
“Si Vindra rame tuh dibahas di grup chat angkatan lo udah liat, Zel?”
“Iya udah,”
“Terus lo mau jenguk dia nggak?”
“Hmm nggak sih kayaknya. Aku udah tanya keadaan dia juga kata dia baik-baik aja, cuma lecet,”
“Lho, Vindra kecelakaan, Zel?”
Di ruang tamu sedang ada Juan yang datang untuk mengajak Zeline pergi, ucapan Juan sampai ke telinga Reta yang datang ke ruang tamu untuk menyapa Juan.
“Halo, Juan,”
“Assalamualaikum, Tante, halo juga,”
Juan mencium tangan Reta yang segera duduk di sebelah Zeline. Dan Ia menjawil lengan Zeline yang segera menoleh menatapnya.
“Vindra kecelakaan?”
“Jatuh katanya sih, Ma,”
“Kamu jenguk gih sana,”
“Nggak deh, Ma,”
“Eh nggak boleh begitu, Nak. Temanmu itu yang ngalamin musibah,”
“Iya aku tau, Ma. Tapi dia sendiri bilang kalau dia baik-baik aja. Jadi ya udah aku nggak perlu janguk,”
Juan lihat mamanya Zeline ini masih perhatian pada mantan kekasih anaknya. Hal iyu hisa diwajarkan justru seharusnya Ia senang ketika orang memiliki simpati untuk uang sedang mengalami musibah. Tapi mungkin karena Vindra itu mantan kekasih Zeline dan Ia menyukai Zeline jadi sedikit kepikiran ketika mengetahui Reta simpati pada Vindra yang baru saja mengalami kecelakaan.
“Datengin kalau menyurut Mama. Liat langsung keadaannya. Dia temannkamu sekarang, Zel. Jangan gitu ah sama teman. Kan kalian berdua bisa jenguk bareng-bareng,”
Zeline langsung menatap ke arah Juan. Mamanya baru saja menyuruh Ia untuk menjenguk Vindra bersama Juan. Apa Juan bersedia?
“Gimana Juan?” Tanya Reta pada Juan yang la gsu g gelagapan ditanya seperti itu.
“Oh iya aku siap, Tante. Makanya tadi aku nanya ke Zeline udah tau kanar di grup angkatan soal Vindra belum? Dan mau jenguk atau nggak. Ya karena kalau Zeline mau jenguk, aku bisa bareng gitu maksudnya,”
“Tuh, Zel. Udah dnegar kata Juan kan? Jenguk aja sekarang,”
__ADS_1
“Ditanyain jeadaannya aja dia kayak udah kepedean gitu, apalagi kalau aku jenguk kali ya? Bisa makin kepedean dia, kepalanya jadi besar nanti,” batin Zeline.
Tapi kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh Mamanya itu benar seratus persen. Ia tidak boleh menjadi jahat pada siapaoun apalagi Vindra ini temannya, terlepas dari itu, Vindra pernah juga ada dalam cerita cintanya Zeline. Mereka pernah bersama dua tahun. Tidak seharusnya Ia langsung abai, tak mau peduli. Sekedar bertanya keadaan, rasanya kurang lengkap kalau tidak datang juga menemui Vindra mengingat rumah mereka dekat.
“Ya udah deh,”
“Kok pake deh? Kalau pakai kata deh kesannya terpaksa, Sayang,”
Zeline terkekeh dan langsung meminta maaf. “Iya aku salah ngomong, ya udah aku ke rumahnya sekarang,”
“Serius mau bareng ke rumah Vindra?” Tanya Zeline pada Juan yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Ayo bareng,”
“Ya udah gue siap-siap dulu ya sebentar,”
“Okay,”
Zeline bergegas ke kamarnya untuk berganti baju. Akhirnya Juan tak jadi pergi dengan Zeline, karena sebenarnya Zeline juga menolak. Tujuan mereka justru ke rumah Vindra untuk melihat keadaan Vindra.
******
“Vin, Anin datang tuh, Vin. Dia mau jenguk kamu, datang berdua sama Mamanya, Vin,”
“Ya udah bilang aja aku tidur, Ma,” jawab Vindra dengan malas.
