
Hari berganti minggu berlalu, hari ini di adakan syukuran dan aqikah baby twins di rumah besar Rido.
Kevin ikut datang ke acara sang keponakan tak ke tinggalan Sindi merengek ingin melihat keponakannya, semenjak Kevin mengamuk dan menumpahkan segala uneg unegnya tentang fakta sang adik, pikiran Sindi sedikit terbuka memandang sang adik, di tambah apa yang di katakan oleh abangnya itu ada benarnya.
Semenjak Rido melepas tanggung jawab yang di limpahkan oleh Intan Pratiwi Ibu kandung Rido itu di perusahaan sang Ayah, ke adaan AN group sedikit goyah sepeninggal Rido.
Mereka kalang kabut mencari Rido namun Rido tidak pernah mereka temukan, walau pun Kevin mengetahui di mana sang adik berada dia lebih memilih diam, agar semua keluarganya itu bisa menyadari kesalahan mereka, betapa berpengaruhnya seorang Rido anak yang mereka remehkan itu, terutama Sang mama dan Nenek, Kakek dari mamanya yang ke marukan harta itu.
Sementara itu Kevin lebih fokus mengelola rumah sakitnya, tanpa perduli dengan perusahaan sang abang, dia masa bodoh, diam diam Kevin sengaja membagi beberapa persen saham untuk sang adik.
"Bang... aku ikut ya, aku ingin melihat keponakan keponakan ku itu" rengek Sindi kepada abangnya itu, saat di beri tahu oleh sang kakak klau dia ingin menghadiri syukuran baby Twins Sindi juga semangat membeli hadiah untuk keponakannya itu, tanpa sepengetahuan sang abang, di izinkan atau tidak, dia akan tetap ikut bersam sang abang.
"kamu ngak takut di marahi oleh mama, kamu tau sendirikan klau mama tidak menyukai Rido, apa lagi dia tau klau kamu akan berkunjung ke kampung halaman Bunda Intan" ujar Kevin yang masih mengemasi barang barang bawaannya di koper yang berada di apartemennya itu.
Semenjak kejadian Rido tidak mendapatkan bagian harta dari keluarganya itu dan keributan yang terjadi saat itu, Kevin juga ikut meninggalkan rumah besar sang Ayah, dia lebih memilih tinggal di apartemen yang tidak jauh dari rumah sakit yang dia kelola.
"Aku akan bilang liburan bersama abang, biar mama ngak marah marah" ujar Sindi.
"Ya sudah terserah kamu, klau kamu ketahuan, kamu bisa bisa di amuk dan di usir mama dan kembali mengancam akan mengambil butiq yang kamu kelola abang ngak mau ikut campur" ujar Kevin memperingati sang adik.
"Silahkan ambil aku ngak perduli lagi, dengan senang hati akan ku serahkan, aku akan merintis usaha ku sendiri tanpa embel embel nama besar Atmaja" sungut Sindi yang sudah muak di tekan terus terusan oleh sang mama.
__ADS_1
"Wooo.... adik ku sudah besar, dan sudah bisa mengeluarkan taringnya, apakah kamu ngak takut jatuh miskin, dan di jauhi oleh teman teman sosialita kamu itu" ejek Kevin, sejujurnya dia bangga sama sang adik yang tidak mau di setir oleh sang mama yang kemarukan itu.
"Buat apa aku takut miskin, buktinya adikku aja bisa hidup di luar sana tanpa embel embel nama besar Atmaja, dan seandainya aku di jauhi oleh teman temanku, jadi aku semakin tau siapa teman yang benar benar tulus menemaniku saat aku berada di bawah" ucap Sindi sungguh sungguh.
"Baiklah baiklah kamu boleh ikut" pasrah Kevin pada akhirnya.
"Aaakkk..... makasih abang...." ucap Sindi meloncat dari duduknya dan memeluk sang abang dengan erat, Sindi begitu bahagia di izinkan ikut oleh abangnya itu.
"Lepasin dek, sesak ini... abang ngak bisa nafas, kamu mau bunuh abang ya... uhuk.... uhuk..." oceh Kevin sambil terbatuk batuk, karena lehernya di kekep sama sang adik.
"Hehehe... maaf abang, aku terlalu bersemangat" kekeh Sindi dengan wajah bersalahnya.
Sementara seseorang yang mendengar obrolan dua kakak beradik itu, di balik pintu apartemen yang sedikit terbuka, mengembangkan senyum harunya, dan mata berkaca kaca, dadanya mulai sesak.
