Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 91


__ADS_3

Malam ini, Zeline diundang oleh temannya datang ke acara ulang tahun semasa SMP. Zeline sudah sepakat dengan dua teman SMP nya juga yaitu Aca dan Nia untuk menghadiri acara ulang tahun Citra.


Zeline dijemput oleh Aca dan Nia yang berpikir setelah Ia sampai di rumah Zeline, gadis itu sudah siap. Ternyata belum, karena Zeline ketiduran sebentar. Usai menjalankan ibadah sholat Isya bersama orangtuanya, Zeline masuk ke kamar dan malah terlelap, alih-alih bersiap. Begitulah Zeline kalau diajak keluar malam. Selalu tak ada semangat, bawaannya ingin tidur saja. Ingin menolak, Ia tak enak hati pada temannya yang sedang berulang tahun itu, dan mamanya juga selalu mendorong Ia supaya mau keluar rumah, mengingat Ia memang anak yang kurang bergaul dengan dunia luar. Setiap hari kerjaannya hanya keluar rumah untuk sekolah, selepas itu langsung masuk ke dalam rumah, dan menghilang di kamar sibuk dengan dunianya sendiri yaitu belajar atau mengerjakan tugas, membaca novel, ataupun menonton drama.


“Maaf lama ya, Ca, Ni. Aku soalnya baru banget siap-siap,”


“Iya nggak apa-apa kok, tapi lo sebenarnya ingat atau nggak kita bakal pergi ke partynya Citra?”


“Ingat, cuma aku tuh sempat ketiduran tadi. Biasa lah, agak malas-malasan kalau mau keluar rumah malam-malam begini, enaknya emang tidur,”


“Gue nggak akan biarin lo tidur sih. Kalau seandainya tadi sampai sini gue tau lo masih tidur, gue bakal bangunin lo, Zel. Gue gedor pintu kamar lo sampai jebol, Zel,”


Zeline tertawa membayangkan betapa kesalnya Aca dan Nia bila seandainya Ia belum siap dan malah tidur. Sudah ada dalam bayangannya juga ketika mereka menggedor pintu kamarnya supaya tidurnya terganggu.


“Jangan dong. Bahaya, ntar kalau kamar aku nggak ada pintunya ‘kan repot,”


“Ya udah ayuk buruan kita capcus. Nyokap lo mana? Pamit dulu kita,”


“Di kamar, tadi abis bangunin aku langsung masuk kamarnya. Aku panggil dulu sebentar ya,”


Dua teman Zeline itu menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan Zeline bergegas ke kamar orangtuanya sementara mereka masih bertahan di ruang tamu.


Ketika Zeline membawa mamanya, Mereka langsung beranjak berdiri dan tersenyum hendak berpamitan.


“Tante, berangkat dulu ya,”


“Iya, kalian hati-hati ya,”


Aca dan ania mencium tangan Reta yang mengantarkan mereka hingga ke halaman. Reta tak lupa berpesan pada Zeline agar memberitahu dirinya bila Zeline sudah sampai di tempat tujuan, dan Zeline tidak pulang terlalu larut. Walaupun Ia malah mendorong Zeline supaya pergi, tak banyak diam di rumah, tapi Ia ingin Zeline tidak pulang terlalu malam karena itu membuatnya khawatir apalagi mengingat anaknya juga jarang sekali keluar malam hari. Keluar mencari kesenangan di luar rumah boleh asal ingat waktu. Reta ingin anaknya punya prinsip seperti itu.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Aca dan Shelina pergi dengan menggunakan mobil Nia tentunya. Nanti ketika pulang, Shelina akan diantar oleh Nia.


“Ni, ini acaranya dimana sih?”


“Kayaknya kafe deh,”


“Udah banyak yang datang?”


“Iya, udah lumayan rame,”


“Tapi kita nggak telat ‘kan ya?”


“Nggak, mudah-mudahan kita sampai sebelum Citra make a wish dan tiup lilin ya,”


“Iya, nggak enak kalau telat,”


“Lo dandannya cepat sih, Zel. Makanya kita nggak telat, semoga. Walaupun lo ketiduran tapi lo dandannya cepat, njir. Nggak kayak gue bisa sampai satu jam setengah gue dandan,”


“Nggak apa-apa, namanya juga perempuan ‘kan,”


“Makanya gue harus cari suami yang sabar, Zel. Soalnya dalam hal dandan aja gue mancing emosi, mesti nunggu satu jam setengah baru kelar lo bayangin dah tuh, kudu sabar emang kalau sama gue,”


“Aku yakin nanti pasangan kamu sabar kok. Emang ada orang yang perlu waktu lama buat siap-siap, ada yang nggak, ada juga yang sedang aja. Ya pokoknya macam-macam lah tipe orang itu,” ujar Zeline yang tak mempermasalahkan kebiasaan temannya yang suka lama bila berdandan. Menurut Zeline itu hal wajar. Karena memang setiap manusia itu punya kebutuhannya masing-masing. Ada yang butuh waktu sebentar untuk berdandan, ada yang lama. Tidak bisa disamakan antara manusia yang satu dengan yang lainnya.


