
Pak Bambang pergi dari ruangan keluarga itu dan meninggalkan orang orang-orang yang masih terdiam karena ucapan Kevin tadi.
"Pa... mau kemana!" teriak Mama Wulan.
"Mau istirahat Mah..." jawab Pak Bambang dengan suara lesunya, tampa melihat ke arah Mama Wulan sedikit pun dan tetap melangkah, ke dalam kamarnya.
"Sial... jangan sampai Papa terhasut dengan ucapan Kevin, bisa bahaya ini, aku tidak ingin sedikit pun harta ke luarga ini terbagi dengan anak haram itu" gumam Mama Wulan.
Satu persatu orang yang ada di ruangan itu pergi ke kamar masing masing, dan yang masih tertinggal hanya Mama Wulan. Riki dan Sindi.
Kalian istirahat lah, jangan di pikirin ucapan Kevin tadi, itu semua tidak benar. wanita itu memang bersalah, kenapa mau maunya di gauli oleh papa kalian, kalau dia menolak tidak mungkin bisa di terjebak dengan papa kalian" ucap Mama Wulan yang masih meracuni anak anaknya.
"Iya mah... " patuh ke dua anak itu, dan meninggal kan ruangan keluarga.
"Aku ngak akan biarkan anak itu masuk ke dalam keluarga ini, biar pun dia mengancam team IT dari perusahaan mengundurkan diri, aku ngak akan takut, dia pikir dia saja yang hebat, masih banyak di luar sana yang membutuhkan kerja sama dengan perusahaan ku" sombong Mama Wilulan.
"Besok aku akan menyuruh papa mencari pengganti anak itu, biarkan saja dia mengundurkan diri, aku ngak perduli" gumam Mama Wulan.
__ADS_1
Dia ikut pergi dari ruangan itu, dan masuk ke dalam kamarnya, namun dia tidak melihat sang suami berada di dalam kamar.
Mama Wulan melihat pintu ke arah balkon sedikit terbuka, namun dia membiarkan semua itu, dia memilih masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya dan berganti baju tidur.
Setelah selesai dengan ritualnya, baru lah dia mencari sang suami yang berada di balkon kamarnya, yang sedang termenung melihat awan pekat, entah apa yang dia pikirkan Mama Wulan tidak tau dan tidak mau tau.
Yang dia mau adalah secepatnya menyingkirkan Rido dari dekat mereka, agar Kevin tidak lagi mengungkit ungkit anak dari wanita yang dia benci dan sekaligus anak yang berstatus anak tirinya itu.
"Pah..." panggil Mama Wulan, namun tidak di dengar oleh Pak Bambang.
Pak Bambang terlonjak kaget, karena mendapat tepukan di bahunya itu.
"Mama ngagetin aja" ucap Pak Bambang yang kembali menaglihkan pandangannya ke langit kedalam itu.
"Papa sih... kenapa harus bengong coba, lagi mikirin apa sih...? mama ada sini aja papa tidak tau" oceh Mama Wulan.
"Papa kepikiran ucapan Kevin mah" ucap Pak Bambang.
__ADS_1
"Tuh kan... gara gara anak ini, papa jadi mikir anak itu" gumam Mama Wulan kesal.
"Sudah lah pa... ngak usah di pikirin" ucap Mama Wulan tidak senang.
"Kenapa ngak usah di pikirin, selama ini papa juga merasa bersalah sama Intan, jujur semua bukan ke salahan Intan Mah..." ucap Pak Bambang.
"Pa... klau saja Intan menolak waktu itu, papa ngak akan mungkin melakukannya pa... karena dia juga mau makannya terjadi hal itu" sanggah Mama Wulan.
"Bagai mana Intan menolak mah... kami sama sama di kasih minuman laknat itu, dan di kurung di kamar yang sama, coba mama banyangin, seandainya bukan sama Intan papa melakukan itu, entah bagai mana nasib rumah tangga kita mah... kita malah sibuk menyalahkan Intan, sebenarnya Intan juga korban Ma..."
"Sudah lah... pa, mama ngak mau dengar, Intan tetap salah bagi Mama!" tekan Mama Wulan.
Pak Bambang hanya mendengus mendengar ucapan sang istri, dia masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur dan menutup matanya dengan tangan sebelah kiri.
Mama Wulan masih di balkon itu seorang diri sambil menggerutu tidak jelas.
Bersambung...
__ADS_1