Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Dermaga cinta yang tak bertepi...


__ADS_3

Diandra tersentak ketika lengan kekar itu memeluk perutnya, bisa Diandra rasakan hembusan napas itu begitu lembut dan teratur menyapa leher dan belakang telinga. Hal yang lantas membuat Diandra membuka matanya dan terjaga dari tidur.


"Kebiasaan!" Gumam Diandra lirih sambil tersenyum.


Wajah itu begitu tenang dan nyaman terlelap. Wajah yang nampak begitu polos seperti bayi. Kemana wajah garang dengan mata tajam yang selama ini melekat sempurna di diri Gavin? Semua lenyap tidak bersisa ketika dia tidur memeluk Diandra dengan begitu posesif dan manja seperti ini.


Diandra merasakan perutnya perih. Matanya lantas menyusuri tembok guna mencari jam, dia ingin tahu sudah pukul berapa sekarang.


"Astaga! Jam sepuluh malam?" Diandra memekik, itu artinya dia tidur sudah cukup lama setelah pulang dari rumah sakit tadi!


Diandra berusaha melepaskan tangan yang memeluk perutnya itu, namun Gavin benar-benar begitu posesif. Dia tidak mau melepaskan Diandra, malah pelukan itu semakin erat dan membuat Diandra meringis kesakitan.


"Mas! Lepas ih!" Di guncangnya lengan itu, berharap Gavin mau membuka mata atau setidaknya melepaskan pelukannya.


Sedetik, dua detik, tidak ada respon. Membuat Diandra kembali mengguncang lengan kekar sang suami.


"Mas! Aku lapar!" Desis Diandra kemudian.


Ajaibnya tangan itu bereaksi. Pelukannya mengendur bahkan terlepas. Nampak Gavin merubah posisi dari yang miring memeluk Diandra dari belakang jadi terlentang. Diandra bangkit, duduk sambil mengikat rambutnya. Sedetik kemudian Diandra dikejutkan dengan sebuah kalimat pertanyaan yang meluncur dari mulut Gavin.


"Lapar? Pengen makan apa?"


Diandra menoleh. Wajah yang tadi begitu nyenyak dan damai tertidur itu kini sudah terjaga dan menatap ke arahnya dengan serius.


"Kok bangun?" Bukannya menjawab, Diandra malah balik bertanya, sebuah kebiasaan yang agaknya sulit dirubah dari dalam diri Diandra.


"Pengen nemenin istri makan, kenapa?" Gavin bangkit, duduk di sebelah Diandra yang nampak masih menatapnya serius.

__ADS_1


"Mas belum makan dari pulang kerja tadi?" Diandra memekik, matanya membulat menatap sang suami.


Sudah cukup malam! Pasti dia lapar juga. kan? Atau dia sudah lebih dulu makan tadi? Harap Diandra sih begitu, Gavin punya maag dan dia tidak boleh telat makan!


"Mas udah makan tadi, Sayang. Sekarang giliran kamu, kamu mau makan apa, Sayang?" Gavin tersenyum, mengelus pipi Diandra dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Diandra tersenyum, bukannya menjawab dia malah menjatuhkan diri dalam pelukan Gavin. Sebuah hal yang sangat Diandra sukai bagaimana tubuh besar dan kekar Gavin terasa begitu hangat dan nyaman untuk dirinya. Terdengar tawa lirih dari Gavin, tangan itu lantas melakukan hal yang Diandra sukai, mengelus puncak kepala selagi memeluk tubuh Diandra erat-erat.


"Nggak jawab nih? Pilih makan apa aku makan, Sayang?" Goda Gavin lirih, sebuah pertanyaan yang lantas membuat Diandra melompat melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Nggak usah modus, oke?" Diandra mencebik, pura-pura memasang wajah galak dengan tangan berkacak pinggang.


"Pilih aku modusin kamu, apa modusin mahasiswi ku?" Alis Gavin terangkat, dengan senyum menggoda yang langsung membuat Diandra melotot tajam.


"APA?" Diandra berteriak.


Gavin sontak garuk-garuk kepala.


"Ya kan aku kasih pilihan, Sayang? Mau yang mana? Pasrah aku modusin atau aku modusin orang lain?" Kembali ancaman itu yang Gavin lontarkan, membuat tangan Diandra terulur mencubit gemas perut sang suami.