“Itu kalau make up ke acara-acara resmi gitu sih, Zel. Kalau make up daily mah lebih bentar,”


“Iya wajar, kondangan ‘kan jarang-harang ya, jadi mesti perfect, kayak kalian malam ini nih, cantik banget ya ampun,”


Zeline tak segan memuji Aca dan Nia yang malam ini mengenakan dres cantik yang begitu pas di badan mereka. Dres berbahan satin, dengan tali kecil yang menggantung di kedua bahunya membuat mereka tampak seksi dan anggun malam ini. Mereka mengenakan gaun serupa tapi beda warna.


“Lo baju baru ya? Cantik deh” Tanya Aca seraya melirik Zeline. Sebenarnya ketika pertama kali melihat Zeline tadi, Ia menebak dalam hati. Baju yang Zeline pakai sepertinya masih baru.


“Hah? Iya ini baju baru,” jawab Zeline dengan gugup, dan sempat diam dulu tadi sebelum menjawab.


“Serius? Gue padahal nebak aja lho, tapi emang keliatan sih barunya,”


“Iya beneran,”


“Beli dimana, Zel? Cantik lo pakai itu,” kali ini gantian Nia yang memuji Zeline. Malam ini Zeline mengenakan gaun yang lengannya hingga siku. Di bagian dada, ada pita berukuran kecil, dan di pinggang ada tali yang sengaja Zeline ikat sehingga membentuk badan Zeline yang memang ramping.


“Nggak tau beli dimana,”


“Lah, gimana ceritanya lo nggak tau baju yang lo pake sekarang beli dimana. Emang bukan lo yang beli? Atau lo lupa?”


“Ini tuh dikasih orang, Ni,” jawab Shelina atas pertanyaan dari temannya itu.


“Oalah, pantesan. Gue penasaran, siapa yang ngasih?” Tanya Aca setelah itu terkekeh kecil. Penasaran terhadap Zeline menyenangkan juga ternyata. Ia makin dibuat penasaran karena tadi Zeline sempat gugup tak langsung menjawab.


“Bagus nggak?”


Alih-alih menjawab, Zeline malah bertanya pada temannya yang masih fokus mengemudikan mobilnya itu.


“Ya bagus lah, gue suka dan gue penasaran lo dikadoin siapa? Beneran dikadoin?”


“Iya beneran kok, Ta. Ini emang dikadoin sama Vindra,”


“Oh gitu, dari Vindra? Kenapa nggak langsung ngomong aja sih? Lo mah sengaja bikin orang penasaran aja nih, lo ngomongnya tuh jangan setengah-setengah,”


“Emang aku ngomong setengah-setengah?”


“Iya lah, lo harusnya langsung bilang itu dari Vindra,”


“Ya deh, aku agak ragu mau bilang,”


“Lho, emang kenapa?”


“Takut diledekin kalian. Soalnya kalian tuh iseng ‘kan,”


“Iseng gimana maksudnya?”


“Iya nanti aku diledekin, cie-cie dibeliin Vindra. Kalian tuh suka nyebelin, Ca, Ni,”


“Cie dikasih baju sama Vindra,”


Aca dan Nia langsung mewujudkan apa yang ada di benak Zeline. Akhirnya membuat Zeline tertawa. Ia sudah menduga reaksi Aca dan Nia akan seperti itu makanya Ia sempat ragu hendak jujur atau tidak.


“Dalam rangka apa Vindra ngasih baju ke lo, Zel?”


“Nggak dalam rangka apa-apa sih, dia mendadak ngasihnya. Aku juga bingung, padahal aku nggak lagi ulang tahun,”


“Ya mungkin dia emang pengen aja kasih kejutan buat lo, ngomong-ngomong keren sih bajunya. Cocok buat lo yang karakternya tuh nggak neko-neko,”


“Makasih pujiannya, Ca. Kamu juga cantik banget malam ini. Aku sampai nggak bisa berkata-kata tau,”


“Ah lebay lo mah. Gue nggak ada apa-apanya dibanding lo, Zel. Aku mah apa atuh, aku cuma butiran debu,”


“Ih kamu tuh yang omongannya lebay. Emang aku udah sehebat apa? Setinggi apa sampai kamu anggap diri kamu itu butiran debu? Jangan gitu ah,”


Mobil Nia tiba dengan selamat di area parkir. Zeline mengernyit ketika melihat ke dalam tempat yang menjadi tempat tujuannya bersama Aca dan Nia.


“Eh, ini sih bar, bukan kafe,” gumam Zeline.

