
“Eh eh lo mau ke kamar?” Tanya Vindra pada Gisa yang berjalan ke arah kamar sambil mengipas-ngipas wajahnya yang terasa panas usai mengikuti lomba.
Vindra tahu Gisa itu teman sekamarnya Zeline makanya Ia bertanya pada Gisa yang langsung menganggu karena Ia punya suatu tujuan.
“Gue boleh mintantolong sama lo nggak?”
“Apa?”
“Tolong bujuk Zeline keluar dari kamarnya, gimanapun caranya terserah lo deh,”
“Lho, kenapa bukan lo aja yang manggil Zeline supaya keluar dari kamar?” Tanya Gisa yang bingung, alih-alih usaha sendiri, Vindra yang merupakan kekasih Zeline malah minta tolong kepaanya supaya Zeline masuk ke kamarnya.
“Gue juga udah usaha tadi, cuma dia tetap nggak mau keluar dari kamar. Makanya gue minta tolong sama lo ya. Zeline harus keluar dari kamar karena ada yang mau gue obrolin sama dia,” ujar Vindra yang benar-benar meminta tolong, bahkan bisa dibilang memohon supaya Gisa bersedia menolongnya.
“Los ama Zeline lagi ada masalah ya pasti? Makanya Zeline nggak mau keluar dari kamar dan nggak mau nemuin lo,”
Vindra menganggukkan kepalanya lemah. Pertanyaan Gisa seratus persen benar. Ia dan Zeline memang sedang tidak baik-baik saka. Zeline marah padanya.
“Iya emang lagi ada masalah dikit. Dan gue mau ngomongin itu sama dia baik-baik. Tapi dia nggak mau keluar, Gis. Makanya gue benar-benar minta tolong banget sama lo. Tolong ya bantuin gue,” pintar Vindra.
Gisa langsung menganggukkan kepalanya dan mengacungkan ibu jarinya. Tanggapan Gisa yang seperti tu langsung membuat Vindra tersenyum bahagia. Ia langsung mengikuti Gida mendekati kamar dimana ada Zeline di kamarnya.
Tadi Vindra sempat putus asa, Ia memilih untuk meninggalkan kamar Zeline karena Zeline benar-benar tidak memberinya kesempatan. Tapi karena Ia tak sengaja bertemu dengan Gisa yang berjalan ke kamarnya, Vindra merasa ada harapan baru.
“Assalamualaikum,”
Gisa mengucapkan salam sambil mengetuk pintu kamar dan langsung dijawab oleh Zeline “Waalaikumsalam,”
“Ini Gisa, Zel. Boleh minta tolong buka pintunya nggak, Zel?”
“Iya boleh, tunggu sebentar ya,”
Gisa dan Vindra yang ada di sebelah Gisa tapi di balik tembok langsung saling menatap sebentar.
“Thanks ya,” ujar Vindra yang langsung ditanggapi dengan anggukan oleh Gisa.
“Tunggu, Gis,” ucap Zeline yang sedang menghapus jejak tangisnya menggunakan tisu. Setelah itu barulah Ia membuka pintu. Ia tidak mau Gisa atau siapapun jadi mengetahui kesedihannya. Apalagi alasan Ia menangis itu karena laki-laki. Itu seharusnya tidak pernah ada dalam kamus hidup Zeline tapi akrena Ia sudah begitu menyayangi Vindra jadi ketika dikecewakan sedikit saja oleh Vindra, maka Ia tidak bisa menahan kesedihannya.
“Ayo kita diajakin amkan bareng tuh abis lomba,”
“Gue nggak makan deh. Gue bawa roti ini kok,”
“Eh jangan begitu. Kita harus makan bareng-bareng lah, masa lo nggak makan sih? Ayo makana ama gue plissss, masa gue nggak sama temen kamar gue sih? Lo tega sama gue?”
Zeline menghembuskan napas kasar. Sejujurnya Ia enggan sekali untuk keluar dari kamar. Karena kalau Ia lagi sedih, pasti inginnya di kamar terus untuk menyendiri. Tapi karena saat ini sedang ada kegiatan sekolah dan temannya juga sudah embujuk tidak mungkin Ia tetap mempertahankan kebiasaannya untuk menyendiri di kamar saja.
