
"Assalamualaikum... istri ku" salam Pak Bambang di atas pusarang sang istri, di pusara Bu Intan, mamanya Rido, dia datang berziarah kemakam sang istri.
Semenjak istrinya meninggal, baru ini kali ke dua dia datang berkunjung kesana ke makam sang istri.
"Maaf kan suami mu ini sayang, aku yang tidak becus menjadi seorang suami, yang tega menelantarkan istri dan anak kandung ku sendiri, gara gara kelakuan ku kamu jadi menderita, dan memilih meninggalkan aku dan Rido"
"Maaf sudah membuat kamu menderita sesama hidup kamu, maaf mas yang baru bisa me ungkapkan perasaan mas sama kamu, di pusara mu ini mas ingin mengunggkapkan rahasia mas"
"Jujur mas senang kamu jadi istri mas, mas juga nyaman berada di sisi kamu saat kita bekerja dulu, tau kah kamu... dulu mas suka berandai andai, seandainya kamu yang jadi istri mas, pasti anak anak mas akan bahagia, melihat kamu yang begitu menyayangi ke tiga buah hati mas, dari istri pertama mas, namun nyatanya setelah kamu menjadi istri mas, justru mas menyakiti kamu sayang, mas yang tidak becus menjadi suami, jujur mas juga tertekan menjalani semuanya, mas di tekan tidak menemui kamu dan mengabaikan anak kita, mas tersiksa sayang, sungguh mas sangat tersiksa, mas hanya bisa melihat kamu dari kejauhan dan mas hanya menyuruh orang untuk menjaga kamu, dan mengirimkan foto setiap ke giatan kamu dengan anak kita, mas senang melihat canda tawa kalian, ingin rasanya mas bergabung dengan kalian namun apa lah daya mas tidak bisa melakukannya.
"Tunggu lah mas di sana sayang, suatu saat nanti pasti kita akan bertemu di sana, saat mas kembali nanti, mas hanya ingin bersanding dengan mu di sana, kamu mau kan sayang" gumam Pak Bambang dengan mata yang berkaca kaca, dan membelai batu nisan sang istri.
"Oh... ya sayang, kamu tau... kalau kita sudah mempunyai cucu saat ini, cucu kita bukan hanya satu, tapi ada tiga, anak kita benar benar jago, sekali sembur jadi tiga" kekeh Pak Bambang.
"Cucu kita dua laki laki, satu perempuan, yang perempuan wajahnya perpaduan wajah kamu dan menantu kita, itu mengobati rasa rindu mas sama kamu sayang" tutur Pak Bambang.
"Kamu tenang di sana ya, mas akan sering sering ke sini, suatu saat nanti mas akan ajak cucu cucu kita menemui kamu di sini, agar merek mengenal nenek cantiknya, yang sangat pintar,dan baik hati, semoga cucu cucu kita seperti kamu ya sayang, mas berharap kepintaran kamu di warisi oleh cucu cucu kita" tutur Pak Bambang.
__ADS_1
"Sudah dulu ya sayang, mas pulang dulu matahari sudah terik, mas takut anak anak itu akan mencari mas, dari tadi mas belum pulang kerumah, tadi mas izinnya hanya ingin berjalan jalan di kampung ini, klau mas bilang mau ke rumah kamu, takutnya mereka mau ikut juga, kan mas ngak mau di ganggu, mas kan pengen cerita sama kamu" tutur Pak Bambang.
"Dahh... sayang, mas pulang dulu, Assalamualaikum...." ucap Pak Bambang, dia mengelus dan mencium batu nisan sang istri, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan makam itu selangkah demi selangkah.
"Huufff.... rasanya dada saya plong, dan pundak saya yang selama ini berat bagai memikul beban ber ton ton, kini sudah ringan setelah mencurahkan isi hati ini kepadamu istri ku" gumam Pak Bambang berjalan sambil tersenyum tanpa beban di bibirnya.
"Ayah dari mana sih... kok menghilang dari tadi, izinnya cuma keliling kampung, tapi ngak pulang pulang, apa ayah ketemu sama janda muda di kampung ini?" canda Rido, yang tadinya berwajah panik, kini berubah dengan wajah tengil menggoda sang Ayah.
Puk....
"Sembarangan kalau ngomong, dua istri aja bikin pusing, udah tinggal satu malah makin pusing, masa mau nambah satu lagi, gantung aja Ayah ini gantung" kesal Pak Bambang.
"Dasar anak duhakim, bisa bisanya meledek ayah, bukannya di sugihin makanan apa minum, malah menggoda ayah, apa ngak lihat ini ayah sudah kelaparan dan haus" omel Pak Bambang.
"Ya elah Yah... masa orang sekaya Ayah, ngak bisa beli makan dan minum di luar sana, apa Ayah sudah jatuh miskin, jadi ngak bisa beli makan dan minum di luar sana" ledek Rido dan berlari menjauh dari sang ayah, takut takut ayahnya melayangkan sepatu yang dia pakai atau berteriak saking kesalnya.
"Yaaa...Rido Pratama....kenapa kau menyebalkan sekali haa....!!" teriak Pak Bambang kesal dengan sang anak.
__ADS_1
"Suuutttt.... jangan teriak teriak berisik, nanti anak anakku kebangun" omel Rido dengan bibir bergerak gerak tanpa suara dan meletakan jari telunjuknya di bibir lemes Rido itu.
Pak Bambang hanya memutar mata malas melihat ke arah sang anak.
Orang orang yang ada di dalam rumah itu hanya terkekeh dengan kelakuan ayah dan anak itu.
"Sudah sudan Rido, jangan menggoda Ayah kamu lagi, besan mari makan, pasti besan belum makan" ucap Bu Sandra menengahi.
"Aahhh... Terimakasih besar, anda benar benar pengertian, tidak seperti anak itu" sungut Pak Bambang mengikuti Bu Sandra dari belakang.
Rido menatap punggung sang ayah dari ke jauahan, walaupun sudah tidak muda lagi, namun ayahnya itu masih tampak gagah, ada rasa haru di dada Rido, dia tak menyangka pada akhirnya dia bisa bercanda gurau dengan sang ayah.
Rido sedikit tersentak saat tiba tiba ada tangan yang memegang pundaknya, dia menoleh dan ternyata itu adalah istri tercinta.
Terimakasih sayang sudah mau nemani kakak selama ini, dan terimakasih sudah mau menjadi ibu dari anak anak kakak" ucap Rido sambil memegang tangan sang istri dan memeluk Aisyah penuh cinta dan tersenyum tanpa beban.
Kini hatinya sudah plong mempunyai keluarga yang utuh, hubungannya dengan sang ayah sudah membaik.
__ADS_1
\*\*\*Selesai\*\*\*
Haiii.... Terimakasih sudah mengikuti cerita Outhor dan sudah mau memberi like komen dan Vote, sampai jumpa di cerita lainnya, jangan bosan bosan ya mengikuti cerita Outhor yang masih belajar iniππππ€π€π€πππ