
"Wahhh... masih hidup kau rupanya San, kami kira kau sudah mati di makan cacing bersama suami kau itu" sinis seorang ibu ibu.
Deg....
Jantung Bu Sandra berdetak lebih kencang mendengar ucapan ibu ibu itu, apa lagi Aisyah dan Rido tidak terima mamanya di kasati oleh orang lain.
"Bu... tolong jaga mulutnya ya bu... sudah tua kok mulut pedes banget" celoteh Tio.
"Siapa kau... tidak usah ikut campur, saya ngak punya urusan sama kau!" sini si Ibu.
"Saya anak bu Sandra, walau bukan anak kandungnya, jadi saya akan ikut campur dengan setiap urusan mama saya!" tekan Tio garang.
"Ncek.... Dasar perempuan tidak tau asal usul, kenapa kau itu dari dulu selalu dapat simpati dari orang orang, dan juga Yuda, seharusnya Yuda itu nikah sama anak saya bukan dengan kau!" tunjuk Ibu itu.
"Kenapa Ibu marah sama saya, dan lagi saya tidak pernah merebut suami saya dari anak ibu, anak Ibu aja yang selalu menginginkan suami saya sejak saya masih sekolah dulu padahal jelas jelas mas Yuda sudah terang terang menolak Ana, tapi Ana saja yang selalu ingin bersama mas Yuda" ucap Bu Sandra.
"Itu semua gara gara kau... perempuan tak tau asal usul, coba saja kau tidak ada di kampung ini, pasti anak saya yang akan bersanding dengan Yuda.
"Kenapa nyalahin saya Bu? kan ibu yang pendatang dan mau memisahkan saya dengan mas Yuda, tapi tetap ngak bisa kan Ibu dan Ana memisahkan saya dari Mas Yuda, kami tetap bersatu" ucap Bu Sandra.
__ADS_1
"Tapi Anita bisakah merusak rumah tangga kau tetap ada orang ke tiga kan, bagaimana rasanya saudara sendiri jadi madu kau! dan punya anak lagi dari madu kau itu, enak ngak?" sinis si Ibu.
"Dia memang madu saya, tapi Mas Yuda tidak pernah mencintai dia sedikit pun, dan Anita tetap makhluk tak kasat mata di antara kami, oh... satu lagi anak Anita bukan anak Mas Yuda" ucap Bu Sandra.
Duar....
"Ba-bagaimana bisa, lalu Amira anak siapa?" kaget si Ibu.
"Amira anak Sandi Bu" ucap Bu Sandra santai.
"Tidak... itu tidak mungkin lalu bagaimana keponakan saya, apa dia masih di rumah besar itu" cemas Si ibu.
"Tentu saja mereka sudah keluar dari rumah itu, karena mereka tidak punya hak di rumah itu, pemilik sah rumah itu adalah saya dan anak saya, suami saya tidak pernah membagi sepersen pun harta kami kepada orang lain, termasuk kepada adik tirinya" tekan Bu Sandra.
"Tapi anak kau kan sudah tidak ada lagi di sini, dia kan di jadikan babu sama Ana, dan sekarang sudah tidak tinggal lagi di rumah Ana, sekarang entah sudah mati menyusul Yuda" sarkas Bu Ida.
"Kata siapa saya mati nek...? saya masih berdiri di sini dan masih bisa berziarah kubur ke makam Papa saya dan saya masih menemani Mama saya di sini, apa nenek ngak lihat wajah saya mirip siapa" sela Aisyah.
Baru lah Aisyah menyadari perlakuan Ibu angkatnya kepada dia, ternyata ada konflik di antara mereka, ternyata semua orang ini bekerja sama untuk mencelakai keluarga nya.
__ADS_1
"Ternyata demi harta kalian tega ya... menghalalkan segala cara, padahal harta yang kalian incar itu bukan hak kalian" ucap Bu Sandra.
Bu Ida hanya melengos pergi karena kalah telak dan berusaha menghubungi seseorang entah siapa orang itu, namun Bu Sandra yakin dia pasti menghubungi keponakannya, mantan istri Sandi.
"Hah... ngeri cok orang orang di sekililing mama iblis berwujud manusia semua, jadi serem gue" Tio bergidik ngeri dan ikut pusing memikirkan orang orang di sekeliling mama Sandra yang berusaha mencelakai Mama sandra dan Aisyah.
"Do.... loe kudu memperketat penjagaan Aisyah dan Mama Sandra, gue rasa masih banyak orang orang jahat di sekeliling mama dan aisyah, apa lagi sekarang Aisyah sedang hamil" ucap Ganen.
"Iya... pasti itu, gue ngak mau terjadi apa apa sama mama, istri dan calon anak anak gue" ucap Rido.
"Ya udah yuk... kita pulang kasian Aisyah dan mama sudah ke capena" putus Rara yang melihat Aisyah sedikit meringis maklum bumil itu bawa calon bayi bukan satu tapi 3 wajar dia cepat lelah.
"Ayo sayang... " ucap Rido dan landung merangkul pinggang Aisyah.
"Mau minum?" tanya Rido.
"Nanti aja Kak" ucap Aisyah sambil mepangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak.
Bersambung.....
__ADS_1