
"Cari siapa?" bisik Gavin ketika Diandra nampak celingak-celinguk sejak tadi.
Mereka kini kembali duduk bersanding di pelaminan sudah lengkap dengan kebaya dan riasan, bahkan sejak tiba di kediaman Gavin, Diandra yang sudah bersanggul lengkap dengan aksesoris dan kembang tibo dodo pun menoleh membalas berbisik dengan begitu lirih.
"Mana itu mantan calon istrimu Dok?" tanya Diandra.
Ketawa Gavin hampir saja pecah kalau dia tidak ingat tengah ada banyak orang yang hadir di acara mereka, kenapa Diandra nampak bernafsu sekali ingin tahu si Tati? kenapa?
Kini Gavin mengedarkan pandangan, setelah beberapa menit meneliti dia pun menemukan gadis itu duduk di salah satu kursi paling depan dengan dress batik warna soga.
"Ke arah jam dua, pakai dress batik warna soga, rambutnya hitam lurus," bisik Gavin memberi kode.
Segera Diandra memandang ke arah kode yang Gavin berikan, matanya membulat, mulutnya setengah terbuka menatap gadis yang sesuai dengan ciri-ciri yang Gavin bisikan tadi, jadi itu orangnya?
Kalau saja mereka tidak sedang duduk di pelaminan pasti Diandra sudah tertawa terbahak-bahak, sekencang-kencangnya, jadi gadis itu yang hendak dinikahkan dengan Gavin kalau Gavin gagal membawakan calon menantu untuk ibunya, kenapa Mira kejam sekali hendak menikahkan anaknya dengan gadis model seperti itu?
"Dokter,, se.. serius itu?" ucap Diandra.
#########
Diandra tahu sejak tadi sorot mata itu nampak sangat tidak bersahabat melirik ke arahnya, namun apa peduli Diandra, memangnya siapa gadis itu? sebodoh amat dia anak Pak Kadus, dia tidak punya urusan!
"Mas Gavin," panggil suara itu sedikit manja membuat Diandra membelalak kesal dengan tatapan shock.
Tidak tahu malu, istrinya berdiri di sebelahnya, eh gadis itu tanpa malu sok-sokan manja macam itu!
"Iya Tati, kenapa?" ucap Gavin.
Rasanya Diandra ingin misuh-misuh, kenapa juga Gavin pakai menanggapi, pura-pura budek aja kenapa sih? lagian kenapa pula dia ikut naik ke pelaminan? mau salaman atau mau modus?
"Minta foto berdua dong Mas buat kenang-kenangan," rengek gadis itu manja dengan bibir dibuat-buat manyun.
What?
Foto berdua?
Tidak bisa dibiarkan!
__ADS_1
"Eh yau..."
"NO!" teriak Diandra keras, bodoh amat mereka masih di atas pelaminan, Diandra tidak akan biarkan ini terjadi.
"Nggak ada yah foto cuma berdua, masa iya datang ke nikahan cuma minta foto sama mempelai pria, nggak boleh!" tegas Diandra sambil memanyunkan bibir membalas tatapan mata kesal yang disorotkan padanya.
"Bolehlah! suka-suka aku dong!" balas Tati tidak terima.
"Nggak ada! ini suami, suami siapa? heh?" tentu ini senjata Diandra, mereka punya buku nikah kok bukti otentik kepemilikan atas lelaki yang menjadi sengketa hari ini.
"Jadi kalau mau foto bertiga kalau perlu Bapak sama Ibu ikutan, kalau cuma berdua aku nggak izin!" tegas Diandra lalu menarik tangan Gavin, mengamitnya sambil melirik tajam ke arah Tati.
"Pelit amat sih!" Tati masih belum bisa terima.
"Aku cuma mau minta foto," dia kekeuh ingin berfoto berdua dengan Gavin.
"Biarin! mau apa kamu? heh?" kembali Diandra melotot membuat Gavin mendesah panjang sambil geleng-geleng kepala.
"Ngeselin banget sih, ka..."
"STOP!" Gavin akhirnya buka suara, untung sebagian tamu sudah pulang jadi mereka tidak perlu melihat keributan yang terjadi ini.
"Iya Om," anak yang berusia kira-kira sepuluh tahun itu pun maju mengambil ponsel yang Tati sodorkan dengan mulut manyun.
