
"Ini rumahnya ya kak" tanya Aisyah, saat sudah sampai di rumah yang terlihat megah dan terkesan mewah itu.
"Iya sayang" ucap Rido yang menatap bangunan itu sendu.
Aisyah tau sang suami begitu sakit untuk datang ke sini, tapi demi memenuhi permintaan kakak dan yang lelaki yang berstatus Ayah biologisnya itu dia harus datang.
Aisyah memegang tangan Rido lembut dan memandang sang suami dengan senyum manis di wajahnya.
"Kakak ngak usah takut atau apa lah, sekarang ada Ica bersama kakak, kita akan hadapi bersama" ucap Aisyah lembut.
Rido lansung menarik tubuh sang istri biar masuk ke dalam pelukannya, ya hanya istrinya yang bisa membuat dia merasa tenang dan nyaman.
"Iya sayang, kita akan hadapi ini bersama ya, jangan tinggalin kakak, tetap pegang tangan kakak sayang, tetap berada di samping kakak ya beri kakak kekuatan?!" bisik Rido di telingan sang istri.
Aisyah mengaguk tanda mengiyakan, dan mengelus punggung Rido.
"Kita turun yuk, biar semuanya cepat selesai, lalu kita pergi sini" ajak Aisyah.
"Baik lah... tapi cium dulu" ucap Rido.
Aisyah memberikan cup cap cip cup di pipi kiri dan kanan Rido dan di kedua matanya.
"Sudah..." jawab
"Ini belum sayang" Rido.
__ADS_1
Cup...
Rido lansung menangkap cuimana itu dengan secepat kita dia menahan tengkuk sang istri, terjadi lah perang lidah untuk beberapa saat.
"Terimakasih..." ucap Rido setelah melepaskan istrinya dan membersihkan sisa sisa salivanya di bibir sang istri dan di bibirnya sendiri.
Aisyah mengangguk sambil merapikan penampilan nya yang sudah acak acakan.
Mereka turun dan berjalan berdampingan.
"Eh... Den Rido..." ucap pembantu di rumah itu.
Rido tersenyum kepada pembantu itu.
"Iya Bi..." ucap Rido.
"Iya, Bi... Terimakasih..." ucap Rido.
Rido melangkah dan mengikuti bibi sambil memegang tangan sang istri.
Aisyah walau pun gugup dia tetap harus kuat dan berani, dia harus menemani suaminya.
"Sayang... jangan takut" bisik Rido dan mengeratkan pegangannya.
Aisyah tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Waahhh..." sudah datang kau anak haram...!!"
Sambutan manis yang di berikan oleh Kakak Tiri Rido itu, yang bernama Riki Atmaja itu.
"Bang... apa apaan sih loe..." kesal Kevin.
"Duduk dek?!" ajak Kevin menyuruh Rido dan Aisyah duduk, sementara yang lain hanya memandang Aisyah dan Rido dengan sinis, Ayah kandungnya dengan muka datarnya, tanpa menegur Rido dan Aisyah.
"Iya kak Terima kasih..." ucap Rido dan Aisyah kompak.
"Wah... kompak sekali kalian anak anak sampah " ejek Sindi.
Rido dan Aisyah hanya diam.
"Ada perlu apa aku di suruh ke sini bang?" tanah Rido kepada abang ke duanya itu, ya hanya abangnya lah yang mau bicara dengan dia.
"Begini dek, katanya Ayah dan keluarga lain ingin membagi semua ayah dan semua akan di limpahkan kepada anak anaknya, jadi kakak berinisiatif menghubungi mu, karena kamu juga anak Ayah bukan?" ucap Kevin.
"Oh... gitu bang..." jawab Rido yang tidak ada reaksi kaget sedikit pun.
Lagi pula Rido tau, tidak akan ada jatah buat dia, dan tidak ada warisan buat dia, dia hanya anak yang ada karena hubungan satu malam, dan ibunya hanya istri sirih sang Ayah dan tidak pernah di ketahui publik.
Dan satu lagi, Rido tidak pernah berharap apa apa sama sang Ayah, harta yang di tinggalkan mendiang kakek sang Bundanya saja banyak, apa lagi dia sudah bekerja dan menghasilkan uang dari semenjak SMP dia sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan yang lumayan ternama, walau dia hanya duduk saja yang dilihat orang, uang tetap masuk dari sana sini.
Bersambung...
__ADS_1
" Terimakasih..."