
Mereka sampai di kampung Bu Sandra di atas bukit sepuas mata memandang, mereka di manjakan dengan hijaunya tanaman teh.
"Waahhh.... ini indah sekali.." pekik Rara yang sengaja membuka kaca mobil dan merasakan terpaan hawa dingin menusuk ke kulit nya, karena hari memang sudah mulai senja dan tentu saja udara sudah mulai dingin.
"Ma... kampung mama indah banget.." tutur Aisyah yang juga ikut membuka kaca mobil.
"Kampung kita sayang.." ralat Bu Sandra.
"Hehehehe... iya, Ica lupa" cengenges Aisyah.
"Dingin sayang.." ucap Rido dan menyelimuti sang istri dengan selimut yang sudah tersedia di mobil itu.
Aisyah hanya tersenyum menoleh kepada sang suami, dan membelai rahang kokoh Rido itu dari depan.
Tak lama mereka sampai di depan rumah Bu Sandra, yang sudah di renovasi oleh Rido.
"Ini...." Bu Sandra tidak bisa berkata kata lagi, dia pikir rumah kenangan dia dan almarhum suami sudah hancur, karena sudah puluhan tahun tidak pernah di tempati.
"Aku menyuruh anak buah ku untuk merenovasi rumah ini seperti semula" ucap Rido memeluk bahu mama mertuanya.
"Terimakasih nak" ucap Bu Sandra sambil memeluk menantu baiknya itu.
"Mama suka..." tanya Rido.
__ADS_1
"Hmmm... suka banget, ini rumah kenangan mama dan papa" ucap Bu Sandra.
Rido mengusap usap bahu mama mertuanya itu, dia tau mertuanya itu sangat merindukan suami tercintanya.
"Ayo kita masuk, di luar udara sangat dingin" putus Rido dan membawa dua wanita kesayangannya itu masuk ke dalam rumah.
Mereka masuk ke dalam rumah itu, dan Bu Sandra meneteskan air mata melihat foto foto yang di pajang di dinding rumah itu, foto pernikahannya dan foto dia bersama sang suami, dan foto dia saat hamil Aisyah dan suaminya mencium perut buncit Bu Sandra.
Aisyah juga ikut meneteskan air matanya, melihat foto foto tersebut dan dia juga melihat betapa papanya sangat menyayangi mamanya, itu terlihat dari cara pandang sang papa saat menatap mamanya.
"Itu papa Namira" tunjuk Bu Sandra ke arah foto suaminya.
Aisyah menganggukan kepalanya.
"Besok kita ke makam Papa, kalau Ica sudah ngak capek, soalnya makam papa sedikit menanjak, jadi Ica harus kuat" ucap Rido lembut.
Aisyah hanya menganggukan kepalanya, menurut apa yang di bilang sang istri.
"Ma... rumah nya sedikit aku perbesar ya ma... soalnya kita ke sini pasti bakal selalu rame sama curut curut itu, jadi Rido menambah beberapa kamar" ucap Rido.
Bu Sandra terkekeh mendengar Rido mengatai teman temannya curut, dan yang di katai, hanya memutar mata malas.
"Iya ngak pa apa... memang kita sekarang keluarga besar, apa lagi sebentar lagi cucu cucu mama akan lahir, jadi rumah ini bakal semangkin rame klau kita berlibur ke sini" ucap Bu Sandra.
__ADS_1
Rido tersenyum lega, ternyata mertuanya hanya mau rumah ini di jadikan tempat berlibur, dan itu bearti mertuanya akan ikut sama mereka kembali ke kota xx.
Rumah itu sudah di penuhi dengan perabotan rumah tangga dan sudah ada sofa, meja makan, dapur yang sudah lengkap dengan bahan makanan, snack dan minuman di dalam kulkas, Rido sengaja menyuruh orang kepercayaannya mengisi kebutuhan mereka selama di sini, sebelum mereka sampai di kampung itu.
"Ayo... sayang, bersih bersih dulu" Rido mengajak sang istri masuk ke dalam kamar mereka yang ada di rumah itu, teman temannya jangan di tanya, sudah lebih dulu mencari kamar masing masing.
"Mama juga bersih bersih dulu" ucap Bu Sandra masuk ke dalam kamarnya.
Dan Rido tau di kampung itu cuacanya lebih dingin dari tempat tinggal mereka dan Rido juga menyediakan air panas untuk mandi.
Bu Sandra masuk ke dalam kamarnya, yang dulu kamar dia bersama sang suami, walaupun isi kamar itu tidak ada lagi yang asli saat dia dan suaminya tempati dulu, namun sang menantu dengan bersusah payah membuat kamar itu menjadi seperti kamar dia dulu.
Dia terpaku melihat sekeliling kamar itu, kenangan demi kenangan bersama sang suami datang berseliweran dalam ingatannya.
"Mas, aku pulang bersama anak kita, sekarang anak kita sudah menikah, suaminya sangat menyayangi anak kita, sama seperti kamu dulu yang sangat menyayangi aku, bahkan sebentar lagi kita akan mempunyai cucu kembar" gumam Bu Sandra yang terduduk di pinggir tempat tidur sambil memeluk figura di tangannya.
"Kamu tenang di sana ya mas... lihat kami dari sana, bersabar lah, suatu saat nanti aku akan menyusul kamu ke sana mas, tunggu aku, aku mencintai kamu... sangat!." gumam Bu Sandra sambil menangis tergugu.
Bu Sandra larut dalam lamunanya, mengingat kenangan demi kenangan bersama sang suami.
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan vote ya... 😘😘😘
__ADS_1