
Zeline menatap Juan untuk ebebrapa detik, dan setelah itu akhirnya Ia mengangguk. Juan sennag sekali karena Zeline tidak menolak lagi. Sentumnya langsung secerah matahari pagi.
“Okay let’s go,”
“Bentar dulu dong, gue ambil makanan gue dulu di tas,”
“Okay siap, ternyata lo tuh emang jarus ditarik duluan baru maju, nggak bis akalau disuruh maju duluan. Lo paham nggak msksud gue?”
“Paham, soal pertemanan ya?”
“Yes! Lo harus dipancingd ulu supaya mau kenalan, baru deh setelah kenal bisa asik,”
“Nggak tau ya, gue nggak tau diri gue gimana. Jata ornag emang gitu,”
Zeline mengambil kotak makannya did alam tas kemudian Ia berdiri. Ia mengisyaratkan Juan untuk berjalan lebih dulu tapi Juan menggelengkan kepalanya menolak.
“Bareng dong, ‘kan kita keluar kela sbareng, jadi ya jalannya harus bareng,”
“Ya elah ribet banget deh,”
Akhirnya Zeline yang berjalan lebih dulu. Juan langsung berjalan cepat menyusul Zeline yang nampaknya tidak mau berjalan berdampingan dnegannya. Baiklah, maka Ia yang akan menyamakan langkah Zeline. Ia penasaran dnegan reaksi Zeline. Apakah gadis itu akan ketus? Akan marah? Atau biasa saja?
__ADS_1
“Zel, tunggu dong,”
Mereka sudah jalan berdampingan, dan Zeline langsung menoleh ke arahnya sebentar. “Lagian lo lama banget. Segala nggak kau jalan duluan nah ya udha gue aja yang jalan duluan tapi kenapa lo malah nyusul gue? Hmm? Harusnya lo di belakang gue aja,”
“Hahaha galak amat sih, makin—“
“Makin apa? Lo mau ngomongin gue yang aneh-aneh ya? Biarin aja lah, nggak penting juga buat gue apa kata orang,”
Tiba-tiba Juan menepuk tangannya dan itu membuat Zeline kebingungan. Mendengar ucapan Zeline, Juan jadi ingin memuji.
“Kenapa lo tepuk tangan coba?”
“Gue salut sih sama prinsip lo. Nggak mau peduli apa kata orang, dan itu keren. Karena kalau dengerin apa kata orang, kita susah untuk bahagia bener nggak sih? Kita hidup nih ada yang suka dan ada yang nggak suka, orang yang nggak duka bakal tetap begitu terus. Jadi mau dia ngomong apa kek biarin aja, penilaian mereka tentang lo tuh nggak penting!”
Mereka tiba di kantin dan langsung memilih salah satu meja yang masih kosong alias belum ditempati oleh siapapun.
“Lo mau pesan apa?” Tahya Juan pada Zeline yang memggelengkan kepala dan melirik makanan yang dibawanya dari rmah.
“Oh lo udah bawa bekal ya, baru ingat gue. Eh tapi nggak apa-apa sih pesan aja. ‘Kan biar bisa makan barengan,”
“Ya emang kalau gue makan bekal punya gue semdiri kita nggak bisa makan bareng gitu?”
__ADS_1
“Ya nggak gitu maksud gue, jadi lo nggak mau pesan makanan kantin? Mah makan bekal lo aja? Emang cumup nih, Zel?”
“Cukup lah,”
“Okay kalau gitu, menurut lo makanan paling dnak di sini apa?” Tanya Juan pada Zeline yang memicingkan kedua mata berpikir sebelum memberikan jawaban.
“Hmm apaan ya? Semua enak sih sebenarnya,”
“Emang semuanya enak? Lo yakin?”
“Iya, gue selama sekolah di sini suka semuanya kok,” ujar Zeline dnegan yakin tanpa ada kebohongan. Memang baginya semua makanan di kantin rasanya lezat-lezat, tidak pernah gagal.
“Hmm ya udah deh, gue mau baksonya,”
“Silahkan,”
“Lo ‘kan nggak bawa m,nun, lo mau minum apa?”
“Gue air putih aja,” jawab Zeline.
“Okay sama kayak gue, Zel,”
__ADS_1
Juan langsung memesan makanan yang Ia inginkan sekaligus air minum juga. Setelah itu Ia menunggu makanannya datang sementara Zeline sudah membuka kotak bekalnya.
“Nih makan bareng gue,” ajak Zeline.