
"Do, maafin kesalahan Ayah, Ayah tau seberapa kali pun ayah minta maaf, kesalahan ayah tetap tidak akan bisa termaafkan, ayah sudah zolim kepada anak dan istri ayah sendiri" ucap Pak Bambang, saat ini mereka di tinggal berdua oleh penghuni rumah itu, mereka tau ada yang harus di selesaikan oleh Ayah dan anak itu.
"Kenapa baru sekarang ayah minta maaf, dan kenapa baru sekarang ayah sadar, kenapa bukan saat Bunda masih ada, dimana ayah saat Bunda butuh ayah, di mana ayah di saat bunda meninggal, ayah hanya datang kepemakaman bunda sebentar saja lalu pergi, dan di mana ayah saat ayah meminta aku tinggal di rumah ayah, namun ayah lebih suka di luar dan tidak memperdulikan aku, dan ayah ngak ada saat istri dan anak anak ayah membenciku dan memukul ku, bahkan mereka berbuat kasar di depan ayah, ayah hanya diam tidak pernah membela ku" Rido mengeluarkan semua uneg unegnya kepada sang ayah.
Pak Bambang hanya tertunduk mendengar curahan hati anaknya itu, dia memang salah, tidak ada saat anak membutuhkan dirinya, dia memang tidak bisa membela anaknya itu, saat di perlakukan kasar oleh keluarganya, bukan Pak Bambang tidak perduli, namun ancaman dan keluh kesah sang istri yang merasa tersakiti lah selalu membuat pak Bambang selalu tidak berdaya.
"Kenapa ayah diam, ayah ngak bisa jawab kan, karena aku memang terlahir tidak pernah ayah harapkan dan aku lahir memang karena kesalahan, ayah benci bukan... karena aku lahir ke dunia ini" sergah Rido.
"Nak tolong jangan ngomong seperti itu, ayah tidak menyesal kamu lahir ke dunia ini, ayah juga tidak menyesal menikah dengan bunda mu nak, cuma ayah yang terlalu lemah, yang tidak bisa memberikan kasih sayang ayah kepada kamu dan bunda mu, ayah juga tidak adil sama kalian, ayah tau itu" ucap Pak Bambang sendu.
__ADS_1
"Aku dan Bunda ku tak butuh harta ayah, karena tanpa harta ayah pun bunda sudah kaya raya sampai tujuh turunan, yang kami butuhkan hanya sedikit waktu dan perhatian dari ayah, cuma itu tidak ada yang lain, tapi ayah tidak bisa kabulkan sampai Bundaku tiada" sergah Rido.
"Maafkan ayah, ayah bukan tidak ingin datang kepada kalian, ayah hanya tidak ingin selalu ribut sama istri ayah nak, ayah selalu di mata matai oleh dia, setiap ayah ingin menemui kalian di apartemen ayah selalu di cegat oleh orang suruhannya, dan mengancam akan mencelakai kalian, ayah tidak ingin kalian celaka, oleh sebab itu ayah tidak menemui kalian, ayah hanya meminta orang menjaga kalian dari jauh, dan ayah juga tau tempat poforit kamu dan bunda mu, setiap ayah menerima kiriman foto dimana kalian berada, kalian terlihat senang dan tertawa lepas, ayah fikir tanpa kehadiran ayah kalian akan bahagia, namun ayah salah" Pak Bambang berbicara panjang lebar sambil menahan sesak di dadanya, dan air mata yang dari tadi susah payah dia tahan namun pertahanan itu jebol juga.
Rido hanya bisa diam seribu bahasa, apa yang di ucapkan ayahnya memang ada benarnya juga, perempuan yang bergelar istri ayahnya itu memang lah wanita serakah dan tidak tau balas budi, dan hanya mementingkan diri sendiri.
Diam diam di balik dinding sana ada dua pasang kuping yang sedang menguping pembicaraan mereka sambil menahan esak di dada masing masing.
"Em... mama memang sangat jahat, dia tega menelantarkan adik kita, bahkan perusahaan kita maju juga berkat Bunda, mama hanya bisanya foya foya dan jalan jalan kesana kemari, taunya minta uang terus tanpa tau perusahaan suaminya dalam masalah, namun Bunda walau bukan siapa siapa selalu membantu papa memecahkan masalah perusahaan, agar perusahaan kembali membaik, dan bunda juga ngak menggoda ayah kok, ayah dan bunda kan di jebak oleh rekan bisnis ayah, coba klau yang di tiduri wanita licik itu, abang ngak bisa bayangin, kita bakal hidup seperti apa, namun pikiran mama ngak sampai ke situ, padahal bunda ngak pernah minta apa pun sama ayah, bahkan apartemen yang Rido pakai itu adalah apartemen bunda sendiri bukan ayah yang beli" terang Kevin.
__ADS_1
Saking asiknya mereka bercerita tentang mamanya, mereka malah lupa melihat ayah dan anak di sana sudah berpelukan layaknya teletubis.
"Eehhh.... marahannya udah yang bang, kok udah pelukan aja" polos Sindi.
"Astaga kita ketinggalan, ayo kita ikutan, enak aja kita ngak di ajak pelukan, jarang jarang kan kita kaya gini" ujar Kevin melangkah sedikit lebar ke arah ayah dan adiknya yang sedang berpelukan itu, di susul oleh Sindi dari belakang tak kalah semangatnya.
Aisyah dan Bu Sandra juga ikut meneteskan air mata melihat ayah dan anak itu sudah baikan.
"Kami ikuuuuttt....."
__ADS_1
Bersambung...