
Selesai makan, di sini lah mereka berada, di depan poli kandungan untuk memeriksakan kandungan Aisyah.
Degup jantung Aisyah dan Rido berlalu talu, menunggu panggilan dari perawat di sana, sungguh Rido dan Aisyah tidak sabaran untuk mengetahui ke adaan malaikat kecilnya itu.
Genggaman tangan Rido dan Aisyah dari tadi tidak lepas, mereka saling memberi kekuatan satu sama lain.
Tak lama baru lah Aisyah di panggil ke dalam poli kandungan itu.
"Selamat pagi Ibu..." ucap dokter di sana dengan tersenyum ramah kepada Aisyah dan Rido.
"Pagi Dok..." balas Aisyah tak kalah ramah, dan dengan memberi senyum manisnya, jangan lupakan wajah datar lelaki yang sebentar lagi menyandang gelar papa muda itu, tiada senyum dan tatapan datar kepada sang dokter, dia hanya mengangguk dan fokus melihat istri cantiknya, mengabaikan dokter muda yang tidak kalah cantik dari sang istri, namun bagi Rido secantik apa pun wanita lain, yang paling cantik buat dia hanya lah istri tercintanya.
"Menarik nih cowok, ngak ngaruh sama gue, padahal gue lebih cantik dari istrinya, apa sih.. kelebihan perempuan ini, padahal biasanya setiap suami yang menemani istrinya selalu terpesona sama gue, walau secantik apa pun istrinya, namun cowok satu ini tidak terpengaruh sama sekali, apa kecantikan gue sudah luntur ya " gumam dokter tersebut dalam lamunannya.
"Apa anda bisa memeriksa istri saya Dok, klau tidak biar saya cari dokter lain" omel Rido, kesal melihat dokter itu yang fokus memandang dirinya bukan fokus memeriksa sang istri.
"Eh... I-iya, maaf" gagap dokter cantik itu, merasa malu karena teguran dari Rido, mukanya lansung memerah.
Aisyah pun tau dokter itu dari tadi memandang suaminya tanpa kedip, jujur aja Aisyah juga kesal dengan dokter itu, namun dia percaya suaminya tidak akan terpengaruh dengan dokter kecentilan itu.
"Ada keluhan apa Ibu...?" tanya dokter itu dengan suara di buat seramah mungkin.
"Saya dari kemaren muntah muntah, dan saya juga telat datang bulan, tapi saya lupa berapa lama tepatnya" jujur Aisyah memberi tahu dokter cantik di depannya itu.
"Ouh... gitu ya, mari kita periksa dulu ya...?!" ucap dokter cantik itu, sambil memeriksa detak jantung aisyah, memeriksa tekanan darah Aisyah.
Aisyah hanya mengikuti apa yang di lakukan sang dokter.
"Semuanya normal, mari bu tidur di badnya?!" seru sang dokter mengarahkan Aisyah untuk tidur di kasur dan Rido lansung cepat tanggap membantu istri cantik nya naik ke kasur itu dengan hati hati, penuh kasih sayang terlihat dari gestur tubuh Rido yang selalu ingin melindungi Aisyah, dokter itu tertegun melihat sikap lembut Rido kepada Aisyah, dia merasa Aisyah sungguh beruntung mempunyai suami seperti Rido, terbersit sedikit rasa untuk Aisyah oleh dokter itu, dia mulai berandai andai.
__ADS_1
Walau kerja mulai tak fokus namun dokter cantik itu tetap melakukan tugasnya dengan baik, sambil menahan detak jantungnya yang mulai hilang kendali berdekatan di dekat Rido.
Dokter yang ber name tag Yuni Larasati itu, menyingkap baju Aisyah dan mengoles kan gel ke perut rata Aisyah.
Aisyah merasa dingin dan sedikit geli, dia menggelinjang kaget.
Rido lansung cepat tanggap dan memegang tangan Aisyah penuh kasih.
"Kenapa sayang...?" tanya Rido lembut.
"Ngak apa apa, cuma kaget aja, dingin tambah geli" ucap Aisyah dan tersenyum manis.
Rido pun mengelus punggung tangan Aisyah dengan jari jempolnya yang berada di punggung tangan Aisyah.
Perlakuan lembut dan reflek Rido terhadap Aisyah membuat Dokter Yuni itu, iri hati.
"Sial... kenapa gadis kampung ini bisa ngedapatin cowok cakep ini sih... coba gue yang ketemu duluan pasti jadi pasangan gue nih cowok, secara gue lebih cantik dari gadis kecil ini" gumam Dokter Yuni di dalam hati.
"Waahhh... coba lihat ini, ada dua kantong yang terlihat" ucap Dokter itu berusaha ramah.
"Maksudnya Dok?" tanya aisyah memastikan.
"Ncek itu aja ngak tau, bego banget sih...!" gerutu Dokter Yuni, namun berusaha menampilkan senyum manisnya.
"Sepertinya dia kembar" ucap dokter yuni.
"Kembar dok...!!" pekik Aisyah ke girangan air matanya lansung meleleh tanpa di komando, begitu pun Rido sungguh hatinya sangat bahagia, tanpa rasa malu dan mengabaikan dokter di sana, dia lansung mencium Aisyah bertubi tubi.
"Makasih sayang, makasih" gumam Rido pelan namun masih di dengar oleh orang orang di dalam sana, perawat hanya mesem mesem melihat ke uwuwan Rido dan Aisyah, tidak dengan dokter Yuni dia lansung mengumpat kesal.
__ADS_1
"Sial nih cowok, gue juga bisa kali kasih banyak anak buat dia, ngapain juga harus sama perempuan sok manja itu" gerutunya.
Ehemm... tegurnya agar Rido menghentikan aksinya, karena dia sudah kepanasan melihat kemesraan Rido itu.
"Maaf dok" ucap Aisyah malu, namun Rido cuek aja, masa bodo emang dia perduli.
Aisyah turun dari bad itu dan kembali duduk di kursi berhadapan dengan dokter yuni.
"Ini saya kasih resep, ada obat anti mual, pusing dan vitamin, obat mual dan pusing di minum saat pusing atau mual saja ya, klau Vitamin minum sekali sehari" ucap Dokter Yuni berusaha seramah mungkin.
Aisyah mengangguk tanda mengerti, Rido hanya mendengarkan tanpa ekspresi dia lebih asik memandang sang istri namun kupingnya tetap mendengar setiap ucapan dan arahan dokter tersebut, apa yang boleh di makan dan apa yang tidak, Rido mendengar dan merekam di kepalanya, namun tidak sama sekali melihat ke arah sang dokter, membuat dokter Yuni mendesah kesal.
"Terimakasih ya dok..." ucap Aisyah sopan saat ingin keluar dari ruangan itu.
"Sama sama, jangan lupa periksa bulan depan ya" ucap dokter Yuni.
Aisyah mengangguk mengerti, Rido masa bodo, cuek bebek tanpa di suruh pun, sudah pasti dia akan membawa sang istri untuk kontrol.
Ceklek....
Pintu ruangan itu terbuka dari luar.
"Loh... Rido loe kok ada di sini" tanya seseorang yang baru masuk itu.
"Iya... lagi periksa istri gue" ucap Rido datar dan memeluk Aisyah, karena kursi roda Aisyah masih berada di luar ruangan.
"Oalah... istri loe lagi hamil, selamat ya..." ucap Bima dengan raut wajah senang.
"Makasih..." ucap Rido datar, Aisyah tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Rido membawa Aisyah keluar dari ruangan itu, di luar Tio, ganen dan Rara sudah berdiri menunggu dengan tidak sabar.
Bersambung....