Nikah Rahasia

Nikah Rahasia
Bab 98


__ADS_3

Setelah beberapa waktu di perjalanan yang harusnya sudah sampai beberapa jam lalu, namun dua sejoli itu baru sampai waktu hampir magrib.


"Kak Andiiinnn....!' teriak aisyah sambil berlari menyisul Andin yang berdiri di depan pintu dengan perut buncitnya.


"Ya ampun... istri gue" keluh Rido terkekeh melihat Aisyah yang berlari.


Andini begitu senang adik sekaligus majikannya itu sudah sampai, dari tadi dia cemas menunggu kedatangan dua orang suami istri itu, yang mengabarkan berangkat pagi, kenapa sampai baru matahari mau terbenam.


"Kenapa baru sampai... katanya berangkat pagi?" tanya Andini.


"Heheh... mampir mampir dulu mbak" cengenges Aisyah.


"Bang Farhan mana mbak?" tanya Aisyah yang tidak melihat suami Andini itu.


"Lagi ke Cafe ada barang datang"


"Oohhh..." jawab Aisyah ber oh... ria.


"Apa kabar mbak" tanya Rido sopan kepada Andini.


"Baik Den..."


"Sudah berapa bulan itu mbak?" tanya Rido yang melihat Aisyah mengelus perut buncit Andini itu.


"Sudah bulannya Den..."


Rido mengangguk paham.

__ADS_1


"Mari masuk" ajak ajak Andini sambil mengambil tas di tangan Rido.


"Iya mbak... tasnya biar saya yang bawa sendiri" ucap Rido yang tidak tega dengan Ibu hamil itu.


Andini hanya tersenyum, dia tidak menyangka bosnya itu baik hati juga dan pengertian.


"Ya sudah klau gitu, mau minum apa biar mbak bikinin" tawar Andini.


"Nanti aja mbak, mau mandi dulu sekalian magriban"


"Ya udah klau gitu mbak tinggal ke belakang"


"Ngak usah ke belakang mbak, tidur di kamar bawah aja, sampai bang Farhan pulang, ngak baik hamil besar magrib magrib keluar rumah" tutur Rido.


"Tapi..."


"Baik Den... makasih" ucap Andini sopan, dia terharu dengan perhatian majikannya, selama ini dia hanya berdua dengan suaminya, sesekali mertuanya datang hanya sebentar, kadang ada rasa takut buat Andini di rumah besar itu seorang diri, karena suaminya kadang pulang malam hari, habis kerja di cafe, sekarang ada Aisyah di rumah ini dia sangat senang ada teman, di tambah Rido orang yang baik dan pengertian.


"Ini siapa yang masak mbak!" tanya Aisyah melihat hidangan di atas meja makan.


"Tadi di anter dari Cafe dek, abis mbak ngak kuat buat masak" ucap Andin tidak enak hati.


"Oohh... ngak pa apa, itu lebih bagus, aku ngak mau mbak kecapean, mana perut gede banget lagi" oceh Aisyah.


Andin ikut terkekeh mendengar ucapan Aisyah.


"Assalamualaikum...."

__ADS_1


Salam seseorang dari luar sana, Andin tau persis suara siapa itu, ya siapa lagi kalau bukan suara Farhan sang suami.


"Waalaikumsalam..." kompak mereka menjawab salam dari orang yang berada di luar sana.


"Tuh... mas Farhan datang" ucap Andin


"Maaf ya Den... ngak sempat nyambut soalnya tadi ada barang datang, di telpon sama pegawai Cafe" ucap Farhan tidak enak hati.


"Ya udah... ngak pa apa bang... kayak penyambutan presiden aja" kekeh Rido.


Semua ikut terkekeh dengan ucapan Rido.


"Yuk... makan, keburu dingin ini masakan" ucap Rido.


Ya Rido tidak membeda bedakan Andin dan Farhan dia menganggap Farhan keluarga.


"Kayaknya mbak Andin sudah istirahat aja deh Bang... gimana kita cari orang baru aja, kasian lagi hamil besar gini beres beres di tambah abang bakal semakin sibuk buat pembangunan Villa di jalan xx" usul Rido kepada Farhan saat mereka selesai makan malam.


"Gimana dek... mau?" tanya Farhan.


Andin sebenarnya masih ingin bekerja di rumah itu, tapi dia sedang hamil besar jadi biarlah dia mengalah dulu, kasian anak di dalam kandungan nya.


"Mbak tenang aja, mbak akan tetap tinggal di sini kok, dan mbak akan mengawasi orang orang baru yang bekerja di sini, biasanya mbak berdua sama bang Farhan kan, karena ngak ada penghuni di rumah ini, sekarang sudah ada kami, mungkin kerjaan bakal tambah banyak" tutur Rido.


Baik lah... ucap Andin tersenyum lega, karena dia tidak benar benar di berhentikan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2