Nikah Rahasia

Nikah Rahasia
Bab 147


__ADS_3

Puas menghabiskan waktu di pantai, kini mereka kembali melanjutkan perjalanan ke kampung halaman Bu Sandra.


"Gimana sayang, puas main nya...?" tanya Rido kepada sang istri, yang dari tadi tak henti hentinya tersebut.


"Puas bangeeettt.... ucap Aisyah sambil memeluk suami tercintanya.


"Kita lama ngak Kak, di kampung?" tanya Rido.


"Lihat nanti, klau Ica betah, kita habisin waktu liburan di kampung klau ngak betah dua hari tiga hari cukup kita di sana" tutur Rido.


"Pasti betah lah... Namira di kampung nak, kampung kita pemandangan nya bagus bangettt...." sambung Bu Sandra.


"Iya mah....." angguk Aisyah.


"Mah... apa kita perlu beli makanan buat sodara mama di kampung?" tanya Rido.


"Ngak usah" ucap Bu Sandra sendu dan menahan kesal.


Rido mengangguk tanda mengerti dan tidak mau bertanya lagi.


"Di, kapan kapan kita ke kota yo.... gue kangen adik adik gue" sela Tio.


"Baik lah... kita cari waktu yang tepat, sebelum Ica lahiran, gue juga mau ajak mama ke rumah Ibu angkat Aisyah dan mempertemukan mama sama temannya itu" sahut Rido.


"Iya nak, mama juga sangat ingin bertemu dia, mama penasaran kok teganya dia memperlakukan Aisyah tidak baik di sana, setau mama, Nana orang yang baik" ucap Bu Sandra.


"Iya mah... kita cari waktu yang tepat untuk ke sana" putus Rido.

__ADS_1


Rara hanya diam tanpa banyak bicara, dia sebenarnya merindukan ke dua orang tuanya, namun di antara mereka tidak pernah sekalipun menanyakan tentang kabar Rara, sehat atau sakit kah Rara di sini, tidak ada yang perduli, dan sudah tiga bulan ini satu pun tak pernah mengirim uang bulanan Rara, beruntungnya Rara di sini tinggal bersama Rido dan Aisyah dapat rumah gratis, biaya kuliah gratis bahkan makan pun tak pernah memusingkan biayanya, Rido membiayai semua kebutuhanya tanpa kurang suatu apa pun.


"Sayang... nanti kita ikut ya, kamu tinggal di rumah aku aja, Bunda sama Ayah sudah nanya kapan kita pulang" ucap Ganen, dia tau sang pujaan hati pasti sedih, tidak ada satu pun yang merindukan dia.


"Hmmm..." jawab Rara dan tersenyum kecut.


Semua teman temannya merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Rara tersebut.


"Klau orang tua loe sudah mau punya menantu, nikah aja lansung Nen..." ucap Rido, dia tau bagaimana kesepiannya Rara walaupun mereka selalu ada mengelilinginya, karena dulu Rara dan Aisyah pernah di posisi itu.


"Mau gue sih... gitu. Tapi... gue masih kuliah Do, gue kasih makan apa nanti istri gue, rumah pun belum pun masih numpang sama loe" tutur Ganen terkekeh.


"Ncek...." Rido hanya berdecak kesal mendengar jawaban sahabatnya itu, dia tau orang tua Ganen pun pasti tidak akan tinggal diam, pasti akan memenuhi kebutuhan Ganen secara Ganen cuma anak tinggal, dan orang tua Ganen lumayan berada di kota sana.


"Gaya loe bro... bro, bro! kek orang yang susah dan banyak saudara aja loe, gue yakin bonyok loe lansung setuju kalian nikah dan lansung punya cucu, secara loe kan anak satu satunya, dan dia pasti pengen loe punya banyak anak dan kapan perlu loe tiap tahun bisa kasih mereka cucu kekeh Tio.


Pecah sudah tawa orang di dalam mobil itu


"Loe pikir gue kucing, suruh beranak tiap tahun" dengus Rara sebel mendengar ucapan Tio itu.


"Ngak pa apa Yang, dua tahun sekali juga ngak pa apa kamu hamil, sampai dapat anak lima" kekeh Ganen.


Membuat Rara memutar mata males.


"Ya... Allah, kita sudah heboh dari tadi, bisa bisanya kamu tidur pulas sayang..." kekeh Rido membenarkan tidur Aisyah di bahunya.


"Kelelahan dia Do, dari tadi ngak berenti jalan kesana kemari di pantai" sahut Rara.

__ADS_1


Dan di anggukin setuju oleh Rido, memang istrinya itu tadi ngak bisa diam di pinggir pantai ada saja yang dia cari.


"Ngomong ngomong balik lagi sama cerita tadi, Ra, kamu mau kan kita nikah sederhana saja saat sampai di kota" ucap Ganen, dia juga ngak mau kekasihnya itu menanngung beban sendirian, dia ingin setiap saat setiap detik berada di sisi sang kekasih, namun apa daya karena mereka belum menikah masih banyak batas batasan yang harus mereka jaga.


Rara mengangguk setuju, toh... apa lagi yang dia tunggu selama ini Ganen begitu menjaganya dengan baik dan orang tua Ganen juga begitu menyayangi nya, seperti menyayangi Ganen, selalu menanyakan kabar Rara. Apa lagi yang dia cari semua sudah ada.


Ganen bernafas lega mendapatkan jawaban dari sang kekasih.


"Loe kapan Yo...?" tanya Rido kepada Tio.


"Nanya gue... pacar aja ngak punya, malah di tanya kapan nikah" kekeh Tio.


"Idihhh... itu yang setiap hari nempelin loe itu apa? demit...!" sungut Rara, memang ada salah satu maha siswi yang menempel terus kepada Tio, namun Tio meladeninya santai seperti mantan mantannya dulu.


Mendengar ucapan sarkas dari mulut Rara itu, Tio terkekeh.


"Itu mah, dia yang mau dan nempel terus, ya udah masa gue tolak, mayan kan" ucap Tio ngasal.


Teman temannya hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Tio itu.


Memang lah Tio tidak merayu mereka, dan Tio memang suka bermulut manis sama perempuan sehingga membuat baper para ciwi ciwi.


"Dasar kadal buntung..." umpat Rara.


Membuat yang di mobil tertawa lepas.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan Vote ya.....😘😘😘


__ADS_2