Nikah Rahasia

Nikah Rahasia
Bab 119


__ADS_3

Saat melihat Aisyah dan Rido keluar dari poli kandungan, ke tiga teman temanya, lansung berdiri dan memberikan kursi Roda.


"kita ke kamar Aisyah dulu, nanti gue kasih tau" ucap Rido sedikit ada senyum tipis di bibirnya, teman temannya, kini tau apa yang akan di sampaikan oleh Rido pertanda baik.


Mereka mengangguk dan mengikuti Rido dari belakang yang sedang mendorong Aisyah.


Ceklek...


Tio membukakan pintu ruang rawat Aisyah, Rido lansung menggendong sang istri ke atas badnya, perawat yang mengiringi aisyah seperti tidak punya kerjaan mengikuti pasien satu itu, keluarga nya lebih sigap dari mereka bekerja.


"Makasih sus.." ucap Aisyah saat suster sudah memeriksa selang infusan Aisyah itu. suster undur diri dari ruang Aisyah.


Tinggal lah mereka ber lima, di ruangan itu.


"Jadi gimana?" tanya Tio yang tidak sabaran.


"Ica hamil enam minggu, ternyata anak gue ada dua" senyum Rido lansung mengembang menatap Aisyah, tangan Rido tidak henti hentinya mengelus perut rata sang istri.


"Bayi Ica kembar? jadi kami bakal punya dua ponakan sekaligus!" teriak Tio ke girangan.


"Aaa... Ica.... selamat ya... akhirnya gue punya ponakan banyak..." Rara langsung memeluk Aisyah dan mencium aisyah hangat.


"Selamat ya Ca..." semoga loe sama dede yang masih di dalam sana baik baik sampai nanti ketemu kita" ucap Ganen tersenyum senang.


"Makasih ya, kalian selalu ada buat gue, dan siap siap nanti klau gue ngidam" Aisyah menaik turunkan alisnya, tapi matanya lansung melihat ke arah Tio.


"Anak papa, ngak boleh nyusahin papa ya nak?!" goda Tio, Rido lansung melotot mendengar ucapan Tio yang mengaku aku dirinya papa si kembar, mana terima Rido tentang itu.


Puk....


"Anak gue itu! sembarangan kau...!!" kesal Rido memukul bahu Tio.

__ADS_1


"Ahahaha.... kenapa emang, biarin aja anak loe manggil gue papa, kan loe bisa cari sebutan lain" kekeh Tio.


Rido hanya mendengus kesal, melihat wajah tengil Tio itu.


"Kak... aku ngak mau ketemu om Sandi lagi?!" keluh Aisyah.


"Ngak sayang, ngak ada yang bisa nemuin kamu, anak anak sudah jagain Ica kok, ngak usah takut, mereka ngak akan bisa nemuin Ica.


Rido menarik nafasnya dalam dalam, dia sebenarnya takut untuk memberi tahu sang istri sekarang, namun bagai mana lagi, ini harus selesai secepatnya.


"Sayang.... Ica mau ngak ketemu seseorang?" tanya Rido hati hati, dia ngak mau membuat istrinya terbebani, dimana saat ini sang istri lagi hamil muda, emosinya turun naik, Rido tidak akan memaksa sang istri seandainya Aisyah tidak mau.


"Siapa Kak... apa orangnya juga pemaksa" cemberut Aisyah.


"Ngak, sayang... dia sekarang, juga sedang di rawat di rumah sakit ini?!" tutur Rido.


Aisyah lansung menatap bingung ke arah Rido.


"Ngak, ngak kenal, tapi mungkin sebentar lagi akan menjadi bagian dari kita" tutur Rido tersenyum.


"Maksudnya...?" tanya Aisyah bingung.


"Biar Ica ngak penasaran, gimana klau kita ke ruangan dia aja" rayu Rido.


Aisyah mengangguk, entah kenapa dia sangat penasaran dengan orang itu, jantungnya berdetak sangat kencang.


"Ayo antar Ica ke sana?!" semangat nya.


Rido mengangguk dan mengakat Aisyah ke atas kursi roda, Rara juga penasaran dengan orang yang akan di temui Aisyah itu, namun tidak untuk Tio dan Ganen.


Bahkan ke dua cowok itu menatap sendu Aisyah, entah apa yang akan terjadi sama ibu hamil itu nantinya.

__ADS_1


Rido mendorong Aisyah ke arah lift, dan naik ke lantai 6, kembali mendorong Aisyah ke sebuah kamar rawat, yang sudah di jaga beberapa orang di sana.


"Boss..." sapa anak buah Rido dengan sopan saat melihat Rido, mereka yang sedang duduk lansung berdiri dan menunduk hormat kepada Rido.


Rido hanya mengangguk dengan wajah datar nya.


"Gimana ke adaan nya?" tanya Rido.


"Sudah lebih baik bos, tadi sudah di mandikan sama perawat" ucap anak buah Rido.


Rido mengangguk tanda mengerti.


"Jangan sampai lengah, selalu waspada, tapi jangan terlalu mencolok, klau mau istirahat bergantian, jangan sampai tidak ada yang menjaga!" titah Rido.


"Siap boss..." jawab anak buah Rido.


Ceklek....


Rido membuka pintu kamar itu, dan masuk sambil mendorong Aisyah.


Jantung Aisyah semangkin berpacu, melihat orang yang terbaring di atas bad sana, entah kenapa air mata Aisyah tanpa permisi lansung keluar, melihat pemandangan itu.


Wanita paruh baya, yang kurus kering di atas bad itu pun tak kalah kaget dan memandang Aisyah dengan tatapan yang sulit di arti.


"Namira, anak mama, apakah itu kau nak?" ucap sang ibu itu dengan suara lirihnya.


Deg.....


Jantung Aisyah semangkin berdetak kencang, saat ibu itu mengeluarkan suara dan menyebut nama Namira, dan melihat tatap sendu itu, Aisyah merasa tidak asing, dan merasa mereka sangat dekat.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2