Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Kalau aku nggak mau lepas gimana?


__ADS_3

"Sekali lagi makasih banyak yah Kak," Desis Aliya seraya melepaskan seat belt nya.


Diandra tersenyum dan mengangguk, dia mengantarkan Aliya sesuai dengan permintaan gadis itu, kembali ke depan gerbang sekolahnya, sekolah negeri nomor satu dan terkenal paling bagus satu kota.


"Jangan sungkan hubungi Kakak nanti yah, rajin-rajin sekolahnya jangan kebanyakan bolos," nasehat Diandra sambil melambaikan tangan.


Aliya mengganggu pelan, ikut melambaikan tangan sebelum dia kemudian pergi ke belakang halte untuk menghindari security yang nampak tengah duduk di dalam pos yang ada di sebelah gerbang sekolah.


Diandra hanya menghela nafas panjang, mendadak dia begitu kasihan dengan bocah itu, dua tahun dan sudah dipaksa masuk SMA, tentu kalau tidak datang dari keinginan dia sendiri rasanya akan sangat berat bukan? terlebih kelas akselerasi itu artinya tidak hanya pelajarannya yang lebih sulit karena belajar materi yang lebih tinggi dari kapasitas anak usianya tetapi juga teman-temannya pun juga.


Ah... semoga gadis itu selalu kuat menghadapi ibunya yang ambisius dan diktator macam itu.


Diandra hendak membawa mobilnya pergi ketika ingat sejak tadi dia mengabaikan ponselnya, pasti om-om kesayangan Diandra itu sibuk mencari tahu kondisi dan keberadaan dirinya, dasar super posesif! Diandra merogoh ponsel tersenyum mendapati banyak pesan yang berasal dari nomor sang suami.


'Suamiku tercinta'


"Dasar om-om posesif!" desis Diandra dengan tawa lepas.


( Dian baik-baik saja kan? jangan lupa makan siang sayang, Mas sayang kamu )


( Habis ini Mas Masuk OK sampai sore sebelum nanti jam pulang, kamu langsung pulang yah? jangan kemana-mana, udah sore! )


Tawa Diandra pecah, keterlaluan! memang dia bocil lima tahun yang tiap sore di teriaki emaknya suruh balik dari main, benar-benar suami Diandra ini luar biasa sekali, Diandra segera membalas pesan-pesan itu, mendadak dia jadi punya ide bagaimana kalau mampir ke rumah sakit membawakan suaminya makanan? makan sama-sama di sana agaknya cukup romantis, sebelum nanti Diandra masuk koas dan mereka sibuk dengan urusan masing-masing meskipun berada di satu lingkup yang sama.


Diandra kembali membawa mobilnya melaju memikirkan makanan apa yang akan dia bawa ke sana untuk dia nikmati bersama sang suami hingga semua bayangan makanan dan nama restoran itu muncul di kepalanya.


##########


Gavin berusaha fokus sejak tadi keringatnya terus mengucur ada satu operasi mayor dan dua operasi minor yang harus dia bereskan hari ini, tidak terlalu berat kasusnya Gavin sudah sering berhadapan dengan kasus ini sepanjang karirnya sebagai seorang surgeon, tapi yang membuat operasi kali ini begitu berat adalah fokus Gavin terpecah memikirkan sang istri.

__ADS_1


Diandra begitu luar biasa menyihirnya hingga kini dia begitu dalam tenggelam dalam pesona dan cinta untuk gadis yang dulu sangat menyebalkan sekali di mata Gavin.


Gavin beberapa kali tersenyum membayangkan bagaimana dia dan sang istri dulu macam Tom and Jerry tidak pernah bisa akur beruntung surgical mask ini menutupi mulutnya kalau tidak para koas, residen dan asisten yang bergabung pada operasi kali ini akan menganggapnya gila karena sejak tadi terus senyum-senyum sendiri.


"Done yah? selesaikan," perintah Gavin lantas mengangkat tangannya tinggi-tinggi, semua sudah selesai tinggal membereskan sisa-sisa pertempuran Gavin saja.


Dia pergi meninggalkan meja operasi melepaskan handscoon berlumuran darah itu dan melemparkannya ke tempat sampah, istirahat beberapa menit lalu kembali harus berperang di meja operasi.


Melelahkan?


