
Saat kembali ke rumah, Aisyah dan Rido sudah di sambut dengan ke datangan sandi di depan pagar rumahnya, karena tidak ada yang mau membukakan pintu untuknya.
"Ada parlu apa lagi bapak ke sini?" tanya Rido dengan wajah datarnya, dia sudah muak berbasa basi dengan sandi maupun keluarganya.
"Do, om minta maaf akan perlakuan yang kurang menyenangkan dari keluarga om, tapi mohon sekali lagi, izinkan om bertemu dengan Aisyah" tutur sandi dengan perasaan bersalah dan memohon agar di pertemukan dengan Aisyah.
"Bukan kah, dari kemaren saya bilang, saya tidak akan mengizinkan siapa pun untuk bertemu dengan istri saya, termasuk anda dan keluarga anda pak.
"Jangan begini Do, kami ini juga keluarga Aisyah, kami sudah lama mencari keberadaan Aisyah, kini sudah bertemu, masa kamu tega memisahkan Aisyah dengan keluarganya" ucap sandi memprofokasi Rido.
Rido hanya menatap sinis mendengarkan ucapan Sandi.
"Yakin hanya karena rindu sama ponakan yang baru di temukan, bukan karena hal lain, semacam harta warisan mungkin?!" skak mat Rido.
Membuat Sandi kaget dan menelan salivanya susah payah.
"Ya-akin lah, karena om ingin ketemu ponakan om yang sudah lama hilang" gugup pak Sandi.
__ADS_1
"Tapi maaf pak, saya yang tidak mengizinkan istri saya ketemu dengan anda" tegas Rido.
"Jangan gitu nak, Aisyah juga punya ke luarga, bukan milik kamu saja" ucap Sandi yang mulai hilang kesabaran.
"Ncek... keluarga ya? keluarga yang seperti apa maksudnya? keluarga yang tega memisahkan ibu dan anaknya?" pancing Rido, dan itu mampu membuat pak sandi pias.
"Ma-aksud kamu apa? om ngak ngerti?" gagap Pak Sandi tergagap.
"Ngak ada maksud apa apa, sudah lah Pak, saya tidak mengizinkan siapa pun bertemu dengan istri saya, dia baru saja keluar dari rumah sakit, dan saya tidak ingin membuat dia cemas, lebih baik anda pulang saja" usir Rido.
Rido lansung meninggal kan Pak Sandi yang masih diam di sana, dia sudah muak berbasa basi dengan Pak Sandi dan keluarganya.
"Sudah pergi kak, orang itu?" tanya Aisyah, tiba tiba Aisyah muncul di depan Rido yang baru melangkah ke dalam rumah.
"Astaga... kamu bikin kaget kakak aja" gemes Rido, yang terlonjak kaget melihat sang istri yang berdiri di sana.
"Hehehe... maaf, tadi Ica ngintip" kekeh Aisyah dengan wajah bersalahnya.
__ADS_1
"Dasar..." gemes Rido mengacak acak rambut Aisyah, dan merangkul bahu Aisyah dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ca, Do... gue ke Cafe dulu" ucap Ganen.
"Gue juga..." seru Rara.
"Gue mau ke perternakan, soalnya ada barang masuk" ucap Tio, yang tergesa gesa.
"Sudah klau capek, biar di urus anak anak, kalian istirahat sana, besok aja kerja, lihat tuh muka pada kucel" tunjuk Rido, dia tau ke tiga sahabatnya itu juga pada lelah, dari kemaren membantu dia, dan bahkan Tio dan Ganen kurang tidur, karena barang masuk, tadi juga mengurus Aisyah di rumah sakit, dan baru sampai di rumah, sudah buru buru mau kerja lagi, Rido tidak tega melihat mereka.
"Tapi Do..." belum sempat ucapannya selesai sudah di potong oleh Rido.
"Istirahat di bilang ya istirahat, ada bang Farhan kok, tenang aja, dia bisa menghendel semuanya, gue sudah tlp dia, jadi kalian istirahat sana" tegas Rido.
"Haa... baik lah, gue istirahat" ucap Tio dan lansung tidur di sofa ruang tengah tempat mereka biasa berkumpul.
Rara balik kanan grak, tanpa sepatah kata pun, karena juga merasa lelah. Ganen ikut tepar di karpet bulu, tanpa suara.
__ADS_1
Rido hanya geleng geleng kepala, dan meninggalkan mereka di sana, membawa sang istri ke kamarnya, untuk istirahat.
Bersambung.....