
Rido membawa sang istri ke dalam mobil, dia melakukan mobil sedikit ngebut, untuk cepat menjauhi perumahan sialan itu, dadanya masih bergemuruh dan wajahnya memerah menahan amarah, kesal, kecewa, benci dan sedih menjadi satu.
Aisyah hanya diam dan memegang tali tas selempangnya, dia tau perasaan sang suami tidak baik baik saja, dia sedih melihat sang suami yang seperti itu.
Sudah lumayan jauh Rido menepikan mobilnya, dan berhenti di pinggir jalan, setelah itu dia menarik sang istri ke dalam pelukannya.
Aisyah lansung terduduk sempurna di pangkuan sang suami, Rido lansung membenamkam kepalanya di dada sang istri.
Aisyah membiarkan Rido melakukan sesuka hati, asal sang suami bisa melepaskan beban di pundak dan sesak di dadanya.
Aisyah membelai, kepala Rido dengan penuh kasih dan mengusap usap punggung yang ada di dalam pelukannya itu.
"Menangis lah kak, kalau itu akan membuat kakak lega, menangis lah, klau ingin berteriak berteriak lah..." ucap Aisyah
Rido yang sudah tak tahan lagi, akhirnya pecah juga tangisnya di dalam pelukan sang istri.
"Mengapa... mengapa, mereka jahat sekali dek..., mengapa mereka tega sekali, bunda juga ngak ingin kejadian itu, bahkan kehidupan bunda jauh lebih menderita gara gara ke jadian itu, bahkan bunda kehilangan Ayahnya gara gara ke jadian itu, bunda juga kehilangan kekasihnya dek. kakak juga ngak ingin di lahirkan ke dunia ini dek" isak Rido di dalam pelukan sang istri.
Aisyah tidak bisa berkata kata, hatinya hancur melihat sang suami begitu rapuh. Aisyah juga ikut meneteskan Air mata melihat kerapuhan sang suami.
"Mereka tidak tau dek, setiap malam bunda menangis, mereka tidak tau dek... klau bunda sempat depresi, kakak lihat sendiri dek" keluh Rido.
"Apa mereka tau, klau bunda mengurung diri di dalam kamar tidak kan, mereka malah menyalahkan bunda dengan sangat keji, padahal hidup mereka semakin berjaya, berbanding terbalik dengan kehidupan mereka, bunda hidup dalam ke helapan, bunda terpuruk, tetapi mereka masih menyalahkan bunda"
Aisyah semangkin menangis sambil menggit bibirnya, dan Aisyah semangkin mengeratkan pelukannya pada Rido.
__ADS_1
Lama Rido menangis dalam pelukan sang istri, Aisyah tidak sekali pun mengeluh dia terus memeluk sang suami, agar suaminya itu kembali seperti semula.
Rido menengadah dengan mata sembab dan berwarna merah, melihat ke wajah sang istri, dia sudah mulai kembali tenang.
Aisyah memberikan senyum manisnya kepada sang suami.
Cup...
Satu kecupan mendarat di bibir Aisyah.
"Terimakasih... Sayang selalu ada di samping Kakak" ucap Rido.
"Kakak bahagia sayang, walau hanya berdua dengan Ica, kakak tak butuh apa pun lagi, cukup ada Ica sayang" ucap Rido sendu.
"Emang Kaka ngak pengen punya anak?" tanya Aisyah.
"Abang yakin... klau Ica ngak bisa kasih anak trus kakak ngak cari wanita lain, biar dapat anak?" tanya Aisyah mencari ke benaran di mata Rido.
"Yakin sayang, yakin se yakin yakinnya, banyak di luar sana anak anak yang bisa kita ambil menjadi anak sayang" ucap Rido.
"Tapi Ica yang ngak mau, ngambil anak di luar kak, Ica takut, takut yang pernah Ica alami akan terjadi sama anak itu" ucap Aisyah menunduk sedih.
"Haii... jangan sedih, itu tidak akan terjadi, Ica wanita cantik dan baik hati, kakak yakin Ica tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama, kepada orang lain, Ica sudah pernah merasakan nya, jadi Ica ngak akan tega sayang" ucap Rido menenangkan hati sang istri.
Aisyah menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi sebelum mengambil keputusan untuk mengadopsi Baby lebih baik kita kerja keras dulu untuk membuatnya. kapan perlu tiga kali sehari dengan durasi lama biar cepat jadi" oceh Rido.
Pukk...
Aisyah memukul bahu Rido dengan gemes, dia yakin suami baiknya itu sudah kembali seperti semula, karena tingkat kemesumannya juga sudah kembali.
"Aduuuhhh..." keluh Rido.
"Kok di pukul sih sayang..." rajuk Rido.
"Lagian abang mengada ngada ngomongnya seenak ke bawa nafas aja" kesal Aisyah.
"Emang salahnya dimana?" tanya Rido.
"Buat Baby tiga kali sehari dengan durasi lama, emang mau bikin Ica ngak bisa jalan, emang abang pikir badan Ica ngak remuk apa" kesal Aisyah.
Hahahaha.... pecah sudah tawa Rido mendengar keluhan sang istri.
Aisyah juga ikut tersenyum, bearti sang suami sudah baik baik saja.
"Abang bercanda sayang, abang juga ngak akan kuat kayak gitu, bisa goyang dengkul kakak berjalan" kekeh Rido.
Akhirnya mereka tertawa bersama dan Rido kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang, menuju tempat liburan mereka.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote ya...
"Terimakasih..."