
Seminggu berlalu, hari ini Aisyah rencananya akan pergi kerumah sakit, untuk melihat kondisi janinnya.
"Sudah siap sayang" tanya Rido melihat sang istri sudah duduk manis di sofa ruang tamu, di temanin oleh Rara.
"Ica udah kak, Mama yang belum, kita tunggu sebentar ya..." ucap Aisyah.
Rido hanya mengangguk dan duduk di samping sang istri dan tangannya lansung membelai perut besar istri cantiknya itu.
"Ra... kapan loe nikah?" tanya Aisyah.
"Nunggu si kembar umur tiga bulan dulu aja Ca, gue ingin loe hadir di pesta pernikahan gue" ucap Rara.
Aisyah mengangguk tanda mengerti, memang Ganen sudah minta izin ingin menikah muda dengan Rara, dan orang tuanya merestui itu, karena Ganen juga anak tunggal dan orang tuanya juga merasa kesepian dan ingin mempunyai cucu banyak.
Dan bersyukurnya orang tua Ganen juga menyukai Rara, dan semenjak Rara akan menjadi menantunya, hampir setiap hari mama Ganen menghubungi Rara, menanyakan banyak hal, dan memberi perhatian lebih kepada Rara, rasanya Rara kembali mempunyai orang tua kandung yang menyayangi dirinya.
"Sayang... ayo kita berangkat" tiba tiba Mama sandra sudah berdiri dekat mereka.
"Mama sudah rapi..?" tanya Aisyah.
"Sudah dong..." sahut Mama Sandra.
"Ra loe mau ikut...?" tanya Aisyah.
"Ngak gue mau ke kampus, sekalian mau ngasiin tugas loe sama dosen" ucap Rara sambil memperlihatkan tugas tugas kuliah di tangannya.
"Makasih Ra...." ucap Aisyah sumringah.
__ADS_1
Aisyah hanya mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya menuju halaman, di sana sudah di tunggu dengan mobil mewah.
"Tio sama Ganen kemana? kok ngak kelihatan dari tadi" tanya Aisyah mengingat ke dua orang itu yang tidak dia temui saat sarapan tadi.
"Ganen lagi ke restoran sama Villa yang di xx klau Tio lagi ke perkebunan, tadi di telpon ada pelanggan baru mau ajak kerja sama" ucap Rara.
"Ooo..." Aisyah hanya ber O ria.
Aisyah menaiki mobil dengan di bantu oleh sang suami.
"Ya udah kami jalan dulu" ucap Aisyah
Dan di anggukin oleh Rara, setelah mobil yang di kemudikan oleh Rido itu menjauh dari rumah, Rara pun ikut menaiki motor meticnya untuk pergi ke kampus.
Beberapa saat berlalu Mobil yang di kemudikan oleh Rido sudah terparkir dengan indah di parkiran rumah sakit tempat Aisyah kontrol.
"Hati hati sayang..." ucap Rido membantu sang istri.
Bu Sandra juga turun dari pintu belakang.
Kini di sini lah mereka berada di depan poli kandungan menunggu panggilan Aisyah.
"Mau minum ngak?" tanya Rido.
"Boleh..." jawab Aisyah.
Bu Sandra dengan sigap memberikan sebotol air minum untuk anaknya itu.
__ADS_1
"Ini sayang..." ucap Bu Sandra.
"Loh... mama bawa minum, baru juga aku mau beli" seru Rido.
"Bawa kok, takut takut Aisyah butuh dan lama nunggu panggilan, mama juga bawa jus mangga ini" ucap Bu Sandra memberi tahu.
Pantas lah mamanya itu membawa tas yang lumayan besar ternyata isinya adalah minuman dan makanan buat sang putri.
"Ya ampun ma... kenapa harus berat berat sih, kan bisa beli di sini, kasian mama loh, nanti kecapean" tutur Rido.
"Tidak apa, lagian ngak berat kok, mama senang melakukannya" ucap Bu Sandra mengusap pelan bahu menantunya itu.
"Lain kali jangan bawa berat berat ya ma... aku ngak mau mama kerepotan" ucap Rido lagi.
"Siap bos... lain kali ngak lagi, kan sudah lahiran, gantinya susu para cucu cucu mama" kekeh Bu Sandra, Aisyah pun ikut terkekeh, namun menantunya hanya memutar mata malas, betapa keras kepalanya ibu mertuanya itu, selalu saja melakukan yang dia larang.
"Ah... klau kaya gini nanti aku akan cari baby siter empat orang lah, biar mama anteng" gumam Rido.
"Hai... tidak ada ya... mama masih sanggup, klau dua orang aja ngak apa apa, agar tak kerepotan, tapi klau empat mama yang akan pecat mereka, enak saja pak baby siter empat, nanti mama ngak bisa ngurus cucu cucu mama, semuanya di ambil alih oleh baby siter" dengus Bu Sandra tak terima.
Aisyah hanya terkekeh melihat pertengkaran suami dan ibunya itu, mereka selalu saja seperti itu, suaminya yang mau mamanya itu duduk anteng tanpa melakukan apa pun, dan mama nya yang aktif tak bisa diam, ada saja yang akan dia lakukan, itu lah yang selalu menjadi masalah untuk ke dua orang yang Aisyah sayangi itu.
Sebelum percekcokan antara menantu dan mertua berlanjut, beruntung nya nama Aisyah di panggil oleh suster.
"Nyonya Aisyah..." panggil suster.
"Iya saya...." jawab Aisyah bernafas lega, dan lansung berdiri di bantu oleh sang suami.
__ADS_1
Aisyah masuk ke dalam poli kandungan itu dan di ikuti oleh mamanya dari belakang.
Bersambung.....