
Semua orang menoleh ke arah suara langkah kaki seseorang memasuki ruangan itu.
"Sa-sandra....." pekik mereka semua, melihat kehadiran Sandra di dalam ruangan itu.
"Hallo... semua ap kabar kalian selama ini, apa kah kalian baik baik saja? oh... tentu saja kalian baik, karena tidak ada saya bukan..?" tanya Bu Sandra dengan sedikit menekankan kata katanya.
"Sandra kemana saja kamu nak, mama sangat merindukan mu" tutur Ibu mertuanya itu.
"Benarkah, Mama sangat merindukan ku, bukankah mama yang sangat tidak menyukaiku berada di rumah ini" sindir Bu Sandra.
"Mana ada begitu nak, mama sangat mam ini ibu mertuamu, yang sangat menyayangi mu, mama sudah berusaha mencari kamu selama ini" tutur Ibu mertuanya itu.
"Oh... ya..., benar Mama merindukan saya, bagai mana bisa, apa karena surat warisan itu tidak bisa di buka, klau tidak ada saya dan anak saya" cemooh Bu Sandra melihat satu per satu orang di dalam sana dengan intens, membuat mereka salah tingkah.
__ADS_1
"Mbak Sandra jangan bicara seperti itu, kenapa mbak jadi berubah gini sih mbak, dulu mbak sangat penurut dan bertutur kata lembut" ucap Sandi.
Bu Sandra menaikan satu alisnya mendengar penuturan adik iparnya itu, dan setelah itu lansung terkekeh.
"Kalian berharap agar saya bertutur kata lembut, dan penurut seperti dulu, seperti sebelum kalian menjebak suami saya tidur bersama saudara saya sendiri, setelah kalian berhasil membunuh suami saya, dan merampas anak saya, dan Membuangnya tanpa perasaan, dan menyandra saya selama ini di rumah kosong, setelah itu kalian berharap saya masih bertutur kata lembut, dan menurut sama kalian, iya begitu...!!" terik Bi Sandra dengan lantang.
Deg.....
Jantung mereka lansung berpacu mendengar penuturan Sandra tersebut.
"Jangan kurang ajar kau... wanita miskin, tidak usah meninggikan suaramu di rumah ini, seharusnya kau tau diri, siapa kau dan siapa kami!!" bentak Mama mertua Bu Sandra.
"Hahaha... seharusnya anda sendiri yang sadar diri nyonya, kau hanya menumpang di rumah ini, dan tidak mempunyai hak di rumah ini!!" bentak Bu Sandra.
__ADS_1
"Kurang ajar Kau Sandra, rumah ini, rumah abangku, setelah dia meninggal kami masih berhak tinggal di sini bersama Mama kami, dan satu lagi, kau harus tau abang ku juga masih punya anak di sini, yaitu Amira!" marah Pak Sandi.
Bu Sandra kembali terkekeh mendengar ucapan Pak Sandi itu.
"Kau yakin sekali, kau berhak ada si sini, coba kau tanya kepada Mama mu itu, siapa suamiku baginya, dia hanya anak sambung mama mu, dan kau bilang apa tadi, suamiku punya anak selain Namira, itu tidak ada karena suamiku hanya punya anak tunggal yaitu Namira, sedangkan yang kau bilang anak suamiku, sejati nya anak kandung kau dan Anita, karena Anita adalah selingkuhan kau dari dulu, kau pikir aku dan suami ku tidak tau!!" Skakmat Bu Sandra.
Duar.....
Bagai petir menyambar di tengah tengah keluarga itu, mendengar ocehan Bu Sandra, bagaimana tidak, rahasia yang selama ini mereka simpan terbongkar sebelum apa yang mereka capai.
Wajah Pak Sandi dan Mama nya lansung pias, mendengar itu semua, dia mulai ketakutan.
"APA APAAN INI MAS, APA BENAR AMIRA ANAK KANDUNG MU HAH.... KARENA ITU KAU TIDAK MENGUSIR ANITA DARI RUMAH INI SETELAH ABANGMU MENINGGAL DAN KAU BERDALIH KALAU AMIRA DAN ANITA TIDAK BISA KELUAR DARI RUMAH INI, KARENA DIA ANAK MU, BUKAN ANAK ABANG MU...!" teriak Istri Pak Sandi, anaknya pun tidak kalah shok mendengar ucapan Bu Sandra.
__ADS_1
Pak Sandi tak bisa berkata kata, lidahnya kelu untuk di ajak bicara, semua kebohongannya ketahuan.
Bersambung...