
“Vindra kamu dimana?”
“Aku lagi sama Zeline lagi belanja di supermarket, emang kenapa?”
Zeline diam-diam mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh Anin melalui telepon bersama kekasihnya yang saat ini berjalan di belakangnya. Demi bisa lancar mendengar, Zeline sampai memperlambat langkah kakinya.
“Aku mau minta temenin kamu ke supermarket buat belanja keperluan aku untuk pergi lusa itu lho,”
“Ya udah ntar deh kalau aku sempat aku samperin kamu,”
Zeline spontan menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap kekasihnya dengan mata memicing. Disaat sedang menemaninya belanja, sekaligus belanja untuk dirinya sendiri juga, Vindra masih punya niat untuk menghampiri Anin dan menemani Anin belanja juga.
“Olay aku tunggu ya semoga kamu sempat tapi kalau emang nggak bisa nggak apa-apa kok, aku sendkri aja gampang,”
“Okay ntar aku kanarin deh,”
Sambungan telepon mereka berakhir, Vindra langsung menyimpan ponselnya di dalam saku dan menyusul Zeline yang sudah berjalan lumayan jauh di depannya dan fokus memilih makanan ringan.
“Zel, nanti aku ke apart nya Anin ya, dia minta anterin aku ke supermarket mau ada yang dibeli juga katanya,”
“Ya udah nggak apa-apa, kenapa nanya aku?”
“Ya nggak apa-apa cerita aja,”
“Orang udah ambil keputusan ngapin masih nanya coba?”
“Kamu nggak suka aku temenin Anin? Aku batalin nih,”
“Lah ngapain dibatalin, ya udah nggak apa-apa jalan aja lah, kenapa harus dibatalin?”
“Beneran?”
“Iya, kamu nggak usah nanya kayak gitu seolah aku larang, lah ‘kan kamu udah ambil keputusan barusan. Kamu udah terlanjur ngomong sama Anin kalau kamu bakal datang ke apart dia,”
“Belum pasti sih, aku bilang kalau aku sempat dan aku bakal kabarin dia lagi nanti,”
Zeline diam tidak lagi berkata apapun. Sudah terserah kekasihnya saja lah, mau menemani, mau mengantar, intinya Ia sudah terlanjur kesal mendengar itu. Entah kenapa, setiap keinginan Anin itu selalu dipenuhi oleh Vindra. Sampai Zeline merasa Ia belum pernah sekalipun mendengar Vindra menolak permintaan Anin. Anin mau pulang bersama dipenuhi, Anin minta ditemani beli peralatan membuat mading dipenuhi, Anin minta ditemani ke toko buku dipenuhi juga, semua dipenuhi. Sepertinya belum ada yang mendapat penolakan dari Vindra.
“Bahkan kalau perlu kamu boleh juga ninggalin aku di sini ntar aku pulang naik ojek online aja gampang,”
“Jangan ngomong gitulah, aku mana mungkin ninggalin kamu,”
“Ya daripada sahabat kita itu nungguin kamu kelamaan, kamu ‘kan mau temenin dia,”
“Ya liat nanti aja kalau emang nggak sempat aku kabarin ke dia,”
Zeline merotasikan bola matanya halus tanpa sepengetahuan Vindra. Lama-lama kesabarannya semakin diuji.
“Kayaknya kesanaran aku makin tipis deh, perasana duluw aktu awal-awal Anin datang aku nggak pernah sewot dia mau kayak gimana juga sama Vindra, sekarang bawaannya risih aja gitu,” batin Zeline sambil memilih-milih tapi tidak fokus mau makanan ringan yang mana.
“Kamu nggak beli cokelat?”
__ADS_1
“Ntar,”
“Aku ambilin ya?”
Zeline menganggukkan kepalanya lantas membiarkan kekasihnya itu mengambil cokelat untuknya. Tak lama kemudian Vindra datang membawa dua buah cokelat untuknya sambil berkata “Dikit aja jangan banyak-banyak,”
“Makasih,”
“Sama-sama,”
“Kamu mau apalagi nih?”
“Aku mau yang pedas, kentang pedas ini enak kayaknya nih,”
Vindra menahan tangan kekaishnya yang akan mengambil keripik kentang pedas di rak. Kemudian Vindra menggelengkan kepalanya.
