
“Dia itu udah nggak hargain aku lagi. Dia secara nggak langsung udah ngusir aku dari kehidupan dia,”
“Kenapa kamu bsia mikir kayak gitu sih? Vindra tuh sayang banget lho sama kamu. Dia rela ngelakuin apa aja supaya kamu senang. Dia keliatan bucin banget ke kamu. Amsa kamu tega sih mutusin laki-laki sebaik Vindra? Apa kamu nggak bakal nyesal mutusin Vindra? Nanti belum tentu lho kamu ketemu yang kayak Vindra lagi. Menurut aku, Vindra tuh udah bisa dibilang versi baik dari kaum laki-laki,”
Zeline tersenyum dinis mendnegar ucapan Anin yang jelas memuji Vindra. Anin tidak ada di posisi Zeline makanya bisa bicara seperti itu.
“Munhkin menurut kamu, Vindra bcuon banget ke aku. Tapi kenyataannya nggak tuh. Dia bahkan nggak jadiin aku sebagai prioritasnya,”
“Ya emang kamu mamanya?”
__ADS_1
Zeline langsung menatap Anin dengab sorot mata kesal. Zeline tidak pernah memposisikan dirinya di atas Rina mama Vindra. Ia juga tahu sampai kapanpun, seorang anak adalah milik orangtuanya apalagi anak laki-laki. Dan lagipula Ia hanya kekaish Vindra. Maksud Zeline bukan Ia mau bersiang dnegan mamanya Vindra. Tapi sebelum ada Anin, Vindra menjadikan dirinya prioritas tapi tentunya berada di bawah orangtua. Ia juga tahu diri, tahu statusnya yang hanya kekaish Vindra.
Yang Zeline permasalahkan di sini adalah, Vindra menggeser posisi yang biasa Ia tempati dengan Anin.
“Udah nggak ada yang diomongin lagi ‘kan? Ya udah kamu keluar aja sana. Aku mau istirahat dulu,”
“Zel, kok kamu gitu sih? Kamu harus balikan ya sama Vindra. Kasian dia, Zel. Dia tuh sayang banget sama kamu. Dia galau karena kamu putusin,”
Anin dan Gisa ynag menjadi pengamat mereka langsung terkejut mendnegar ucapan Zeline. Zeline tidak suka ketika keputusannya diganggu, dan Ia ditekan untuk merubah keputusan yang sudah Ia ambil sebelumnya. Anin tidak berhak menyuruhnya untuk kembali pada Vindra karena hatinya tidak menginginkan hal itu.
__ADS_1
“Keputusan aku udah bulat. Aku nggak mau pacaran lagi sama Vindra, kamu paham?”
“Ya tapi kenapa? Cuma gara-gara dia nggak sengaja marah ke kamu? Ya ampun, Zel. Vindra tuh cuma khawatir sama aku dan dia nggak dengaja marah ke kamu karena ‘kan emang kamu yang sal—“
“Stop ya, Anin! Gue nggaks alah! Lo jangan nuduh gue terus. Daripada debat di sini mending lo keluar aja deh. Kepala gue makin pusing ngobrol sama lo. Sekarang gue mau istirahat. Sana keluar! Jangan ganggu gue, dan jangan coba-coba maksa gue untuk ngelakuin hal yang nggak gue mau!” Tegur Zeline dengan tegas tidak ingin dibantah. Menurut Zeline, Anin sudah keterlaluan. Sebenarnya Anin tidak berhak ikut campur di dalam hubungan Zeline bersama Vindra. Makanya ketika Nain melakukan itu, Zeline tidak senang.
“Kamu kok gitu sih sama aku? Padahal aku cuma pengen yang terbaik aja buat kamu sama Vindra. Yang nggak usah ketus gitu dong,”
“Siapa yang nggak ketus? Kalau ada orang lain yang ikut campur dalam urusan lo, apa lo bakal diam aja? Hah? Lo tuh nggak usah deh nyuruh-nyuruh gue balikan sama Vindra. Gue egasin ya, dia udah nggak bisa hargain gue lagi sebagai pacarnya. Jadi ngapain gue bertahan? Mending dia sama perempuan yang dia hargain banget, dan itu lo! Gue yakin lo nggak polos-polos banget. Lo pasti tau ‘kan kalau Vindra segitu sayangnya sama lo?”
__ADS_1
“Ya tapi akus ama Vindra itu cuma sahabat. Jadi kamu cemburu sama aku? Ya ampun, Zeline. Nggak usah berlebihan lah. Aku sama Vindra itu nggak ada hubungan selain persahabatan aja,”
“Mau sahabatan atau apa kek, gue nggak peduli karena itu bukan urusan gue. Terserah kalian aja mau gimana,”