
“Kasian sama dia? Terus nggak kasian sama aku gitu? Kamu sadar mggak sih kita makin jarang ada momen berdua lho, apdahal dulus l sebelum ada Anin mita sering yang namanya jalan berdua, entah itu nonton, makan atau kamu temenin aku ke toko buku beli novel. Setelah ada Anin jadi jaraaaaang banget,” ucap Zeline smabil menekan kata ‘jarang’ dan sengaja Ia perpanjang pengucapannya supaya Vindra paham sejarang apa mereka punya momen berdua untuk saat ini.
“Jarang gimana sih? Kita ‘kan tetap pulang pergi bareng, aku kadang ke rumah kamu, kita tetap chat atau video call. Aku rasa nggak ada yang berubah deh. Itu cuma perasaan kamu aja,”
“Barusan aja udah mau goyah. Bilangnya janji bakal berdua, eh nggak taunya kalau Anin keberatan nggak diajak, kamu tetap mau libatin dia. Berarti kamu nggak bisa dipegang omongannya!”
“Ya kasian kalau dia nggak diajak. Aku ‘kan udah kasih pengertian nih kalau aku mau pergi berdua sama kamu tapi kalau dia tetap keberatan, dia maunya ikut aku sama kamu, aku nggak enak nolaknya, Zel,”
“Udah besok-besok jangan janji lagi ya takutnya nggak bisa nepatin, ntar kamu yang dosa,” ucap Zeline dengan ketus.
“Aku bakal berusaha untuk jadi orang yang tega kalau gitu,”
“Besok-besok kalau kita mau jalan berdua, terua Anin keberatan dan dia mau ikut, kamu izinin aja nggak apa-apa. Walaupun kamu udah janji sama aku untuk pergi berdua aja,”
“Ribet kamu, Zel. Udah deh jangan baha sini lagi,”
“Dih yang ribet tuh kamu, nggak bisa tegas! Harusnya kalau udah janji ya mau gimanapun keadaannya tetap aja lah tepatin, jangan karena mggak tega atau bingung nolak ya kamu jadi ingkar janji ke oacar kamu sendiri. Oh iya aku lupa, Anin ‘kan sahabat kita ya jadi harus ngertiin,”
Vindra berdecak pelan dan tak mau lagi bicara apapun lagi pada Zeline karena kalau situasinya begini, tidak akan bertemu dengan ujungnya.
Mereka tiba di sebuah mall. Zeline langsung berjalan lebih dulu, sementara Vindra menghembuskan napas kasar dan berusaha menyamakan langkahnya dengan Zelins.
“Zel, tunggu dulu dong,”
“Apa sih?”
__ADS_1
“Bareng jalannya,”
“Emang harus?” Tanya Zeline pada kekasihnya tanpa mengindahkan perkataan kekasihnya dan terus melangkah.
“Kamu kenapa sih? Bareng jalannya,”
Vindra berhasil meraih tangan Zeline yang langsung berhenti langkahnya. Zeline menatap Vindra dengan mata tajamnya.
“Kenapa?”
“Ya kamu yang kenapa. Harusny aku lah yang nanya begitu. Kenapa ngambek terus sih?”
“Kamu mancing,”
“Aku nggak mancing-mancing kok. Udah sekarang jangan debat lagi. Satu dua tiga akur!”
Vindra membeli tiket bioskop sementara Zeline duduk menunggu. Setelah itu Vindra menghampiri kekaishnya itu smabil msnunjukkan dua tiket yang sudah Ia beli.
“Nih film komedi romance yang pasti kamu suka, aku yakin,”
Zeline menganggukkan kepalanya. Kebetulan Ia juga sudah pernah iklan film tersebut di internet dua hari lalu. Dan dari video singkatnya, Zeline menganggap film itu sepertinya menarik untuk ditonton.
“Oh iya kita belum beli cemilan sama minuman, Zel. Kamu mau apa?”
“Aku aja yang beli, kamu mau apa?“
__ADS_1
“Aku aja, kamu tunggu sini. Pop corn manis atau asin, terus minumannya apa?”
“Manis, milo,”
Zeline menjawab dua pertanyaan sekaligus sehingga singkat sekali. Vindra tak mampu menahan tawanya. Ketahuan sekali Zeline masih jengkel.
“Padahal tadi aku udah hitungs atu dua tiga damai kok kamu maish jutek gitu sih?”
“Udah nggak usah banyak omong. Buruan beli itu, atau aku aja yang beli?”
“Aku aja. Tapi aku nggak suka aja gitu kamu ngomongnya singkat bener,”
“Suka-suka aku lah,”
“Ngomongnya rada panjang dikit deh biar aku senang,”
“Ah kamu banyak mau,”
“Hahahaha kok gitu sih?”
Zeline berdecak, Ia yang akan membeli cemilan dan minuman untuk menonton tapi kekasihnya itu langsung menahan tangannya.
“Iya-iya ini aku beli pop corn sama minumannya. Jangan marah dong,”
“Bentar lagi udah mau masuk lho,”
__ADS_1
“Iya ini aku langsung beli kok,”