
"Ikuuuttt....." teriak Kevin dan Sindi lansung mendekat ke arah pak Bambang dan Rido yang sedang berpelukan, mereka juga ikut memeluk ke dua orang itu.
"Kalian ngapain ikut ikutan sih..." dengus Pak Bambang kesal karena acara peluk pelukannya bersama Rido terganggu, karena momen ini lah yang ke dua orang itu tunggu tunggu selama ini.
"Papa ngak boleh pilih kasih, kami juga ingin di peluk sama Papa, masa Rido aja, kami juga loh... kalau bukan karena kami Papa ngak akan bisa peluk pelukan sama Rido, jadi jangan marah klau kami juga ingin di peluk" sungut Sindi mencibir sang ayah.
Pak Bambang hanya mendengus kesal karena ulah anak gadisnya itu, akan tetapi juga ada rasa haru, entah sudah berapa lama dia tidak memeluk anak anaknya, mungkin semenjak Bundanya Rido masih ada, ya semenjak kejadian itu, istrinya suka membuat drama, sehingga membuat pak Bambang tidak betah di rumah, lebih suka menghabiskan waktu di kantor, walau pun di rumah pak Bambang lebih suka di ruang kerjanya.
"Aku rindu pelukan papa?!" ujar Sindi, sambil memeluk ketiga laki laki beda generasi itu, dengan perasaan campur aduk.
"Dek, kamu ngak usah berkecil hati, bukan kamu aja yang ngak dapat kasih sayang dari papa, kita semua sama kok, papa melakukan dengan adil, semenjak kamu hadir papa juga ngak pernah memanjakan kami, sebenarnya bukan salah papa sih, itu salah mama yang suka cari gara gara" ucap Kevin.
"Itu benar kok dek, kakak suka cari perhatian dan membuat ulah, karena ingin di perhatiin sama papa dan mama, tapi mama malah semakin sibuk ke sana ke mari menghambur hamburkan uang, pergi berlulibur entah kemana, dan kami tidak ada yang memperhatikan, andai Bunda Intan masih ada, kakak lebih suka bersama Bunda Intan, walau kakak dulu belum terlalu mengerti tapi kakak bisa merasakan kasih sayang bunda Intan" Ujar Sindi.
"Maaf kan papa?!" lirih Pak Bambang.
"Papa ngak salah, semua yang terjadi sudah takdir tuhan, seandainya mama, nenek dan kakek ngak egois, semua ngak akan seperti ini, Bunda Intan pasti masih ada" sendu Kevin.
"Sudah lah banh, jangan di ingat ingat lagu, semua sudah berlalu, Bunda ku sudah tenang di sana, bertemu dengan orang tuanya dan papa mertua ku" sela Rido, yang tidak ingin mengingat masa lalunya lagi, yang berujung membuat hatinya sakit.
"Hai... dia juga bunda abang, ingat ya.... sebelum ada kamu, kasih sayang bunda itu sudah kami rasakan, kami ini sudah menjadi anak Bunda duluan, jadi... kamu jangan merasa menjadi anak bunda satu satunya" sela Kevin.
"Ya ya, terserah abang lah, yang terpenting aku anak kesayangan bunda" ucap Rido tak mau kalah.
__ADS_1
Aisyah di tempat dia berada tersenyum senang melihat sang suami sudah berbaikan dengan papa, dan kakaknya.
"Suruh mereka makan nak" titah Bu Sandra.
"Iya Ma...." ucap Aisyah tersenyum lembut kepada sang mama.
"Ya sudah mama ke dapur dulu, mama suruh bibi menyiapkan makanan dulu" ujar Bu Sandra sambil berjalan ke arah dapur.
Sementara Aisyah memastikan anak anaknya aman dulu sebelum ikut ke dapur.
"Mereka anteng kan mbak?" tanya Aisyah kepada baby siter twins.
"Anteng Nona, ini belum bangun" jawab Baby siter.
"Baik Nona" ucap para Baby siter dengan sopan.
Aisyah turun ke lantai bawah, dan memanggil ke empat Ayah dan anak itu.
"Kak, ajak papa, abang dan Kakak makan dulu, pasti sudah lapar" ujar Aisyah, karena suaminya, masih meributkan masalah kasih sayang sang bunda yang sudah tiada.
"Ngak usah lah sayang, mereka bisa makan du luar" jawab enteng Rido.
"Haiii... adik durhakim, kami ini dari jakarta baru sempat sarapan ya... sampai sekarang belum ketemu sama nasi, dan satu lagi... kami akan menginap di rumah ini, kami ingin bermain sama twins, karena besok kami akan balik ke jakarta" ucap Kevin
__ADS_1
"Anggap aja lagi puasa, makannya nanti aja habis sholat magrib" ujar Rido tak berperasaan, bagaimana tidak, ini saja baru pukul 3 sore, namun tamu tamunya di suruh makan habis magrib.
"Astaga... kamu ini kenapa kejam sekali! cacing cacing di perut abang sudah berdemo ini Do, dan kamu suruh kami makan habis magrib, kamu ini benar benar Adik ngak punya hati!" kesal Kevin.
"Ngak usah di dengerin bang, ayo kita makan dulu, takut makanannya dingin, jadi ngak enak lagi pas di makan" ucap Aisyah mengajak semua orang untuk makan siang yang sudah ke sorean, gara gara drama ayah dan anak tadi.
"Aisyah memang baik hati dek, kok kamu mau maunya sama dia, ayo kita makan abang sudah lapar" ujar Kevin menggandeng tangan adik iparnya itu.
"Ya... itu istri aku, jangan di pegang pegang..." kesal Rido menarik sang istri agar terlepas dari abangnya.
"Huu... dasar pelit, gitu aja sewot, dia kan juga adik abang" omel Kevin.
"Bodo amat..." acuh Rido.
"Sayang... jangan mau di gandeng sama orang ya, cukup kakak saja yang mengandeng kamu" ucap Rido lembut kepada sang istri.
"Haiii... mantu papa, maaf ya, waktu itu kita bertemu dalam waktu yang tidak tepat" ucap Pak Bambang.
"Iya pa... santai aja" ucap Aisyah dengan tersenyum lembut penuh hormat kepada papa mertuanya itu.
"Kakak Sindi dek..." sela Sindi juga.
"Iya kak, salam kenal aku Aisyah" ujar Aisyah.
__ADS_1
"Ya sudah ayo makan dulu, nanti saja kenalannya, perut ku sudah perih ini" keluh Kevin yang tidak sabar bertemu nasi.