“Kenapa sih? Aku mau itu,”
“Jangan dong, itu pedas banget keliatannya. Nggak liat apa cabenya banyak begitu,”
“Apaan sih? Orang aku mau kok, jangan ngelarang dong. Suka-suka aku,”
“Zel, kok ngomongnya gitu sih? Aku larang kamu itu ada tujuannya. Aku nggak mau kamu sakit perut, paham nggak?”
“Ya udah biarin aja, aku ini yang sakit perut,”
“Jangan ngaco deh kalau ngomong, pokoknya jangan! Itu cabenya banyak banget, jangan aneh-aneh. Kamu tuh suka banget ngundnag penyakit buat datang, nggak ingat apa abis sakit? Hmm?”
“Zel, mau kemana?”
“Mau nyuci, ya mau nyari makanan lain lah,” jawab Zeline dengan ketus.
“Hahaha kok galak amat sih,”
“Ya kamu ribet sih,”
“Lamu kayaknya badmood sama aku,”
“Bodo amat ah, ngomong mulu,” ujar Zeline dengan nada kesalnya.
Vindra senang karena Zeline tidak berusaha mengambil makanan pedas, ketika Ia larang walaupun kesalnya tidak bisa ditutupi. Tapi setidaknya Zeline mau mendengarkan larangannya yang Ia lontarkan untuk kebaikan Zeline juga sebenarnya.
“Ini boleh ‘kan? Pedasnya cuma dikit doang,” ujar Zeline sambil menunjukkan satu jenis makanan ringan yang bentuknya bunga-bunga kalau dilihat dari kemasannya juga tidak pedas seperti yang tadi.
“Tau darimana kalau itu pedas dikit doang?”
“Ya liat aja gambarnya, lagian ini ada tulisan level satu kok,”
“Ya udah ambil aja,”
“Yeayy makasih,”
__ADS_1
“Aku tuh ngelarang kamu ada tujuannya, kamu baru aja dari sakit, Zel, masa udah mau sakit lagi sih gara-gara makanan pedas,” ujar Vindra.
“Ya,”
“Jadi kamu jangan kesal sama aku ya, aku ngelarang kamu ya karena aku kahwatir. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Baru aja sembuh abis demam beberapa hari lalu masa sekarang mau sakit lagi? Udah gitu bentar lagi kita ada kegiatan,”
“Hmm,”
“Kamu keluatan banget kesalnya sama aku,”
“Nggak, kamu jangan sok tau. Aku lagi malas ngomong aja,”
“Kenapa malas ngomong sama aku coba? Emang aku salah apa?”
“Ya pikir aja sendiri salah kamu apa,”
“Kok gitu sih?”
“Aku mau belanja nih, mau fokus, jangan ganggu deh tolong,”
“Apa gara-gara Anin ya?”
“Nggak ah,”
“Eh nanti aku antar kamu langsung ke rumah ya, terus aku pergi,”
Zeline merotasikan bola matanya. Tanpa diucapkan juga Ia paham kalau nanti Vindra akan langsung mengantarkannya ke rumah, dan akan langsung pergi.
“Ya udah pergi aja,“
“Nanti aku kabarin kalau misalnya aku udah sampai rumah,”
“Jadi mau nganterin Anin?”
“Hmm nggak tau,”
“Lah kok nggak tau? Gimana sih? Cowok tuh yang dipegang omongannya klau tadi kamu iyain ya berarti kamu harus datang ke apar Anin dan temenin dia belanja,”
“Tapi belum aku iyain sih,”
“Ya udah sana anterin lah, ‘kan sahabat kamu mas anggak dianterin,”
“Dia minta temenin kayaknya, Zel, bukan hanya dianterin,”
“Ya udah sana temenin,”
“Tapi nggak apa-apa? Gimana kalau sama kamu?”
“Yang benar aja sih kamu. Emang kamu bawa mobil? Lagian ya, aku nggak mau. Mending di rumah tata makanan ringan aku yang kau dibawa pergi, sama aku mau lanjut nonton drakor,”
“Oh gitu ya udah deh. Kalau ada kamu ‘kan jadi seru gitu, nggak ada cemburu-cemburuan juga,”
__ADS_1
“Gimana nggak ada cemburu-cemburuan kalau dipancing kayak gini? Ish Vindra benar-benar deh,” batin Zeline sambil menggertakkan giginya kesal.