“Gimana? Mau ‘kan? Kita udah ditungguin sama yang lain lho untuk makan bareng,”
Memang sekarang ini jadwalnya makan bersama tapi tidak main tunggu-tungguan. Hanya saja Gisa sengaja berkata seperti itu supaya Zeline mau keluar dari kamar.
“Saking nggak mau keluar kamar smapai beridirnya di belakang pintu gitu dih, Zel, nongolin muka doang,” ujar Gisa sambil tertawa. Zeline tersenyum tipis, lalu Ia membuka pintu kamar lebih lebar dari sebelumnya dan Ia tidak bersembunyi lagi di balik pintu.
“Okay ayo makan bareng,”
Jawaban Zeline membuat Gisa tersenyum senang. Ia langsung melirik Vindra dnegan ekor matanya. Vindra masih ada di balik tembok.
“Ya udah ayo kita keluar,”
Zeline menganggukkan kepalanya. Ia berbalik sebnetar untuk mengambil kunci pintu di dalam setelah itu Ia pindahkan keluar dan disaat Ia sedang mengunci pintu kamar, Vindra hadir di sebelah Gisa. Sejujurnya Vindra cemas, takut kehadirannya membuat suasana hati Zeline berantakan lagi padahal sekarang ini Zeline suasana hati Zeline sepertinya sudah mebih baik daripada sebelumnya.
Tapi Ia tidak mau mengulur waktu lebih lama lagi. Ia harus secepat mungkin bicara pada Zeline. Ia tidak bsia terlalu lama terjebak dalam sutuasi yang tidak menyenangkan bersama Zeline. Ada konflik dengan Zeline itu tidak pernah Vindra inginkan sedikitpun.
__ADS_1
Begitu Zeline menbalik badannya Ia tentu kaget mendapatk keberadaan Vindra. Rahangnya mengeras, dan matanya menatap Vindta dengan tajam. Kemudian Zeline menatap Gisa dengan sorot nata kesal. Gisa langsung tersenyum.
“Ayo makan bareng,” ajak Gisa.
“Lo sengaja ya mancing gue supaya keluar dari kamar dan biar ketemu dia?”
“Nggak kok, emang gue beneran pengen ngajak lo makan terus si Vindra mau ketemu sama lo. Ya udah deh gue bantuin,”
“Nyebelin lo, Gis!”
Zeline akan masuk lagi ke dalam kamar tapi lengan langsung ditahan oleh Gisa. “Sorry ya, gue benar-benar nggak maksud untuk ikt canpur sama masalah kalian berdua. Niat gue tadi emang mau ngajakin lo makan bareng, nah si Vindra katanya mau ngajak lo ngobrol langsung. Dia minta gue untuk bujuk lo supaya keluar dati kamar. Udah gitu doang, Zel. Gue nggak ada niat apapun, sumpah,”
“Zel, jangan marah sana aku apalagi sama Gisa. Dia nggak ada salah apapun. Emang aku pengen ngobrol empat mata sama kamu,” ujar Vindra.
“Ya udah deh gue cabut duluan. Ntar lo makan ya, Zel. Jangan ngilang lagi di kamar, okay? Gue nungguin lo,” ujar Gisa sesaat sebelum Ia bergegas pergi meninggalkan Zeline dan Vindra.
Gis amelepaskan lengan Zeline, dan sekarang digantikan oleh Vindra. Dnegan lembut Vindra memegang lengan Zeline supaya Zeline tidak masuk kamar lagi namun dengan cukup kuat Zeline mengusir tangannya.
“Zel, plis dengerin aku ngomong dulu. Aku minta maaf, aku ngaku kalau akus alah. Aku minta maaf ya sama kamu. Tolong jangan marah sama aku, Zel. Aku nggak mau kamu benci sama aku apalagi sampai mutusin aku. Aku nggak akan siap, Zel,” ujar Vindra dengan dorot mata lembut menatap Zeline selembut nada bicaranya, tapi itu tidak mempengaruhi keputusan Zeline yang masih menyimpan emosi untuk Vindra.
