
Setelah memberikan makanan dan sedikit uang kepada gelandangan tadi, kini Aisyah dan teman temannya duduk di sebuah bangku di taman itu, tepatnya hanya makanan mereka yang di tarok di bangku tersebut, sedangkan mereka duduk lesehan di rumput taman itu.
"Ca..." panggil Rara.
"Hmm..." jawab Aisyah yang mana mulutnya penuh dengan makanan.
"Kok, loe bisa lihat ada gelandanga di sana, dan kenapa loe ngasih makanan?" tanya Rara.
"Tadi saat kita lewat, gue lihat anak sama ibu itu duduk di dekat lampu merah situ" tunjuk Aisyah ke lampu merah yang tidak jauh dari ibu itu berada.
"Tadi kan kita berenti di sana, karena lampunya sedang merah, trus gue dengar anaknya minta makan sama ibu itu, tapi ibu itu jawab dia ngak punya uang, sabar ya nak, besok kita makan sekarang kita beli obat dulu buat adek" ucap Aisyah sendu.
Teman temannya mendengarkan saja Aisyah bercerita.
"Gue ingat waktu dulu sebelum nikah sama kakak, gue suka nahan sakit perut karena nahan lapar, dan pernah suatu ketika gue sakit, gue ngak di kasih makan dan ngak di kasih obat, mereka Ibu angkat gue lagi enak enak makan enak se keluarga, gue kelaparan mereka ngak perduli" ucap Aisyah meneteskan air mata.
__ADS_1
Rido tidak tahan melihat sang istri menangis, dia merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
Rara, Ganen dan Tio miris mendengar cerita Aisyah.
"Akhirnya gue pergi ke luar rumah, dan ketemu sama ibu baik hati dan gue ngak tau siapa dia, itu pertama dan terakhir kalinya gue ketemu dia, dia kasih gue makanan dan sedikit uang, dia juga beliin gue obat, dari situ gue berjanji, suatu saat gue punya uang tidak perduli itu banyak mau pun sedikit, saat ada yang membutuhkan akan gue tolong" lanjut Aisyah.
Rido semangkin mempererat pelukannya.
"Sudah adek sekarang sudah ada kakak, kakak pastikan tidak akan pernah membuat adek kelaparan lagi sayang, kakak akan bekerja keras untuk adek" ucap Rido membelai kepala sang istri.
"Tau ngak kalian, gue pertama tama makan mie rebus saat di beri sama Rara waktu ngerjain tugas di rumah Rara, itu makanan paaalliiinnnng mewah..... gue makan saat itu, klau tidak malu saat itu ingin gue jilat mangkoknya" ucap Aisyah.
Rara sampai meneteskan air matanya, dia tak sangka sahabatnya begitu menderita.
Ganen mendesah, karena mendengar cerita Aisyah, baginya makanan itu sudah biasa, namun bagi sahabatnya suatu barang mewah, pantas saja, setiap ketemu makanan sahabatnya itu selalu berbinar rupanya itu masalahnya.
__ADS_1
Tio sedih bercampur bersyukur, dia memang bukan dari kalang orang berada cenderung miskin namun makan mie goreng apa mie rebus bagi dirinya itu sudah biasa di temukan di rumah nya, namun bagi Aisyah suatu yang langka.
Rido jangan di tanya, dia semangkin mempererat pelukannya kepada sang istri, dia menyesal kenapa tidak dari dulu saja menemukan sang istri, klau tau begitu menderita pasti dari dulu sudah dia bawa, tidak perduli apa kata orang dari pada melihat istri cantiknya sangat menderita.
"Saat aku di nikahi kakak malam itu, perutku sangat lapar, mana dingin habis hujan, trus kakak ajak aku makan di tendang pecel lele, sungguh gue senang banget, karena gue sudah lamaaaaa... sekali menginginkan makan makanan itu, tapi gue hanya bisa melihatnya sambil menelan ludah, padahal di rumah ibu angkat gue mereka sering makan makanan itu, tapi gue ngak di kasih sama sekali" adu Aisyah.
"Saat kakak menawarkan makan apa, gue lansung minta aja, walau takut takut, tapi kakak malah nurutin permintaan gue tanpa menolak sedikit pun" oceh Aisyah sesegukan.
Jangan di tanya air mata teman temanmu sudah menganak di pelupuk mata mereka, Rido menangis mendengar cerita sang istri.
"Mulai sekarang Ica mau apa bilang ya sayang, jangan di tahan tahan, abang kerja cari uang buat Ica, jadi Ica ngak boleh nahan kemauan Ica, selagi Kakak mampu dan permintaan Ica ngak aneh aneh" ucap Rido.
"Semuanya sudah kakak kasih tanpa Ica minta kok" jawab Aisyah.
Memanglah suaminya begitu perhatian, mulai dari hal sekecil apa pun dan sampai yang besar Rido sudah sedia kan tanpa Aisyah minta.
__ADS_1
Bersambung...
Haii... jangan lupa like komen dan Vote ya...