Tadinya Pak Bambang ingin mampir dan mengobrol ringan dengan anaknya itu, semenjak Kevin keluar dari rumah besarnya, memang Pak Bambang lebih suka datang berkunjung ke apartemen sang anak, namun tidak sengaja hari ini dia mendapatkan kejutan, ternyata anak bontotnya sudah mempunyai anak, apa lagi anaknya kembar, Pak Bambang sungguh terharu mendengar percakapan ke dua anaknya.
Pak Bambang pergi dari apartemen itu dan menghubungi seseorang dari ponselnya.
"Hallo tolong kamu sediakan saya hadiah untuk kelahiran bayi kembar tiga, dan besok pagi pagi sekali kamu tolong suruh anak buah kamu mengawasi perjalanan kevin bersama Sindi, dan kamu ikut dengan saya membuntuti Kevin dan Sandra" tegas Pak Bambang.
......
__ADS_1
"Baiklah.... untuk hari ini cukup itu saja tugas kamu, jangan lupa besok pagi pagi sekali kamu jemput saya dan jangan lupa hadiah yang saya minta" terang Pak Bambang.
Tut....
Tut....
Pak Bambang lansung mematikan sambungan telpon secara sepihak, dan tidak perduli orang di seberang sana sedang mengumpat kesal.
"Intan... ternyata kita sudah punya cucu, cucu kita bukan hanya satu tapi tiga, maaf, maafkan saya, yang tidak perduli kepada kalian, maafkan saya telah merusak hidup kamu dan menelantarkan kamu bersama anak kita, saya bodoh Intan, saya sangat bodoh dan saya menyesal telah mengabaikan kalian selama ini, maaf saya mungkin tidak akan cukup untuk semua perbuatan saya pada kalian" gumam Pak Bambang sambil mengelus sebuah foto usang, di foto tersebut ada seorang wanita muda yang sedang menggendong bayi laki laki sedang tersenyum cantik melihat matahari pagi di sebuah danau dekat tempat tinggal mereka.
Foto tersebut adalah foto Bu Intan yang diam diam di ambil oleh Pak Bambang saat itu, diam diam pak Bambang mengikuti Bu Intan membawa buah hati mereka berjalan jalan pagi di pinggir danau.
Bukan Pak Bambang tak punya perasaan kepada istri siri nya itu, klau boleh di bilang mungkin cintanya telah tumbuh sebelum ke jadian malam itu, namun dia sebagai seorang suami dan seorang ayah tentu saja menekan perasaan itu, apa lagi dia merasa sangat bersalah telah mengkhianati sang istri meniduri wanita lain, namun dia salah bukan hanya istri sahnya saja yang terluka, bahkan istri siri nya jauh terluka dan tersakiti, apa lagi semenjak pernikahan mereka, tak sekalipun Pak Bambang berada di sisi sang istri, Bu Intan benar benar di anggap sampah tak berharga oleh keluarga pak Bambang dan pak Bambang yang tidak peka.
Padahal semua itu bukan lah kesalahan Bu Intan, semua itu adalah jebakan rekan bisnis Pak Bambang sendiri, Bu Intan rela meninggalkan calon suaminya, padahal calon suami dan calon mertuanya menerima Bu Intan dengan segala ke lebihan dan kekurangannya, namun Bu Intan bersikeras untuk menyudahi hubungan mereka, karena merasa tidak pantas lagi untuk calon suami dan juga calon mertuanya itu, apa lagi dia tau, karena kejadian malam itu Bu Intan sampai hamil, semakin lah rendah diri Bu Intan.
Sesal Pak Bambang sudah tidak berguna lagi, sang istri siri telah pergi untuk selama lamanya, dan sang anak pun ikut pergi menjauh dari jangkauannya, walau dulu dia tetap diam diam memperhatikan kehidupan sang anak dari jauh, namun kini tak ada lagi akses untuk menemui dan melihat sang anak, anak itu menghilang bak di telan bumi.
Pak Bambang berhenti di sebuah danau, dimana tempat paforit istri siri nya itu suka menghabiskan waktu bersama Rido dulu.
Pak Bambang duduk di kursi usang yang selalu diam diam menyuruh orang untuk merawatnya, hanya itu kenang kenangan yang dia dapat dari sang istri.
__ADS_1
"Seandainya kamu masih ada di sini, pasti kamu akan membawa cucu cucu kita bermain di sini" gumam Pak Bambang dengan mata yang berkaca kaca, mengelus sayang bangku taman itu.
Bersambung.....