“Lo pikir gue peduli gitu? Hah? Gue tetap nggak akan ngubah keputusan gue ya. Gue udha cukup sabar, Vin. Semenjak ada dia, lo tuh berubah dan lo nggak sadar itu ‘kan? Lo udah sering utamain dia darioada gue. Iya gue tau dia tuh sahabat lo dan gue juga anggap dia sahabat gue kok. Tapi cara los alah dong kalau terlalu ngutamain dia sementara gue ini siapa lo? Hah? Yang paking parah adalah kelakuan lo tadi. Bisa-bisanya lo nyalahin gue ya? Gila aja lo! Gue nggak salah! Gue nggak buat dia jatuh! Dia jatuh aendiri karena dia terlalu ambis. Dia ambis mau menang tapi dia nggak mau berjuang bareng gue. Dia mau dia doang yang menang padahal permainan tadi tuh kelompok. Kalau mau menang ya harus usaha bareng-bareng. Dia aja yang egois mau menang sendiri! Terus malah nyalahin gue. Lo sama dia sama aja! Sama-sama keterlaluan!”
Zeline puas meluapkan emosinya pada Vindra. Ia juga menjelaskan seklai lagi bahwa bukan Ia yang memyebabkan Anin terjatuh.
“Iya aku minta maaf, Zel. Aku percaya kok sama kamu. Maafin aku yang nggak dnegar dari dua sisi,”
Zeline tertawa sinis lalu Ia menjawab “Udah biasa! Lo ‘kan emang selalu begitu. Cuma selama ini gue sabar-sabar aja. Nah sekarang gue udha nggak bisa sabar lagi. Ya kali gue mau jadi imbas amarah lo mulu tiap dia kenapa-bapa, atau tiap dia sinisin gue, nyalahin gue. Nggak bisa lah! Gue punya hak untuk bela diri gue yang nggak salah. Lo boleh marah ke gue kalau gue emang salah. Tapi kenyataannya dia tuh jatuh sendiri. ‘Kan lo tau sendiri main bakiak itu ya harus kerja sama nggak bisa mau menang sendiri. Akhirnya karena terlalu ambis, egois, dia jatuh deh. Itu teguran buat dia. Gws bilang sama sahabat lo,” ujar Zeline dengan sinis setelah itu berjalan meninggalkan Vindra yang terkejut bukan main d egan sikap Zeline sekarang ini. Ia tidka menyangka kalau Zeline akan sebenci ini padanya dan Anin.
“Zel, masalah kita ini sebenarnya sepele lho, tolong lah jangan diperbesar, aku—-“
“Heh Vindra! Sepele lo bilang? Coba deh lo pinjam perasaan gue supaya lo tau sepele atau nggak nya,”
Zeline memanas lagi padahal tadinya sudah mau dingin karena mendengar perkataan Vindra. Dengan mudahnya Vindra mengatakan bahwa masalah mereka sebenarnya sepele dan Ia diminta untuk tidak memperbesar masalah yang ada.
“Nggak pelru ada pembicaraan. Lo udha keterlaluan jadi gue anggap semuanya udah selesai,”
Tangan Zeline diraih oleh Vindra hingga badan Zeline berputar dan kini berhadapan dengan Vindra, mantan kekaishnya itu.
“Apalagi sih? Maish ada omongan gue yang kurang jelas? Kita udha nggak ada hubungan apa-apa lagi jadi lo jangan deketin gue lagi. Lo mending fokus aja deh sama sahabat lo itu, bentar lagi pasti jadi sahabat hidup. Kayaknya gue pengganggu di antara kalian, bukan dia yang pengganggu tapi gue, iya ‘kan?”
“Zel, apaan sih? Kamu jangan ngomong gitu dong. Aku nggak mau ya putus dari kamu. Aku sayang sama kamu, Zel. Dan aku nggak mau kehilangan kamu, Zel,”
“Tapis ayangnya gue nggak bisa barengan lagi sama lo yang udah bikin gue khawatir, bikin gue insecure, bikin gue nggak nyaman, dan emrasa kalau gue itu nomor dua. Lo paham ‘kan maksud gue? Jadi udah ya, jangan ganggu gue lagi,”
“Zel, kamu sama aku tuh udah dua tahun masa kita harus berakhir kayak gini sih? Kalaupun kita putus ya harusnya putus baik-baik dan dengan persetujuan dong. Kamu jangan langsung ambil keputusan sendiri kayak gini. Aku nggak mau ya, Zel! Aku nggak setuju pokoknya,”
“Ya udah terserah maus etuju atau nggak itu urusan lo bukan gue. Tapi yang jelas gue nggak mau makan hati sama lo. Gue yakin bis amove on dari lo, dan lo juga pasti gitu kok. Malah jangan-jangan udah move om sekarang,” ujar Zeline seraya terlekeh sinis.