“Iya sih udah Mama bilang gitu dan mereka juga nggak maksa mau ketemu kamu. Jadi kamu nggak mau nih ketemu Anin atau mamanya?”
“Nggak,”
“Hahaha orang mereka udah pulang, Mama bohong,”
“Ish Mama nggak jelas. Gangguin aku tidur aja,”
“Itu yang lagi ada di bawah Zeline, Vin. Kayaknya kalau ini kamu berubah pikiran deh,”
“Hah, ada Zeline?”
“Ya, dia udah mau oulang, cima Mama bilang mama mau liat kamu bentar. Kalau kamu udah bangun mau Mama suruh ke bawah jatq Zeline sih nggak usah. Dia datang sama Juan, bawa kue sama buah tuh. Baik banget mereka mau databg jenguk kamu, Vin,”
“Sama Juan?”
__ADS_1
Cindra langsung beranjak dusuk. Matanya langsung terang mendengar nama Zeline. Beda dengan informasi tadi yang tak membuatnya semangat untuk bangun.
“Beneran Zeline datang, Ma?”
“Iya sama Juan,”
“Kenapa harus sama Juan sih?”
“Lah mana Mama tau, Vin. Ya lagian emang kenapa sih? Harusnya kamu senang lah dijenguk sama dua teman kamu seklaigus. Niat mereka baik banget datang ke sini mau tau keadaan kamu harusnya kamu hargain itu,”
“Ya tapi aku berharapnya Zeline aja yang jenguk aku, Ma. Kenapa harus ada si Juan?”
“Eh nkamu nggak boleh ngomong begitu! Juan juga teman kamu. Seharusnya kamu bersyukur Juan peduli sama kamu. Hargai doangs emua teman kamu, jangan cuma Zeline aja. Dia udah luanginw sktu juga buat kamu lho,”
Vindra mengangguk pelan. Ia segera beranjak menghampiri tamunya. Kalau yang lain datang, Ia enggan meninggalkan tempat tidur tapi kalau Zeline yang datang, Ia akan semangat untuk menghampiri.
“Hai, Zel,”
Hanya Zeline yang disapa dengan hangat dan manis. Menyapa Juan hanya dengan senyuman saja.
“Makasih ya udah pada datang ke sini, Maaf udah bikin repot,”
“Santai aja, Gimana keadaan lo?” Tanya Juan pada Vindra.
“Ya mendingan lah,”
“Kok bisa sih kamu jatuh? Keteledoran kamu atau justru gara-gara orang lain?” Tanya Zeline yang langsung penasaran dengan jalan cerita yang membuat Vindra akhirnya mengalami luka-luka ringan sekarang.
“Tiba-tiba aja ada yang seruduk. Akhirnya aku jatuh,”
“Astaga, untung nggak sampai mental, dan jadi korban kendaraan lain,”
“Emang sekarang pengendara makin banyak yang sembrono berasa jalan punya nenek moyangnya kali, kita udah hati-hati tapi masih ada aja yang main seruduk. Paling benci banget sama orang-orang kayak gitu,”
“Ya makanya hati-hati,”
“Udah hatu-hati, Zeline, tapi masih ada aja orang-orang kurang ajar mentingin diri sendiri. Biasanya yang kayak gitu karena pengen cepat-cepat sampai tujuan atau emang kepengen egois aja padahal kan bikin rugi orang, nggak hanya soal materi aja atau biaya perbaikan kendaraan tapi nyawa orang kan jadi taruhannya,” ujar Juan yang juga kerap beberapa kali menjadi korban orang yang ingin mementingkan diri sendiri tapi jadinya malah merugikan orang lain.
“Betul tuh, aku udah hati-hati kok, dia mendadak nyenggol. Ya aku kan nggak ada persiapan ya akhirnya jatuh deh, untung langsung dibantuin sama bapak-bapak. Bahkan ditawarin diantar pulang juga cuma aku nya nggak mau. Mereka udah cukup aku repotin,”
“Aku harap kejadian ini nggak terulang lagi ya, Vin,”
__ADS_1
“Kenapa? Kamu khawatir ya?”
“Kegeeran lo ah,” sahut Juan dengan sinis.