
Aisyah sibuk bermain air di pinggir pantai bersama Rara, sedang kan ke tiga laki laki, sedang sibuk mendirikan tenda.
"Aduhhhh... Ra, gue pengen pipis" keluh Aisyah.
"Ya sudah yuk... kita cari toilet umum" ajak Rara.
"Ntar dulu, gue bilang ke laki gue dulu"
Rara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Aisyah, perkara ke toilet saja harus laporan dulu.
"Yuk... Ra"
Ternyata toiletnya tidak jauh dari tempat mereka mendirikan tenda, Rido sudah mengatur semuanya, demi kenyamanan istri dan teman temannya.
Bruk...
Aiss.....
Tidak sengaja seseorang menabrak Aisyah.
"Maaf... saya tidak sengaja"
Deg....
Orang yang menabrak Aisyah meminta maaf, setelah itu wajahnya berubah pias.
__ADS_1
"Tidak apa apa" ucap Aisyah dengan senyum manisnya, lalu berlalu dari sana.
Namun tidak dengan orang yang menabrak
Aisyah, dia masih terpaku di sana.
"Dia... mirip sekali dengan Mira" gumam orang itu.
Aisyah keluar dari toilet dan kembali ketenda, menghampiri sang suami.
"Makan hmm.." tanya Rido sambil memeluk tubuh Aisyah dari samping.
"Hmm... ikan bakar enak kali ya kak" tunjuk Aisyah ke kedai ikan bakar di pinggir pantai.
"Ya sudah ayo kita makan dulu."
"Sahabat gue emang pengertian banget dah.." kekeh Tio.
"Ya sudah kita pesan, trus bawa ke sini" putus Rido, Aisyah dan Rido pergi memesan makana di kedai itu, tidak lupa juga mereka memesan kelapa muda.
Sementara teman temanya mulai menata tikar dan menarik minuman, snack dan buah buahan di tengah tengah tikar itu.
"Gue ngak nyangka bakal berteman sama Rido, dan kita bisa kuliah bareng, bahkan bisa di bilang kita kuliah dia yang bayarin" Tio.
"Hmm... benar kata loe, bahkan kita di gaji, dan kita tinggal di rumah mereka gratis dan makan juga gratis, klau di pikir pikir anak buah mana ada makan satu meja sama boss, hanya kita orangnya, kemana dia kita intilin terus, ngak pernah kita di tinggal sama mereka" ucap Edo.
__ADS_1
"Iya.. benar, semenjak orang tua gue bercerai, saat kita di kls 10, gue terpuruk dan hanya Aisyah satu satunya ngertiin gue, tanpa Aisyah gue ngak tau hidup gue kayak apa, saat Rido menawarkan kuliah di sini, gue benar benar senang banget, gue kira gue akan sendiri di sana" keluh Rara.
"Gue berjanji pada diri gue sendiri akan berada di sisi Rido dan Aisyah selamanya, seperti apa pun keadaannya gue ngak akan meninggalkan mereka" ucap Tio.
Bukan tanpa sebab Tio berkata seperti itu, dari dulu saat masih sekolah Rido sering memberi uang untuk Tio dan adik adiknya, tanpa sepengetahuan teman temannya.
"Gue juga akan selalu berada di sisi mereka" ucap Ganen.
"Hayoo.... lagi ngomongin apa kalian!!" teriak Aisyah mengagetkan teman temannya.
"Astagfirullah... Aisyah... loe mau bikin kita mati muda, tega amat loe, kita kan juga pengen ngerasain surga dunia!" omel Tio.
"Lebay loe...!" omel Rara.
Mereka tidak tau kalau dari tadi ada seseorang memperhatikan mereka, tepatnya Aisyah yang jadi perhatian mereka.
"Ica senang..." tanya Rido mereka sedang melihat matahari terbenam di bibir pantai itu.
"Senang banget lah... bukan karena tempatnya, tapi karena ada kakaknya" kekeh Aisyah.
"Istri kakak sekarang sudah pintar menggombal ya...?!" Rido menghujani Pipi aisyah dengan ciuman gemas.
"Bukan gombal kakak sayang... ini tu beneran, Aisyah di ajak kemana pun sama kakak akan selalu senang, Ica ngak perduli itu dimana, karena bersama kakak Ica merasa aman" jujur Aisyah.
Rido semakin mengeratkan pelukannya di perut sang istri.
__ADS_1
Rido pun sama, baginya dimana pun berada asal ada sang istri itu tidak masalah, istrinya segalanya buat Rido.
Bersambung....