Tati segera memposisikan diri, berdiri di sebelah Gavin dan mengamit tangan Gavin membuat Diandra membelalakkan mata dan menimpuk tangan itu keras-keras.
"Aduh apaan sih," pekik Tati sedikit keras, matanya melotot menatap Diandra dengan tatapan tidak suka.
"Kamu yang apaan? ngapain pegang-pegang?" balas Diandra tidak kalah keras.
Gavin mendesah panjang, menepuk jidat sambil geleng-geleng kepala. Ini kenapa sih? tidak dia sangka pertemuan mereka akan jadi sepanas ini.
"Pegang doang Bu! pelit amat sih, ya ampun!" Tati berkacak pinggang, nampak gadis itu menatap Diandra dengan tatapan sengit.
"Nggak ada ya pegang-pegang," Diandra tidak mau kalah.
Tati menarik paksa satu tangan Gavin membuat Diandra kembali menimpuk keras tangan itu, lalu merebut tangan Gavin darinya, dengan susah payah Diandra menarik Gavin turun dari pelaminan, menyeret Gavin pergi dari sana tidak peduli tatapan geli dari beberapa sanak saudara yang masih ada di lokasi.
__ADS_1
"Eh aku belum foto ya," teriak Tati tidak terima.
"Bodoh amat, foto aja sendiri di sana," Diandra balas berteriak menoleh dan menjulurkan lidah pada Tati yang nampak mencak-mencak itu.
Sungguh Gavin ingin tertawa terbahak-bahak sebenarnya, tapi dia sadar jika benar dia lakukan itu maka Diandra mungkin ngambek dan berujung mengamuk, jadi Gavin pun hanya pasrah, menahan tawa sambil membiarkan Diandra menariknya masuk ke dalam rumah.
Kenapa rasanya begitu bahagia, kenapa kuncup-kuncup itu makin bermekaran di dalam hatinya.
#############
"Kesal aku, kesal!!!" Diandra nampak begitu gemas, melepaskan sepatunya sambil menghentakkan kaki di lantai.
Gavin menutup pintu kamar dengan senyum yang masih merekah di wajahnya, ditatapnya Diandra yang kini duduk di tepi ranjang kamar cemberut dan bibir mengerucut.
Gavin duduk di samping sang istri menghela nafas panjang, lalu meraih dagu Diandra dan memaksa Diandra menatap ke arahnya.
"Kenapa sih? kenapa lagi?" tanya Gavin sabar, tangannya mengelus dagu itu, bisa Gavin lihat mata Diandra memerah menahan tangis.
"Dia tuh ngeselin banget, rese pol," jawab Diandra dengan bibir manyun.
Gavin terkekeh, melepaskan dagu itu lantas menghela nafas panjang, Gavin sangat suka melihat wajah cemberut itu, kenapa wajah itu seperti menerbangkan Gavin hingga begitu tinggi?
"Kan udah bilang tadi kalau dia agak lebay," Gavin sudah memberitahu sejak awal kan, jadi bukan salah Gavin kan kali ini?
"Tapi yang nggak gitu juga Dok," Diandra mencebik, mata memerah itu kini berkaca-kaca, hal yang dimanfaatkan Gavin dengan merentangkan dua tangan.
Diandra menepis tangan itu, namun sedetik kemudian dia menjatuhkan dirinya dalam pelukan Gavin, membuat Gavin agak terkejut karena beberapa aksesoris rambut itu menusuk dada dan lehernya, bisa Gavin dengar Diandra terisak, cuma begitu saja pakai nangis? luar biasa!!!
Kuncup di hati Gavin makin bermekaran hampir mekar sempurna, dia lantas memeluk tubuh itu dan mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Kenapa jadi nangis?" tanya Gavin dengan begitu lembut, dia harus memastikan menthul yang berjumlah tujuh buah yang menghiasi kepala Diandra tidak menusuk wajah atau matanya.
"Nggak suka sama dia, Dok," jawab Diandra sambil terisak.
"Kenapa nggak suka?" Gavin mengulum senyum.
"Cemburukah Diandra? ada alasannya kan?
__ADS_1
Diandra melepaskan pelukan itu, nampak air mata membasahi pipinya yang memerah dan berkilau efek blush on dan highlighter, bibirnya masih mencebik menandakan suasana hati Diandra yang sedang tidak baik.
"Ya karena dia suka sama Dokter makanya saya nggak suka," ucap Diandra.