
Aisyah sudah di pindahkan ke ruang perawatan, namun wanita yang di nyatakan hamil muda itu belum juga membuka matanya, mungkin pengaruh obat yang di berikan oleh dokter atau mungkin memang mengantuk.
Rido dengan setia duduk di samping bad sang istri tanpa beranjak sedikit pun, dia terus memegang tangan istri cantiknya itu.
Rara dan ganen sedang membeli sarapan untuk mereka, sementara Tio yang semalam begadang karena ada barang masuk, tertidur di sofa yang tersedia di ruangan Aisyah itu.
Uuggghhh....
Lenguh suara Aisyah, membuat Rido lansung melihat ke wajah sang istri.
"Kak... Ica dimana...?" tanya Aisyah dengan suara seraknya, matanya berkeliling melihat tempat asing yang di lihat.
"Di rumah sakit sayang?!" jawab Rido dengan penuh perhatian dan kelembutan tak lupa dengan senyum manisnya.
"Kok di rumah sakit, kan tadi kita masih di rumah?" tanya Aisyah yang belum sadar sepenuhnya dengan ke jadian di rumah tadi.
"Tadi Ica, pingsan di rumah sayang, trus abang bawa ke sini sama anak anak?!" ujar Rido lembut, sambil membelai rambut sang istri.
Aisyah baru mengingat ke jadian yang dia alami saat bangun tidur, dia muntah muntah, badannya terasa lemas, pas mau berdiri dia sudah tidak tau apa apa lagi.
"Ica sakit apa Kak...?" tanya Aisyah dengan mata sudah berkaca kaca, dia takut klau dia mengidap penyakit parah dan akan menyusahkan suaminya dan tidak hanya suaminya yang susah, tapi juga para sahabat sahabatnya, Aisyah tidak mau itu terjadi.
"Ica ngak sakit sayang?" ucap Rido dengan senyum manisnya melihat ke arah sang istri.
"Masa sih... ngak sakit, tapi Ica munta...." belum sempat ucapannya selesai Asiyah lansung diam dan meraba perutnya, apa yang dia pikir bersama dengan Rara kemaren sore benar benar terjadi, mengingat dia memang sudah telat datang bulan, namun dia lupa berapa lama telatnya, dan juga dengan gejala yang Aisyah rasakan dari kemaren.
__ADS_1
"Kenapa hmmm..." tanya Rido sambil tersenyum cerah, dia tau apa yang di fikirkan sang istri dan melihat gerakan tangan istri cantiknya itu mengelus perut rata nya.
"Apa kah... dia susah ada?" tanya Aisyah serak dan mata yang sudah berkaca kaca.
Rido mengangguk menjawab pertanyaan sang istri.
Hiks....
Hiks....
Hiks...
Pecah sudah tangis Aisyah, tangis bahagianya dia kini akan menjadi seorang ibu, dan dia bisa membuat suaminya senang dengan ke hadiran sang buah hati.
Aisyah menggelengkan kepala, dan tersenyum dalam tangisnya.
"Ica nangis bahagia, Ica kini akan jadi seorang mama, dan Ica senang bisa memberikan keturunan buat kakak, rumah kita sebentar lagi akan ramai dengan suara bayi" ucap Aisyah dengan tersedu sedu.
"Terimakasih sayang... Terimakasih, sudah mau hidup bersama kakak, dan mau menerima kakak dengan banyak kekurangan kakak, kini kebahagian kakak bertambah dengan kehadiran buah hati kita, kakak bahagian banget sayang, kakak sayang sama Ica ibu dari anak anak kakak. I LOVE YOU istri cantik kakak" Rido mencium Aisyah bertubi tubi, mereka melupakan tiga pasang mata yang melihat ke uwuwwan mereka.
Mereka juga bahagia melihat sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu, walau masih ada masalah yang sedang mereka hadapi, namun ada ke bahagian yang tiada tara menyelinginya.
"Terimakasih juga kak, sudah mau menerima Ica, dan menjadikan Aisyah pendamping hidup kakak, Aisyah merasa jadi wanita paling beruntung di dunia ini, bisa menjadi istri kakak, di cintai kakak, dan sebentar lagi akan menjadi seorang mama dari buah hati kita, Asiyah CINTA kakak" ungkap Aisyah dengan tangis bahagianya.
Mereka berpelukan dengan erat menyalurkan kebahagian satu sama lain, tidak ada lagi kebagian yang bisa menggantikan bahagia mereka saat ini dengan kehadiran malaikat kecil di antara mereka menemani hari hari yang akan mereka lalui.
__ADS_1
"Apa kah... kalian akan berpelukan terus dan apa perut kalian tidak merasa lapar dan apa kalian tidak menghargai lelaki jomblo ini, kalian membuat hati ku sakit melihat ke uwuwan kalian" dramatis Tio si kutu kupret meng ambyarkan ke uwuwwan sepasang suami istri itu.
Rido dan Aisyah hanyan mendelik kesal melihat Tio, Tio hanya masa bodo.
"Makan makan lapar gue, setelah itu ke poli kandungan, gue mau lihat ponakan gue ada berapa dia di dalam sana" seru Tio tanpa peduli dengan tatapan kesal orang orang di sana, dia malah asik membuka sarapan yang di bawa oleh Rara dan memakan tanpa peduli orang di sana.
"Ncek... manusia menyebalkan..." gerutu Aisyah dengan bibir cemberut menatap Tio.
Rido hanya terkekeh, melihat tingkah istri dan sahabatnya, Rara dan Ganen juga hanya bisa geleng gelang kepala melihat ke usilan Tio, yang menggoda ibu hamil itu.
"Ayo sayang... Ica juga harus makan, biar anak kita tumbuh sehat di dalam sini" Rido mengusap perut rata sang istri.
"Ini gue tadi beli susu ibu hamil" Rara menyodorkan segelas susu hamil kepada Aisyah, yang sudah dia seduh pakai air panas.
"Makasih Ra... kamu sama Ganen memang sahabat terbaik, bukan kaya itu" Asiyah memajukan bibirnya sambil menatap Tio.
"Haiii bumil suka mengadi ngadi, aku tu juga perhatian sama kamu, tadi aku yang nyetir dan asal bumil tau, aku baru banget tidur sudah di teriak teriakin sama pak boss tau ngak omel Tio tidak terima.
Aisyah hanya acuh dan memakan bubur yang di sendokin oleh Rido.
Rido dan yang lain hanya terkekeh dengan gerutuan Tio, memang temanya itu baru banget tidur, untung tadi ngak kenapa napa sampai di rs karena yang bawa mobil masih ngantuk.
Beraambung....
Jangan lupa like komen dan vote ya....
__ADS_1