“Zel, kamu jangan sembarangan kalau ngomong. Aku nggak mau putus dari kamu, Zel. Tolong kamu pikirin dulu baik-baik sebelum ambil keputusan, kamu tuh cuma lagi emosi aja, Zel. Harus pakai kepala dingin kalau mau ambil keputusan,”
“Iya gue tau? Gue udha mikirin ini koks ebelumnya?”
“Kapan? Kapan kamu pikirin? Hah? Prang kamu langsung mutusin aku gutu aja kok. Kamu mutusin untuk putus dari aku tanpa persetujuan. Aku nggak setuju kalau kita putus, Zel. Aku minta maaf untuk demua kesalahan aku. Dan aku janji nghak akan ngulangin lagi. Aku janji bakal bikin kamu nyaman lagi di hubungan kita, aku janji nggak akan bikin kamu merasa kalau kamu itu nomor dua, aku janji, Zel! Plis jangan putus ya, Zel,”
Zeline berdecak sambil menghempaskan tangan Vindra yang menahan lengannya. Kemudian Ia menatap Vindra dengan kesal.
“Udah deh! Sekarang aja ngemis banget. Tadi apa yang kamu lakuin? Hah?! Kamu lupa nyalahin aku di depan dia?! Harusnya kamu mikir sampai situ. Dari cara kamu bersikap aja, kamu ydah nggak kneghargai aku. Udah sering lho kamu negur aku di depan dia. Pasti kepalanya makin besar karena dia merasa dibela sama kamu. Okay lah kalau mislanya aku salah. Nah ini aku nggak salah, sernak hati banget kamu marahin aku di depan dia ya,”
“Zel, Anin itu sahabat aku. Dia nggak kayak yang kamu pikirin, dia baik. Kamu jangan benci Anin, Zel,”
“Lah, dia itu benci sama aku nggak? Coba tanya deh sana. Sikap dia baik itu tulus nggak? Kalau aku sih tulus ya. Tapi kalau kamu nggak percaya ya nggak masalah yang tau ‘kan cuma akh sama Tuhan aja. Tapi kalau dia gimana? Tulus atau nggak? Kamu smeidri bisa liat dia suka jadi orang yang myebelin banget untuk aku, berasa dipentingin sama kamu dibanding aku. Atau kamu nggak nyadar ya? Iyalah orangs ahabatan udah lama banget ‘kan? Jadi mau dia kayak gimana juga kamu wajarin aja pasti. Sekarang kamu bebas! Kamu mau kayak gimana sama dia itu utusan kalian. Aku nggak mau ikut campur, nggak mau peduli karena itu bukan urusan aku. Kita udah di jalan masing-masing mulai saat ini dan aku harap kamu ngerti ya,” ujar Zeline setelah itu melangkah cepat meninggalkan Vindra yang terdiam dnegan perasaan yang kacau. Ia benar-benar tidak menyangka akan ada di situasi seperti ini. Bukan peroisahan secara tiba-tiba begini yang Ia inginkan.
__ADS_1
Di tahun bersama Zeline, Ia sudah menyayangi Zeline sebegitu besarnya, Ia sudah sangat terbiasa akan Zeline, Ia sudah merancang angan-angan bisa bersama Zeline selamanya tapi tenryata yang terjadi malah membuatnya kecewa sedalam ini.
*****
“Tangan lo kenapa tuh, Nin?” Tanya Adelia teman sekelas yang saat ini duduk di sebelahnya dan membawa satu piring berisi menu makan siang.
“Ini gara-gara sahabat gue tuh si Zeline,”
“Oh yang gara-gara jatuh tadi ya?”
