
Seminggu berlalu, kini di sini lah mereka di sebuah rumah sakit, untuk melakukan tes DNA Aisyah.
Aisyah sangat tegang dengan tes itu, bahkan dia berharap bukan dari keluarga itu.
"Tenang ya sayang, tidak akan terjadi apa apa, ada Kakak, jangan takut" Rido menenangkan Aisyah dengan lembut.
"Ncek... ngak usah lebay deh... cuma periksa darah doang, malah ketakutan kayak mau di mutilasi" gerutu Amira, namun masih dapat di dengar oleh Rido dan Aisyah.
Rido lansung menatap tajam dan di ke arah Amira.
Glek....
Amira tidak menyangka klau laki laki itu bisa semenakutkan itu.
"Anjirr... bisa jantungan gue lihat mata dia, serem" gumam Amira lirih.
Sementara Mama Anita memang mulai jengah dengan Aisyah, karena anak itu terlalu manja menurutnya.
"Sabar sabar sedikit lagi" gumam Anita, menatap malas ke Aisyah, namun saat Aisyah dan Rido melihat ke arah dia, wajahnya lansung berubah lembut penuh kasih, namun tidak dengan hatinya.
"Sabar ya... sebentar lagi, Aisyah pasti takut ya?!" tanya Mama Anita dengan suara lembut dan wajah penuh kasih sayang, dan jangan lupa Amira yang di belakangnya lansung memutar mata jengah.
__ADS_1
"Ica...." panggil Rara yang baru datang bersama Tio dan Ganen.
Aisyah tersenyum melihat ke arah sahabatnya itu.
Maaf ya... kami telat, tadi ada barang datang, jadi kami kerja dulu" sesal Renata.
"Iya... ngak pa apa kok santai aja, ada kakak kok" ucap Aisyah melihat Rido, Rido lansung tersenyum tulus dan membelai kepala Aisyah penuh kasih.
"Kek ratu banget sih... hidup dia, di perhatiin banyak orangnya pula dengus Amira, tunggu lah sebentar lagi" sinis Amira melihat Aisyah.
"Ayo... sayang... itu sudah di panggil, ucap Mama Amira dan menarik tangan Aisyah sedikit kasar, Aisyah meringis menahan tekanan kuku Mama Amira.
"Tolong jangan kasar tante, klau butuh tes DNA Aisyah tolong perlakukan dengan baik, atau jangan pernah sama sekali tes DNA!" geram Rido dengan wajah dinginnya.
"Ngak sengaja apaan aku lihat kok, tante narik Aisyah dan tante juga sinis cara ngelihat ke Aisyah, pas ke tahuan Aisyah aja tante pura pura senyum" ketis Rara.
Rido melihat pergelangan tangan Aisyah mengeluarkan darah, dia lansung meradang.
"Apa apaan anda melukai istri saya!" marah Rido.
"Maaf sayang... mama tidak sengaja?!" gagap mama Anita melihat wajah garang Rido.
__ADS_1
"Aku ngak mau tes kak?!" pecah sudah tangis Aisyah di dalam pelukan Rido.
"Tidak ada tes tesan, kakak ngak akan izin kan, kamu istri kakak, jadi kakak lebih berhak dari siapapun, selama ini kamu hidup sebatang kara, ngak ada yang nyariin kamu kenapa sekarang tiba tiba" marah Rido membungkam mulut orang orang di sana.
Om Sandi terlihat kesal melihat kakaknya itu, gara gara kecerobohan sang kakak, mereka tidak bisa untuk memeriksa Aisyah, padahal selangkah lagi.
"Tapi.. nak Aisyah itu bagian dari keluarga kami" kekeh Mama Anita.
"Iya atau tidaknya Aisyah keluraga kalian saya tidak perduli, tanpa kalian Aisyah baik baik saja, ini baru mau tes DNA saja Aisyah sudah kalian sakiti, apa lagi sudah ketahuan Aisyah anak kalian, apa kalian mau matiin dia atau ada sesuatu yang kalian cari dari Aisyah?!" curiga Rido memicingkan mata.
Deg....
"Bukan bukan seperti itu, kami benaran hanya ingin memastikan Asiyah anak kami, ngak ada yang lain" gugup mama Anita.
Rido tidak perduli lagi, dia menatap Aisyah dengan lembut.
"Ayo sayang, kita pulang, sebelum itu kita visum dulu, biar suatu saat nanti mereka memaksa, kita sudah ada bukti, klau kamu tidak mau di visum, dan siapapun tidak bisa memaksa" tegas Rido.
Keluarga Amira cuma bisa menelan ludah, kecewa rencana mereka gagal ulah kecerobohan Anita.
Rido Aisyah dan teman temannya lansung meninggalkan ruangan itu tanpa perduli teriakan di belakang mereka.
__ADS_1
"Lihatkan... gara gara kakak, kita gagal, kakak ngak tau sih, seberapa susah aku menemui dia" kesal Om Sandi, karena usahanya gagal.
Bersambung...