Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 98


__ADS_3

“Ya udah ayok makan sate yang di luar mall aja,”


“Emang ada yang di dalam mall ini? Biar seklai aja gitu, jangan jauh-jauh. Aku abis nonton lapar lho ini,”


“Di mall ini yang aku tau nggak ada sih, resto Jepang, western gitu-gitu aja. Kita keluar aja nggak apa-apa ya? Nggak jauh kok dari sini,”


Vindra tahu kekasihnya sudah lapar dan Ia pun demikian. Makanya Ia tahu tempat makan sate yang tidak begitu jauh dari mall tempat mereka nonton bioskop saat ini.


“Ya udah ayok deh,”


Mereka keluar dari mall, dan Vindra langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Suasana jalanan lumayan ramai mengingat ini hari libur banyak juga orang yang mengisi waktu luang untuk bepergian keluar rumahs alah satunya Vindra dan Zeline yang merayakan ulang tahun Vindra hari ini.


“Nggak sangka ulang tahun kamu kali ini maish sama aku, semoga tahun-tahun berukutnya juga ya,”


“Aamiin, aku selalu berharap begitu, Zel,”


“Sama, aku juga selalu punya harapan bisa ngerayain momen-momen cukup penting bareng sama kamu terus,”


“Makasih ya untuk semuanya, Zel. Aku beruntung punya kamu, hidup aku jadi lebih berwarna,”

__ADS_1


“Sama kalau gitu, hidup aku juga jadi kebih berwarna,” ujar Zeline sambil tersenyum.


Tiba di restoran sate, Vindra dan Zeline langsung bergegas masuk ke dalam dan ternyata lumayan banyak pengunjung.


“Wih lumayan rame jam makan siang. Pasti snak nih,”


“Aku suka ke sini,”


“Sama siapa?”


“Ya sendiri, kadang sama Mama Papa, emang kamu mikirnya aku sama siapa, Zel?” Tanya Vindra sambil terkekeh.


“Hahaha tanya doang, jangan bingung,”


“Hahahaha itu tau,”


“Dih, ya nggak lah, masa iya aku sama cewek lain. Ya kalau Anin sih nggak usah ditanya ya, karena dia tuh sahabat aku emang sering makan-makan berdua. Tapi kalau ke tempat sate ini sih belum pernah berdua doang,”


“Ih, jadi kamu sama Anin udah sering ke tempat makan berdua doang? Hah? Yang nggak aku tau alias di belakang aku sering ya?” Tanya Zeline dengan nada datar tapi tersirat kesal.

__ADS_1


“Nggak, apa yang kamu tau itulah yang terjadi. Dia ‘kan suka minta aku untuk temenin dia kemana gitu, nah itu suka makan bareng. Ya udah sebatas itu aja,”


“Kamu bohong ya sama aku? Hmm?”


“Ya ampun, Zel. Kok kamu mikirnya aku bohong sih? Ya nggak lah, apa yang kamu tau ya itu emang benar,”


“Ya apa yang aku tau coba? Jangan-jangan yang nggak aku tau lebih banyak daripada yang aku tau,”


“Nggak, kamu taunya aku suka temenin Anin ke toko buku, atau kemana gitu, nah itu biasanya sekalian makan. Dan itu semua kamu tau ‘kan? Orang aku selalu bilang,” ujar Vindra dengan santainya. Ia merasa jujur jadi tidak gugup ketika menjawab.


Zeline terkekeh lantas mendengus. “Kamu beneran selalu bilang? Hmm?”


“Iya kok,”


“Yang waktu itu ketemu sama teman sekelas aku makan sama Anin di pecel lele kalau nggak salah, itu kamu nggak bilang lho sama aku,”


“Itu lupa ngomong mungkin, Anin suka tiba-tiba ngajak gitu, Zel, jadi aku sendiri pun nggak ada persiapan, nggak enak nolak skhirnya aku iyain aja,”


“Nah itu, jadi nggak bisa dibilang selalu ngomong ke aku dong kalau misal mau pergi sama yang lain karena kenyataannya emang nggak selalu,”

__ADS_1


“Sebisa mungkin kalau aku ingat, kalau aku sempat aku selalu usahain untuk ngomong ke kamu,”


“Ya percuma juga sih kalau ngomongnya tuh setelah udah pergi, buat apa coba? Masa iya aku suruh kamu pulang lagi ke rumah kamu nggak boleh jalan sama ini sama itu, ‘kan nggak mungkin,”


__ADS_2