Nikah Rahasia

Nikah Rahasia
Bab 155


__ADS_3

"Kak..." panggil Ica manja.


Rido lansung tersenyum mendengar suara manja sang istri, dia tau pasti istri cantik nya itu minta sesuatu.


"Apa sayang... kenapa hmmmm..." tanya Rido mendekat ke arah sang istri yang sedang duduk santai di balkon kamar mereka.


"Ica pengen martabak telor spesial" rengek Aisyah manja.


"Ya udah... kita beli" ajak Rido.


"Tapi... Ica pengen Tio yang bikinnya di tempat penjual martabak itu" manyun Aisyah, membuat Rido terkekeh, semenjak hamil Aisyah seringkali menyusahkan Tio ketimbang dirinya, entah punya dendam apa calon calon bayinya itu kepada sahabat baiknya itu, entah lah.... Rido sendiri juga tidak tau.


"Baik lah... kita cari Tionya" ucap Rido menarik lembut tangan sang istri.


"Yo..... Tio.... dimana loe...." teriak Rido saat sampai di tangga paling bawah.


"Alamak.... apa lagi ini?" gerutu Tio yang sedang tidur tidur ayam di ruang tv bersama yang lainnya.


Kepanikan Tio itu di sambut kekehan oleh yang lainya, pasti Aisyah pengen meminta sesuatu, tapi harus Tio yang melakukannya.


"Yo...." panggil Rido lagi.

__ADS_1


"Iya... berisik loe, gue di sini" balik berteriak dari ruangan tv sana, namun tidak beranjak sama sekali, dia masih enak enak memejamkan matanya.


"Yo... ayo temanin gue beli martabak telor" ujar Rido sambil menggandeng tangan sang istri.


"Kalian aja yang pergi gue lagi males, mata gue ngantuk, badan gue mendadak lemas" oceh Tio, dia tau pasti Aisyah mau mengerjai nya.


Mendengar penolakan Tio tersebut, Aisyah lansung berjalan ke arah Tio, dan menjewer kuping kuping Tio tanpa ampun.


"Aduhh... aduh... lepas Ca, sakit ini kuping gue, lama lama kuping gue bisa panjang atau ngak bisa putus ini!" keluh Tio melihat sikap bumil yang bar bar itu.


"Lagian siapa suruh loe nolak permintaan gue" sewot Aisyah sambil melotot ke arah Tio, lansung membuat nyali Tio menciut.


"Ya ampun perempuan ini... kenapa sejak hamil sudah kaya macan kurang sajen aja sih..." gerutu Tio dalam hati.


"Boleh... tapi ada syaratnya" kekeh Aisyah, yang dengan tersenyum penuh arti pula.


"Haduuhhh.... perasaan gue kenapa tiba tiba ngak enak sih" gumam Rido.


"A-apaa... syaratnya" tanya Tio tiba tiba jadi jadi gagap.


"Ikut kita beli martabak telor spesial, tapi kamu yang bikinin, tapi... harus pakaian goyang dombret" ucap Aisyah tanpa dosa.

__ADS_1


Haaa.....


Semua orang cengok mendengar permintaan Aisyah tersebut, tak lama juga kembali tertawa berjamaah... mendengar permintaan ini hamil itu.


"Buahahahaha..... malang banget nasib kamu Yo Yo..." oceh Rara.


Tio hanya mendengus kesal mendengar ejekan teman temannya itu dan matanya mendelik kasal.


"Puas kalian mentertawai penderitaan gue" kesal Tio mempelototi para sahabat kurang akhlaknya itu.


"Wissss.... jangan marah marah dong, kita akan menemani loe klau gitu" kekeh ganen.


"Sudah tau gue klau kalian mau ikut, kalian bukan ingin membantu gue, tapi kalian mentertawai penderitaan gue di sana" sungut Tio sewot.


"Ncek suudzon aja sih loe, ayo kita jalan sekarang, takutnya nanti anak anak Rido bisa ileran saat lahir karena permintaannya tidak ke sampaian" cecar Rara padahal dia datang ke taman itu, memang mau melihat penderitaan Tio saja.


Dan kini di sini lah mereka, di sebuah taman yang sangat terawat dan juga sangat bersih dari taman taman lainnya.


Tio benar benar di kerjain oleh Aisyah, kini Tio sedak membuat martabak untuk bumil itu, dia rela di tertawakan oleh orang orang yang berada di taman tersebut dan juga rela memakai baju warna pink, dan beruntungnya, bumil itu hanya menyuruh Tio memakai baju pink itu saat di membuat martabak saja, setelahnya dia bolehkan mengganti pakaiannya, tapi dengan syarat harus berdansa dengan dengan nenek nenek yang dari tadi ke genitan melihat Tio, sontak permintaan Aisyah itu mengundang gelak tawa orang orang yang ada di taman itu namun tidak dengan Tio, dia menggerutu kesal dengan permintaan Aisyah itu.


Mau tak mau akhirnya Tio mengajak nenek nenek itu untuk berdansa, itu berhasil membuat taman itu jadi riuh.

__ADS_1


Rio dengan muka masam nya, sang nenek dengan wajah cerahnya.


Bersambung.....


__ADS_2