
Gegas Lusi, Anna dan Alex masuk ke kamar masing masing, untuk berkemas, mereka tidak membawa apa pun keluar dari rumah itu selain membawa surat surat pentung dan barang memang mereka beli dengan uang sendiri, bukan pemberian dari Sandi.
"Kalian benar benar ingin keluar dari sini?" tanya Sandi mengram kesal.
"Iya... buat apa kami disini, kau dan Ibumu setelah menipuku habis habisan, dan aku ngak sudi lagi hidup bersama mu!" tutur Lusi penuh emosi.
Dia tidak menyangka suaminya tega menduakannya selama ini, dan hidup bersama sang madu tanpa dia tau, dan satu lagi pantas saja Sandi sangat menyayangi Amira dari pada Anna, dia fikir karena Arumi anak yatim, anak abangnya Sandi makanya sandi menyayanginya, dia tau Sandi licik, dia menyanyangi gara gara Amira anak abangnya, dan mempunyai harta berlimpah, eh... ternyata dugaannya salah, Amira ternyata anak kandung dari sang suami, hati istri mana yang tidak sakit mengetahui dirinya di bohongi selama ini.
"Baik lah... karena kau kekeh keluar dari sini dan membawa anak anak kau itu, saya Sandi adi putra menalak tiga engkau Lusiana dan sekarang kita tidak ada hubungan apa apa lagi!" ucap Sandi lantang.
__ADS_1
Deg....
Bagaimana pun, bertahun tahun menikah karena cinta, hingga mempunyai sepasang anak, tentulah hati Lusi tetap sakit mendengar kata talak yang keluar dari mulut sang istri, namun dia berusaha tegar di depan anak anaknya.
"Baik lah, tolong urus secepatnya surat cerai kita, oh... tidak usah, selagi ada Pak Raul, Pak Saya menguasakan perceraian saya kepada bapak, tolong bapak urus, ini nomor telpon saya, nanti tolong bapak telepon saya, sekarang saya ingin buru buru keluar dari rumah ini, saya sudah tidak sudi berlama lama tinggal di rumah ini" tutur Lusi panjang lebar, dia melihat wajah anak perempuannya sedang tidak baik baik saja, Lusi ingin ke luar dari sana dan menghibur sang anak, sungguh tidak tega Lusi melihat anak gadisnya yang tidak baik baik saja, apa lagi selama ini anak gadisnya itu selalu mengeluh kepadanya, klau sang Ayah pilih kasih terhadap dia dan Amira, rupanya ini kenyataannya, Amira adalah anak kandung ke sayangan Sandi, karena istri sirinya itu satu kongsi dengan laki laki itu.
"Baiklah... nanti saya akan urus semuanya, dan nanti kami akan melpon anda" ucap Pak Raul membalas perkataan Lusi.
"Mbak, aku pergi, maafkan aku" ucap Lusi kepada Sandra, dia memeluk Sandra erat, Sandra adalah ipar yang baik dan selalu membantunya dulu, namun harus tersingkir gara gara ke serakahan sang suami.
__ADS_1
"Iya hati hati" ucap Sandra membalas pelukan Lusi, dia tau hancurnya hati Lusi, dia pernah di posisi itu, walau dia tau suaminya tidak bersalah, namun tetap rasanya sakit.
Lusi dan anak anaknya meninggalkan rumah besar itu dengan langkah pasti, tiada keraguan sedikit pun, sandi melihat punggung ke tiga orang itu, dia berharap ke tiga orang itu menoleh sebentar saja kepadanya, namun harapannya sia sia, ke tiga orang itu keluar dengan langkah pasti.
"Urusan keluargamu sudah selesai kan, sekarang mari selesaikan urusan kita!" tekan Bu Sandra, membuyarkan lamunan Sandi.
"Mbak... aku lagi bersedih, aku habis bercerai dengan istri ku, dan aku baru ke hilangkan anak anakku, apa mbak ngak bisa memberi aku sedikit waktu" ucap Sandi di buat sesendu mungkin.
"Cih... bukan kah kau yang mengusir anak dan istri mu, dan bukankah kau yang menalaknya, kenapa jadi kau yang merasa tersakiti, sudah cukup saya melihat sandiwara kau, dan mari akhiri sekarang juga, saya juga tidak mau berhadapan dengan kalian orang orang munafik dan licik, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan kalian!" sinis Sandra.
__ADS_1
Membuat Sandi mengeram kesal, karena Sandra tak mudah lagi untuk di percaya, di tambah ada Raul sang pengacara, membuat dia bungkam.
Bersambung.....