
"Pagi Ma..." seru Aisyah menyapa sang Ibu yang berada di dapur menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi juga sayang" jawab Bu Sandra sambil tersenyum lembut kepada sang anak dan menantunya.
"Mama ngapain... biarin mbak aja yang masak, Mama duduk aja" titah Rido.
"Nga apa apa nak, Mama ingin masak, sudah lama Mama ngak pernah masak, dan Mama ingin masak untuk kalian" saut Bu Sandra.
Rido hanya mengangguk tanda mengerti.
"Pagi semuaa.... " Seru Rara yang baru datang dan di ikuti oleh Ganen dan Tio di belakang sambil mengucapkan salam.
"Ayo kita sarapan, cobain mama sama Mama aku" ucap Aisyah senang.
Bu Sandra tersenyum haru, mendengar anaknya membanggakan masakannya.
"Waahhh... Ini Mama yang masak semua" ucap Rara dengan berbinar.
"Mama di bantu sama mbak dan Andini" jujur Bu Sandra.
"Ini pasti enak, dari bentuknya saja sudah kelihatan" ujar Tio yang mulai ngiler.
__ADS_1
"Di makan baru tau enak Apa ngak nya, harap maklum ya... Mama sudah lama ngak masak, takut rasanya ngak enak" ucap Bu Sandra sedikit kurang percaya diri.
"Ini Enak banget Ma..." jawab Aisyah ternyata sudah duluan menyantap makanan tanpa menunggu yang lain.
Rido terkekeh melihat tingkah sang istri yang semenjak hamil jadi tukang makan.
"Makan yang banyak, kalau itu enak sayang" ucap Rido membelai rambut sang istri penuh kasih sayang.
Bu Sandra pun tersenyum senang, karena makanan yang dia buat di sukai oleh sang anak.
"Ma... nanti siang Ica boleh ngak minta di bikinin pindang ikan patin" ucap Aisyah penuh harap.
"Suka..." cengir Aisyah.
"Oh... Ya Ma, itu rumah Mama mau di apain, sama perusahaan kapan mama mulai kerja?" tanya Rido hati hati.
"Rumah itu, membuat mama ingat kenangan buruk di sana, sejujurnya itu rumah ke dua kami, klau rumah pertama mama sama papa ada di kota xx, rumah kenangan mama sama Papa Namira, di sana juga papa nimakamkan" ucap Bu Sandra sendu mengingat mendiang sang suami.
Aisyah lansung memeluk sang mama.
"Nanti klau mama sudah baikan dan sudah kuat buat jalan jauh, kita ke makam papa yah, Ica juga ingin ketemu papa" ucap Aisyah.
__ADS_1
Bu Sandra mengangguk dan membalas pelukan sang anak.
"Kalau rumah itu di jadikan panti sosial gimana Do, mama sungguh tidak ingin tinggal di sana lagi, di sana suami mama di jebak tidur bersama saudara mama, di sana juga suami mama mati di racun, dan di sana juga mama kehilangan Namira kecil" ucap Bu Sandra dengan terisak.
Aisyah semakin memeluk sang mama, dia merasakan kesakitan yang di rasakan mamanya itu.
Rido pun ikut merangkul ke dua wanita kesayangannya.
"Sudah, jangan sedih lagi, sekarang mama sudah ketemu sama Namira, dan mama tidak akan tinggal sendiri, dimana ada kami, di sana akan ada mama, soal papa, ikhlaskan papa, mungkin sudah takdir dari tuhan, nanti klau mama sudah lebih baik kita pergi ziarah ke makam papa, kita akan nginap di rumah mama yang lama itu, gimana? mama mau kan...?" ucap Rido menenangkan sang mertua.
Bu Sandra mengangguk di dalam dekapan anak dan menantunya, dia tak menyangka anak dan menantunya, masih muda sudah berfikiran dewasa.
"Perusahaan dan semua harta yang di wariskan kepada mama dan Namira, bolehkah kamu saja yang mengurus? mama sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja, apa lagi mama sudah lama ngak melakukannya, mama hanya ingin menghabiskan sisa hidup mama untuk bermain dengan cucu cucu mama" ucap Bu Sandra penuh harap.
"Baik lah... nanti Rido cari orang ke percayaan untuk menjalankan perusahaan, Rido juga akan masuk ke perusahaan, bagaimana pengelolaan di sana, maaf nanti klau tidak sesuai dengan cara kerja Rido. Rido akan merubahnya, apa mama setuju?" tanya Rido.
"Lakukan lah yang terbaik, itu untuk Aisyah dan cucu cucu mama kok" ucap Bu Sandra senang.
Rido hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Bersambung....
__ADS_1