Tidak! Gavin enjoy menjalani semua ini bukankah ini cita-cita Gavin? hal yang dulu bertahun-tahun lamanya Gavin perjuangkan di bangku kuliah.


Gavin melepas gown, melemparkan gown itu ke tempatnya dan mencuci tangan bersih-bersih, setelah beres dia menjatuhkan diri di kursi mengusap wajahnya dengan tangan sambil menghela nafas panjang.


Matanya melirik jam, apakah istrinya sudah menjawab pesan-pesan yang Gavin kirimkan? ke mana Diandra sebenarnya? dia pamit ke toko buku kan? bikin Gavin khawatir saja!


Gavin bangkit menuju loker guna mengambil ponselnya, wajah masamnya berubah cerah ketika pesan-pesan itu sudah terbalas, Gavin baru saja hendak membalas pesan itu ketika suara ketukan pintu mengejutkan Gavin.


Nampak gadis dengan setelan scrub berwarna hijau itu masuk, menundukkan kepala sebagai wujud hormat, wajah yang masih tertutup masker itu terangkat menatap Gavin dengan seksama.


"Lapor Dok, operasi untuk pasien atas nama Jelita dipending karena ada cito mendadak, ruang lain masih dipakai jadi untuk Jelita ditunda sampai Dokter Raka selesai,"


Gavin menghela nafas panjang, kasus obgyn memang tidak boleh diremehkan, terlebih ini cito, untung saja Jelita dalam kondisi stabil dan kasusnya tidak begitu parah, bisalah ditunda sampai obgyn itu selesai berperang.


"Baiklah kalau gitu saya izin makan dulu, hubungi saya kalau udah beres yah?" ucap Gavin.


"Baik Dokter,"


Gavin menatap kepergian sosok itu dia segera bangkit dan menukar sandal, ngopi sebentar tidak ada salahnya bukan? dia masih harus berperang setelah ini dan kekhawatiran yang berlebihan pada Diandra membuat Gavin sedikit pusing.

__ADS_1


Gavin melangkah hendak keluar dari OK, mendorong pintu dengan siku dan tertegun menatap sosok itu sudah duduk di kursi yang ada di depan OK dengan senyum manis.


"Pak Dokter sudah selesai?"


#########


"Jadi ya sesuai permintaan tadi, aku antar dia balik ke sekolahan dia," jelas suara itu dengan begitu ringan dan riang.


Gavin tersenyum, satu tangan yang melingkar di pinggang Diandra membawa Diandra menuju ruang praktek Gavin, siapa sangka orang yang sejak tadi begitu Gavin khawatirkan kini muncul dan membawakan makanan untuknya? tidak hanya membuat hati Gavin lega luar biasa tetapi juga membuat Gavin begitu bahagia dengan kehadiran Diandra di tengah-tengah jadwal yang cukup padat dan melelahkan.


"Nggak kamu ajarin macam-macam kan sayang?" Gavin mendorong pintu, menahan pintu dan membiarkan istrinya masuk lebih dulu.


"Oh tentu," Diandra membalikkan badan menatap suaminya dengan tatapan genit dan senyum menggoda.


"Ku ajari dia cara bagaimana menyenangkan om-om," jawabnya yang sontak membuat Gavin membelalak.


Tanpa banyak bicara Gavin langsung memeluk tubuh itu dan mendekapnya erat-erat, membuat Diandra terkejut dan mencoba memberontak melepaskan diri.


"Apa kamu bilang?" tanya Gavin gemas.


"Ini di rumah sakit Mas, lepas ih, enggak etis!" Diandra berusaha melepaskan pelukan itu, sayang sekali tenaga om-om ini lebih kuat dari tenaganya.


"Nggak ada alasan, coba jelaskan tadi kamu bilang apa?" Gavin bergeming, mempererat dekapannya sambil menyapukan nafasnya di leher dan tengkuk Diandra.


Diandra meremang, bulu kuduknya berdiri efek hembusan nafas yang menyapa lehernya dengan begitu lembut dan hangat agaknya Diandra salah sudah menggoda Gavin di tempat ini.


"Nggak sayang! please lepas! bercanda doang tadi," Diandra berkelit apapun itu dengan cara apapun dia harus melepaskan dirinya.


"Kalau aku nggak mau lepas gimana?" tantang Gavin dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Kalau om-om ini ingin kamu bikin senang, kamu nggak keberatan kan?" ucap Gavin lagi.


__ADS_2