“Iya, dia jalannya lelet banget kayak siput gue ‘kan nggak sabaran,”
“Yang tadi gue lit sih kaliana walnya udah kerjasama dengan baik kok. Zeline nggak lelet kayak apa yang lo bilang, cuma lo tuh terlalu buru-buru. Jadinya nggak seirama sama Zeline. Kata gue, Zeline nggak salah sih,”
“Salah dong, harusnya dia ikutin kaki gue lah, kalau gue cepat ya dia harus cepat juga. Gue jadinya jatuh ‘kan karena dia lelet. Gue kesal banget sama dia. Terus malah berantem pagi sama Vindra,”
“Hah? Dia sampai berantem sama Vindra?”
Adelia kelihatan kaget luar biasa setelah mendengar penjelasan Anin. Adelia mulai bisa menebak penyebabnya apa.
“Pasti gara-gara Vindra belain lo ya? Dan Vindra nyalahin Zeline?”
“Ya lo bener,”
“Harusnya Vindra dengerin dulu penjelasan Zeline ya,”
“Vindra udah terlanjur kesal karena sahabatnya jatuh,”
“Ya tapi dia nggak seharusnya nyalahin ceweknya lah, padahal yang gue liat Zeline nghak salah kok. Tapi lo nya yang terllau buru-buru pengen menang. Lagian ya, masalah tadi sebenarnya sepele, cuma kenapa digedein sih? Akhirnya jadi ada yang berantem ‘kan,”
“Sepele lo bilang? Lo nyalahin gue juga ya? Eh gue nih abis jatuh lho, Del. Kalau gue kenapa-napa gimana?“
“Ya tapi kenyataannya lo baik-baik aja ‘kan? Harusnya ya udah lah nggak usah diperoanjang. Akhirnya mereka,ada yang berantem tuh,”
“Mereka juga putus. Tadi Zeline yang mutusin Vindra did epan gue,”
“Apa? Putus? Budet parah banget lo, Nin,”
“Kok lo jadi nyalahin gue sih?”
Anin menatap Adelia dengan sorot mata kesal. Anin tidak terima ketika Ia yang ditempatkan pada posisi bersalah.
“Ya ‘kan rmabg—emang lo yang salah. Gila ih, kok smapai putus gitu sih?”
“Ya berarti Zeline emang bukan yang terbaik untuk Vindra kali. Dia terlalu emosian, nggaka eharusnya lah dia langsung mutusin Vindfa kayak gitu. ‘Kan bisa diomongin baik-baik supaya pertengkaran mereka selesai,”
“Dia ngambil keputusan itu pakai emosi,”
“Ya makanya gue bilang, Zeline terlalu emosian!”
“Dia kayak gitu karena ada sebabnya sih, Nin. Lo nggak bisa terus-terusan nyalahin Anin karena dia tuh nggaks alah sebenarnya,”
Anin berdecak dan memberikan tatapan tajam ke arah Adelia yang sudah berulang kali menarik Zeline dari posisi pihak yang bersalah dan menggantikan itu dengan dirinya.
“Lo tuh temen sekelas gue kenapa malah belain Zeline sih?!”
Seketika teman-teman yang sedang makan di sekitar mereka langsung menatap ke arah mereka dengan penasaran. Nada bicara Anin tiba-tiba naik dan sekarang Ia menatap Adelia dengan tajam,.
Zeline yang sedari tadi mendnegarkan diam-diam pembicaraan mereka sambil mengambil makanan sengaja mengulurkan waktu karena ingin mendnegar obrolan mereka sampai akhir langsung menggelengkan kepalanya pelan sekarang.
“Keputusan gue untuk ngejauh udah benar. Bahaya punya teman apalagi sahabat macam Anin. Selama ini gue terbilang hebat bsia bertahan di dekat dia dengan status sahabat,” batin Zeline.
__ADS_1
“Gue ‘kan cuma ngomong sesuai apa yang gue liat aja. Gue nggak peduli Zeline itu siapa yang jelas Zeline itu nggak salah. Gue liat semdiri kok kejadiannya kayak gimana tadi. Dan gue juga liat lo langsung kesal gitu sama Zeline. Kalau gue ajdi Zeline, wajar sih gue marah balik. Ya karena emang tiap manusia itu punya hak untuk ngebela diri apalagi kalau nggak salah. Orang yang salaj aja kadang masih mati-matian bela diri, apalagi ini Zeline nggak salah kok,”