Nikah Rahasia

Nikah Rahasia
Bab 125


__ADS_3

"Yo.... tolong petikin mangga di pohon belakang, dan sekalian buatin bumbu rujaknya, anak gue ingin loe yang bikinin" titah Rido, yang membuat Tio syok.


"Apaaa..., apa loe masih waras, itu pohon mangga setinggi alaihin dan banyak semut rang rang, masa gue di suruh manjat pohon itu, bikin bumbu rujak ok lah, klau manjat ogah gue, ngak mau gue mati konyol, belum juga gue ngerasain surga dunia" tolak Tio sambil menggelengkan kepala.


"Hiks... hiks... huaaa...." Aisyah lansung menangis kejar, karena permintaan di tolak oleh Tio.


Mendengar Aisyah menangis kejar, Tio dan Rido kelabakan, jangan tanya Ganen dan Rara sudah mengatupkan bibirnya dalam dalam, agar tidak menyemburkan tawanya, drama baru di mulai, pikir mereka.


"Tio!" tekan Rido dengan mengeraskan rahang, agar Tio mau memetik Mangga di taman belakang itu.


"Ncek... iya iya, gue ambil, udah dong Ca, jangan nangis lagi, gue ambil nih" Tio berjalan ke belakang rumah dengan setengah hati, dia sedang membayangkan memanjat pohon mangga yang lumayan tinggi dan berpohon besar itu, di tambah banyak semur rang rang di pohon itu.


"Astaga Ibu hamil itu kenapa bisa menyiksa gue kayak gini amat sih, salah dan dosa apa gue sama dia?" keluh Tio sambil berjalan sambil menggerutu.


Aisyah, Rido, ganen dan Rara, mengikuti Tio dari belakang, menuju ke taman belakang, untuk melihat aksi Tio memanjat pohon mangga tersebut.

__ADS_1


Tio memandangi pohon mangga itu dengan seksama, seberapa tinggi dan dimana buah mangga terdekat yang bisa dia petik.


"Ya ampun... tinggi banget" keluh Tio, memandang pohon mangga itu.


"Ayo buru di panjat, jangan di lihatin doang" omel Aisyah yang sudah tidak sabar untuk memakan buah mangga muda itu.


"Iya iya sabar dong, ini gue juga lagi baca do'a biar selamat naik dan turun pohon mangga" gerutu Tio.


"Hai... bocah, masih dalam perut saja kamu sudah menyusahkan Papi, awas saja nanti klau keluar kamu ngak nurut sama Papi, Papi snack down kau" kekeh Tio.


"Woii.... mau gue lempar ke afrika loe ya, sekate kate, anak gue di suruh manggil loe dengan sebutan Papi, kagak ada, nanti anak gue manggil loe, uwa, itu cocok buat loe" dengus Rido.


loe bisa cari panggilan lain, ngak ada panggil panggil uwa, ngak cocok sama gue yang ganteng ini" dengus Tio.


"Udah ngak usah ngomel mulu, panjat itu pohon, jangan sampai anak gue ileran gara gata loe kelamaan metik buah mangga" sewot Rido.

__ADS_1


"Iya iya..." kesal Tio, dia lansung mengambil ancang ancang untuk memanjat pohon mangga itu, walau sedikit ke sulitan, namun Tio bisa memanjat pohon mangga itu dengan baik.


"Itu yo, di atas kepala loe" teriak Aisyah kegirangan.


Tio berhasil memetik beberapa biji buah mangga, dan melemparkan ke bawah, dan lansung di sambut oleh Rido dan Ganen.


"Cukup Yo, sudah banyak ini" teriak Aisyah. Tio pun turun dari pohon itu dengan sedikit terburu buru.


Rupanya badan Tio habis di gigitin oleh semut rang rang, menimbulkan bentol bentol merah di tumbuh Tio.


"Ehh... kamvret... habis ini badan gue di gigitin sama semut rang rang, Tio lansung membuka bajunya, dan mengibas ngibas baju di sana.


"Ntar kasih minyak kayu putih, sekarang bikinin dulu bumbu rujaknya" tita Aisyah tanpa perasaan.


"Astaga bumil, loe mah ngak ada khawatir khawatirnya gitu, minimal merasa bersalah dikit, ngelihat badan gue sudah tidak menarik lagi ini" keluh Tio memelas melihat ke arah Aisyah.

__ADS_1


Aisyah hanya melengos acuh, mendengar keluhan Tio.


Bersambung...


__ADS_2