
Vindra terperangah kaget ketika mepihat Anin jatuh ketika sedang bekerja sama dengan Zeline untuk meraih hadiah yang sudah disiapkan yaitu bucket cokelat.
Jadi Zeline dan Anin dipersatukan menjadi sebuah kelompok. Mereka berdua menggunakan bakiak atau sandal yang telapaknya terbuat dari kayu bisa dipakai untuk beberapa orang dan biasanya menjadi peralatan lomba.
Mereka berdua harus bekerja sama dnegan baik supaya tidak terjatuh di tengah jalan. Di garis finis sudah ada kertas yang harus mereka ambil. Tulisannya ‘selamat anda mendapatkan bucket cokelat paling istimewa’
Zeline dan Anin sama-sama antusias untuk menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah walaupun cokelat itu banyak dijual, bisa beli dimana saja bahkan Zeline sendiri bawa cokelat sebagai persiapan cemilannya selama di Puncak. Tapi entah kenapa mereka sama-sama ambisi untuk mendapatkan itu.
“Ayo semangat ZelNin,”
Vindra menyemangati kekasih dan juga sahabatnya sambil bertepuk tangan. Dan tak lama dari itu tiba-tiba Zeline dan Anin terjatuh. Vindra terkejut bukan main tapi masih bersyukur karena mendarat di atas rumput.
“Astaga,”
“Duh kepala aku sakit nih,”
“Nin, makanya pelan-pelan jangan terlalu cepat. Kita kalau main bakiak itu pelru kerja sama, nggak bisa mau maju sendiri harus bareng-bareng,” tegur Zeline dengan lembut tanpa niat untuk menyakiti hati Anin sedikitpun.
“Jadi kamu nyalahin aku gitu? Hah?!”
Zeline langsung terdiam. Sungguh Ia tidak ada niat sedikitun untuk menyalahkan Anin tapi dalam sebuah permainan yang berkelompok, apapun jenis permainan itu tentunya butuh kerjas sama yang bagus, bukan hanya satu orang saja yang berperan tapi juga semua anggota dalam kelompok harus ikut berperan penting.
__ADS_1
“Ayo bangun, Anin. Bisa nggak?”
Lomba dihentikan sementara dan panitia langsung menghampiri Anin dan Zeline. Saat ini Zeline sudah berhasil bangkit dan uluran tangannya diabaikan begitu saja oleh Anin yang sibuk meringis sambil memegangi pelipisnya.
“Kamu baik-baik aja?”
“Tapi pelipis aku sakit nih,”
“Terus apalagi yang sakit?”
“Siku,” jawab Anin sambil mengusap sikunya yang menjadi penumpu ketika Ia terjatuh tadi.
Vindra langsung menghampiri dua gadis yang baru saja terjatuh. Ia menggendong Anin ke tepi lapangan meninggalkan Zeline yang terpaku di tempat.
“Zel, kamu nggak apa-apa?” Tanya panitia bernama Bima yang langsung ditanggapi dengan senyuman oleh Zeline.
“Iya aku nggak apa-apa,”
“Beneran? Ada lecet nggak? Itu si Anin aja ada sakitnya,” ujar Bima.
“Iya tapi kalau aku nggak apa-apa kok,”
__ADS_1
“Ya udah kalau gitu istirahat aja dulu, nggak usah ikut lomba lagi ya,”
Zeline tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia lalu berjalan mendekati Anin dan Vindra, sementara Bima kembali melanjutkan perlombaan.
“Anin, gimana? Mau ke rumah sakit aja?”
“Nggak usah,” jawab Anin.
“Kok bisa jatuh sih?” Tanya Vindra seraya menatap kekaish dan juga sahabatnya bergantian.
“Itu tanya sama pacar kamu,”
“Lho kok tanya aku? Maksud kamu, kamu nyalahin aku ya? Aku ‘kan nggak ngelakuin apapun, Nin. Aku nggak dorong kamu. Kenapa kamu kesannya jadi nyalahin aku sih?” Tanya Zeline dengan nada ketus. Tadi sudah dibentak oleh Anin, sekarang Anin menyuruh Ia menjawab. Itu artinya Anin menempatkan Ia di posisi yang salah.
“Ya emang kamu yang salah, kamu lama banget,”
“Kamu yang terlalu semangat, kok jadi nyalahin aku?”
“Ya emang—“
“Eh Zeline! Udah deh jangan diperpanjang. Aku pusing dengernya! Kamu kalah salah ya terima aja jangan membela diri!”
__ADS_1