
Sekarang di sini lah mereka berada, di rumah mendiang papa Aisyah, namun mereka belum turun dari dalam mobil, yang turun hanya Pak Raul dan satu orang rekan nya, mereka menunggu aba aba dari Pak Raul untuk turun.
"Pak... anda sudah datang, kami sudah menunggu dari tadi" tutur Pak Sandi sopan, dengan tersenyum lebar, karena orang yang dari tadi mereka tunggu tunggu akhirnya datang juga.
"Ah... iya, maaf kami sedikit terlambat, soalnya mau ke sini tadi, jalanan lumayan macet, ada kecelakaan tadi di jalan, makanya kami terlambat" tutur Pak Raul, tentu saja ucapannya itu hanya bohong belaka, yang ada dia tadi kedatangan istri pertama almarhum klien nya.
"Ah... iya tidak masalah, kami mengerti kok, yang penting anda sudah datang ke rumah kami Pak" tutur Pak Sandi, padahal mah, dari tadi dia sudah uring uringan karena Pak Raul belum datang.
Pak Raul dan rekannya hanya tersenyum, mendengar ucapan tuan rumah, yang sebentar lagi kena gusur dari rumah mewah itu.
"Silahkan masuk Pak...." ajak Pak Sandi, karena di dalam sudah ada sang mama, istrinya, anaknya, Amira dan tidak lupa seorang gadis muda yang mengaku sebagai Namira.
Pak Raul dan rekannya mengikuti Pak Sandi dari belakang, dengan langkah pasti dan tegap.
"Selamat siang, maaf kami terlambat" tutur Pak Raul.
"Siang juga Pak, tidak apa, sudah biasa jam jam segini jalanan macet" kekeh Mama Pak Sandi.
__ADS_1
"Silahkan duduk Pak" ucap Istri dari Pak Sandi dengan ramah.
Tidak lama datang lah dua orang asisten rumah tangga membawakan minuman dan cemilan untuk tamu tersebut.
Setelah kepergian asisten rumah tangga tersebut, tanpa basa basi, Pak Raul lansung angkat bicara.
"Kita lansung saja ya, soalnya saya juga masih ada janji sama klien dua jam lagi" tutur Pak Raul.
"Iya Pak, silahkan" jawab Pak Sandi dengan senyum manis di bibirnya, namun tidak dengan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang.
Pak Sandi menelan salivanya dengan kasar, karena tekanan dari Pak Raul, dia tau siapa Pak Raul orang yang tegas dan tidak muda untuk di tipu.
"klau istri pertama abang saya, sampai saat ini belum tau keberadaannya Pak, kami sudah mencari nya dari lama, tapi hasil tetap nihil, klau anak almarhum kami sudah menemukannya" Pak Sandi melirik ke arah anak perempuan yang sepantaran dengan Aisyah itu.
Pak Raul dan rekannya juga ikut melihat arah pandang Pak Sandi dengan bibir menyeringai dan tatapan mata penuh arti. Setelah itu dia mengangguk anggukan kepalanya.
"Apa kah dia...?" tanya Pak Raul mengikuti sandiwara mereka.
__ADS_1
"Iya Pak, kami juga sudah menyelidiknya" ucap Pak Sandi dengan pasti.
"Bagaimana mungkin kalian bisa tau, dia anak almarhum, sedangkan ibu kandungnya saja belum ketemu, dan satu lagi saya juga tidak melihat nyonya Anita" tutur Pak Sandi
Glek....
Susah payah, Pak Sandi dan yang lain menelan ludahnya, karena Pak Sandi tidak bisa di bohongi dan satu lagi, Anita tidak ada di rumah bahkan wanita itu kini sedang berada di hotel prodeo, Sandi pun tau kenapa Anita bisa mendekam di sana, namun dia menutupi semua itu.
"Sial, kenapa susah sekali mengelabui pria tua ini, mana Anita lagi di penjara lagi, klau gue jujur pasti semuanya akan lama prosesnya, klau Anita ketemu sama laki laki ini, saya takut Anita akan ke ceplosan dengan keberadaan Sandra, mana waktu yang di tetapkan sudah semakin dekat, gimana ini" gumam Pak Sandi sedikit kusut.
"Kenapa diam... apa anda kembali membohongi kami?" selidik Pak Raul, tidak bertanya pun Pak Raul sudah tau dia di percaya, karena orang yang asli ada di dalam mobilnya.
"Bu bukan begitu" ucap Pak Sandi gagap.
"Lalu seperti apa?" desak Pak Raul dengan desakan agar Pak Sandi cepat berkata jujur.
Bersambung....
__ADS_1