak bicara lagi.


Senyumnya merekah, dia begitu semangat ingin sampai di rumah bermanja-manja dengan Diandra di atas tempat tidur, agaknya sangat bisa untuk menguraikan ketegangan otot dan saraf yang sejak tadi menyiksa Gavin dengan begitu luar biasa.


Terlebih jangan lupakan sakit kepala yang ditimbulkan Diandra atas penolakan yang dia lancarkan tadi, Gavin terus melangkah menyusuri koridor rumah sakit dia sengaja tidak memberitahu Diandra kalau dia sudah selesai segala macam urusannya di dalam OK, sengaja ingin mengejutkan sang istri dan segera membawanya pulang.


Tidak perlu dijelaskan lagi apa yang ingin dilakukan pada istri mungilnya saat sudah sampai di rumah nanti, Gavin terus melangkah dia sudah hampir sampai ketika dari tempatnya berdiri dia sudah bisa melihat sosok yang dia cari.


Sosok yang tadi membuatnya begitu semangat hendak pulang ke rumah, sosok yang menghentikan langkah Gavin seketika karena terkejut dengan apa yang ditangkap oleh matanya.


"Dia..." Gavin sangat asing dengan wajah itu, tetapi dari pakaiannya menunjukkan bahwa dia merupakan bagian dari tenaga kesehatan di rumah sakit ini, tapi siapa? dan Diandra... Diandra kenal dengan lelaki itu? di mana? apakah sudah kenal lama atau?


Gavin menghela nafas panjang, dia merogoh ponselnya menghubungi seseorang dan segera melangkah pergi dari sana.

__ADS_1


"Dim, udah berangkat belum? tempat biasa kan? aku ikut kalian deh," ucap Gavin.


__ADS_2