"Apa? Ha? Mau macam-macam? Mau aku jadiin objek praktek sirkumsisi? Heh?" Desis Diandra balik mengancam dengan mata melotot.


"Eh" Kini Gavin yang berteriak.


"Apa yang mau kamu sayat dan buang, Sayang? Punyaku udah bersih!" Mendadak Gavin bergidik ngeri.


Sirkumsisi? Kalian tau apa itu sirkumsisi? Orang awam menyebutnya sunat atau khitan! Gavin sudah menjalani prosedur frenektomi sejak SD! Dan Diandra hendak kembali melakukan hal itu padanya? Apa lagi yang mau Diandra potong darinya?

__ADS_1


"Biar habis sekalian! Biar nggak lagi macam-macam!" Diandra masih melotot tajam, tidak peduli dengan wajah masam yang Gavin tampilkan.


Gavin lantas tersenyum, menarik tangan Diandra, merebahkan tubuh itu di atas ranjang. Tidak perlu waktu lama, Gavin sudah mengunci tubuh mungil sang istri di bawah kungkungan tubuhnya. Wajah mereka bahkan sudah sangat dekat, ujung hidung mereka sudah saling bersentuhan. Berbagi napas yang menyapa masing masing permukaan kulit.


"Yakin mau dipotong semua? Kamu nggak kangen nanti?" Bisik Gavin begitu sensual dan lirih.


"A... aku" Gavin menggeleng, tanpa meminta izin terlebih dahulu, Gavin meraih bibir merona sang istri. Memangutnya dengan begitu lembut, begitu posesif dan begitu panas!


Diandra merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ini bukan kali pertama mereka melakukan hal ini. Sudah sangat sering sekali, bahkan sampai Diandra lupa menghitungnya! Tapi kenapa tiap bibir mereka bertaut macam ini, Jantung Diandra selalu berdetak kencang?


Ciuman itu tidak hanya membuat jantung Diandra berdetak kencang, tetapi juga menjalarkan rasa panas hampir ke seluruh tubuhnya. Membuat Diandra terbakar dan membalas serangan itu dengan sama posesifnya dengan yang Gavin lakukan.


Gavin melepaskan pangutan mereka setelah cukup lama bibir mereka beradu. Menatap dalam ke mata Diandra yang sudah nampak berkabut itu.


"Masih bisa ditahan nggak laparnya, Sayang? Mas udah nggak tahan pengen makan kamu! Mas lapar. Sayang!"


Diandra tersenyum, wajah dan bibirnya memerah, dia lantas mengangguk pelan, mengalungkan kedua tangan di leher Gavin, menekan kepala Gavin agar lebih dekat dengan wajahnya.


Kembali bibir mereka beradu. Rasa lapar yang tadi menyiksa Diandra mendadak lenyap tak bersisa. Berganti sebuah hasrat dan gelora yang memperdaya nya dengan begitu luar biasa.


Diandra menginginkan Gavin. Dia ingin diri suaminya menyatu ke dalam dirinya. Membawanya mengarungi riak-riak nikmat itu hingga titik terakhir, Diandra membiarkan apa saja yang tangan Gavin lakukan, dia fokus memperdalam ciumannya, menikmati bibir yang dulu begitu pedas ketika beradu argumen dengan dirinya. Siapa sangka bibir pedas nan pahit itu bisa begitu manis dan begitu menggairahkan seperti ini?


Diandra melepaskan bibir mereka, bukan karena apa-apa, dia hampir kehabisan napas. Membuat Diandra menyerah dan ingin rehat barang sebentar. Namun bukan Gavin kalau dia hanya berdiam diri. Bibir itu menyusuri sisi lain dari tubuh Diandra. Menyesap bagian lain dengan begitu lembut dan hati-hati. Sebuah tindakan yang membuat lenguhan dan desah sensual favoritnya keluar menyapa dan makin membakarnya dengan luar biasa.


Gavin tidak sanggup lagi! Dia segera melakukan apa yang dia mau. Menyentuh dan membenamkan dirinya ke dalam tubuh Diandra dengan begitu lembut dan hati-hati.


Diandra mencengkeram kuat lengan Gavin, pasrah dengan kepemimpinan Gavin yang tidak akan pernah bisa dia bantah dan tolak sampai kapan pun. Tidak perlu waktu lama, mereka sudah hanyut, larut dalam riak-riak gelombang itu dan bersiap berlabuh di dermaga cinta yang tak bertepi.

__ADS_1


__ADS_2