
“Eh gila lo!”
Hanum langsung meninju lengan Fandi yang terbahak setelah mencoba untuk meraih Zeline.
“Eh nggak apa-apa, ‘kan udah putus,”
Zeline berdecak mendnegar Gisa yang ikut-ikutan. Sungguh, Ia tidak ada niat untuk mencari pengganti Vindra dalam waktu dekat.
“Beneran putus ya? Gue kirain nggak beneran lho, cuma gosip doang,”
“Beneran lah, orang Zeline tuh udah sak—“
“Gisa cerewet banget ah. Udah mending diam deh,”
Gisa langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan menggerakkan tangan seolah sedang mengunci mulutnya. Fandi dan Hanum langsung terbahak melihat itu.
“Guys,”
Tiba-tiba obrolan mereka berhenti karena sang ketua kelas datang untuk membawakan berita. “Bu Risa beneran nggak masuk. Tapi wali kelas kita yang mau masuk karena mau ngenalin kita sama anak baru,”
“Ganteng nggak sih anak barunya?” Tanya Hanym pada ketua kelasnya.
“Ya mana gue tau, gue aja belum tau jenis kelaminnya. Maen ganteng-ganteng aja lo,”
“Kirain ganteng, kalau ganteng bisa nih buat gue,”
“Ya kalau ganteng, dan lo mau dia lo, emang dianya mau sama lo apa?”
“Ih nyebelin lo ah!”
Hanum menunjukkan kepala tangannya kepada Fandi yang langsung terbahak melihatnya. Mereka langsung cepat-cepat duduk dengan tenang ketika wali kelas mereka datang.
“Assalamualaikum,”
__ADS_1
“Waalaikumsalam, Bu,”
“Ibu minta waktunya sebentar untuk memperkenalkan satu orang siswa baru di sekolah kita, dan hari ini dia bergabung di kelas kita. Ibu harap kalian bisa terima dia dengan baik ya. Walaupun dia anak baru tapi dia sama saja seperti kalian, jadi tidak ada perbedaan dalam berteman okay?”
“Okay, Bu,”
“Nak, ke sini,”
Bu Nita memanggil anak baru itu. Dan begitu masuk ke dalam kelas, semua murid terutama yang perempuan langsung dibuat sumringah. Hampir saja mereka mengeluarkan suara teriak, tapi beruntungnya bisa ditahan. Bagaimana mereka tidak teriak kalau yangd atang adalah laki-laki tampan berperawakan tinggi tegap.
“Gila! Dari jalannya aja udah ganteng banget,”
“Ini mah dilihat dari belakang aja, kita udah bisa nebak kalau doi ganteng. Buset, udah punya pacar belum ya?”
Berbagai gumaman dari teman-temannya langsung Zeline dengar ketika anak baru itu masuk ke dalam kelasnya dengan senyum. Laki-laku itu datang dengan ransel ang tersampir di bahu kirinya.
“Okay, silahkan perkenalkan diri kamu,”
“Halo semuanya. Perkenalkan nama saya Juan,”
“Halo, Juan,”
“Okay, Juan, selamat bergabung di kela sini semkga kamu nyaman. Kalau ada kendala apapun itu, silahkan laporkan pada Ibu ya, jangan sungkan. Mulai sekarang kamu jadi bagian dari kami. Selamat belajar,”
“Terimakaish, Bu,”
“Oh iya Ibu mau memperkenalkan sturtur kelansya dulu ya. Ketua kelas kita ada Arya, wakilnya Kiana, bendahara Tari, sekretaris Naya,”
Bu Nita mempekrnealkan satu peraatu kuridnya yang menjabat menjadi ketua kelas beserta wakilnya, bendahara, dan sekretaris kepada Juan.
“Baik, Bu,”
“Silahkan duduk kalau begitu,”
__ADS_1
“Saya bisa duduk dimana aja ya, Bu?”
“Iya silahkan pilih tempat yang menurut kamu nyaman aja ya,”
“Eh Juan sini aja sebelah aku maish kosong nih,”
“Dih Hani bener-benr ya langsung ambil start duluan,”
Hani menawarkan Juan duduk di kursi yang berada di sisi kanannya karena masih kosong. Hani menjulurkan lidahnya pada Hanum yang baru saja protes karena Ia dianggap mencuri kesempatan dalam kesempitan pertana kali disaat semuanya masih diam di tempat. Nanti kalau semua sudah bergerak, siap-siap saja Juan kebingungan,
“Okay boleh,”
“Yes,“
Hani bahagia sekali karena Juan tidak menolak. Jan langsung duduk di kursi yang telah ditunjuk oleh Hani. Walaupun setiap kursi ada jaraknya tapi paling tidak bisa bersebelahan dengan Juan. Itu sudha cukup membuat Hani bahagia.
“Andai aja kita duduknya berdua-berdua ya. Duh, pasti dunia gue makin indah,”
“Okay anak-anak, sekarang Ibu keluar dari kelas dulu ya,”
“Iya, Bu,”
Bu Nita keluar dari kelansya meninggalkan kelas yang langsung riuh karena langsung berusaha akrab dengan Juan si anak baru.
“Halo, Juan,”
“Halo,”
“Eh udah-udah ya. Kenalan nanti aja, sekarang kita ada tugas nih dari Bu Risa,”
Pelronbaan berkenalan dengan Juan dihentikan oleh Arya selaku ketua kelas. Mereka yang tadinya akan berkenalan langsung merengut kesal karena Arya mengganggu.
Di antara para siswa yang antusias menyambutnya, bahkan tidka segan tersenyum tamah, ada satu yang menarik eprhatian Juan, yaitu Zeline, yang kelihatannya biasa saja, tidak seantusias yang lain ketika Ia masuk sebagai anggota baru dalam kelas tersebut.
__ADS_1
“Gue boleh tanya nggak?”