__ADS_1


“Iya ya, tulisannya begitu tuh,” ujar Aca seraya menunjuk nama bar yang benar-benar berukuran besar sehingga dengan mudah mereka baca.


“Kayaknya ramai ya,”


“Iyalah, bar emang kebanyakan ya ramainya di malam,”


“Kamu yakin mau masuk? Aku jujur malas banget tau, mendingan tidur deh tapi nggak enak udah diundang sama Citra,”


“Yakin lah, ayo kita masuk. Udah sampe nih, Zel. Masa iya kita mau balik lagi? Sia-sia aja kita ke sini. Kita cuma bentar aja yang penting udah nampakkin muka, sebagai tanda bahwa kita hargai undangan ulang tahunnya Citra,” ujar Zeline.


“Okay deh, tapi beneran ya kita nggak lama, cuma bentar aja,”


“Iya, Sayang. Tenang aja, yang penting kita udah hadir diliat sama Citra. Kuy kita masuk,”


Aca dan Nia langsung membuka pintu mobil setelah melepas seat belt yang mengungkung badan sejak tadi. Disusul oleh Zeline yang ragu ingin masuk. Tapi kalau dipikir-pikir percuma juga Ia datang kalau seandainya tak jadi masuk.


“Eh, pelan-pelan aja dong, jangan pisah dari aku,” ujar Zeline pada dua temannya yang hendak berjalan lebih cepat di depannya. Mereka berdua antusias menghadiri acara ulang tahun Citra. Sementara Zeline sendiri berkebalikannya. Mengetahui bahwa acara berlangsung di bar, malam hari, dengan pengunjung yang lumayan ramai, dan kebanyakan tidak dikenal Citra tentunya membuat Zeline jadi semakin malas, inginnya berbaring saja di atas tempat tidur.


“Cie bucin banget sama gue sampai nggak mau ditinggal, tangan gue dipegang,” ujar Nia meledek Zeline yang menggenggam erat tangannya sebelum berjalan masuk ke dalam bar.


“Santai aja, Zel. Semua aman kok, tenang aja ada gue,”


“Iya okay, makasih ya,”


“Susah emang pergi sama orang yang jarang banget keluar rumah, apalagi malam, udah gitu ke bar pula,”


“Kita langsung cari Citra yuk supaya ngucapin langsung sama dia gitu,” ujar Zeline setelah memasuki bar yang musiknya lumayan keras dan itu cukup mengganggu diri Zeline.


“Citra!”


Citra langsung menolehkan kepalanya. Dan Ia tersenyum lebar melihat kedatangan Zeline bersama dua sahabatnya untuk menyapa mereka.


“Cit, happy birthday ya. Semoga apa yang kamu harapkan di usia yang baru ini tercapai ya,”


“Aamiin, makasih banyak udah datang, Guys,”


“Yoi, ternyata di bar yak. Tadi si Zeline sempat ragu tuh, masuk atau nggak,”


“Kenapa ragu, Zel? Aman kok, tenang aja. Sengaja milih ini supaya kita bisa party bareng-bareng dan tempatnya luas gitu,”


“Iya, agak kaget aja ternyata acaranya di bar,”


“Iya, gue ngikutin sukanya teman-temannya aja, Zel. Ada yang hobi banget party. Nah kebetulan barnya juga besar jadi enak buat party,”


“Lo mau minum apa, Zel, Ni?” Tanya Nia pada temannya yang malam ini pergi ke bar bersamanya untuk menghadiri acara ulang tahun Citra.


“Eh iya, buruan ambil minum, makanan, have fun pokoknya ya,” ujar Citra seraya merangkul bahu keduanya kemudian pergi.


“Aku mau air putih aja,” ujar Zeline.


Pernah diingatkan sekali oleh Vindra mengenai dirinya yang tak boleh sembarangan menyeruput minuman, apa lagi ini lagi ada di acara party.


“Hah? Air putih? Nggak mau nyobain dikit yang bikin nge-fly?”


“Nggak ah, aku nggak mau yang aneh-aneh, aku mau air putih aja, Ni,”


“Ah payah, udah gede belum sih? Masa ke party minumnya air putih?”


“Gue juga air putih aja deh, Ni, minta tolong ya,” ujar Aca yang diangguki oleh Nia.


Nia meledek Zeline terus. Tapi Zeline tetap saja ingin air putih. Nia tertawa dan akhirnya merangkul bahu Zeline yang punya prinsipnya sendiri.


“Okay, gue juga maunya air putih aja,”


“Iya, nggak demen yang aneh-aneh, eh tapi kalau ada jus gue mau jus,”


“Ya udah,”


“Gue aja yang ambil minum, kalian duduk gih, cari tempat sana,”


“Makasih ya,”


Nia menganggukkan kepalanya. Nia bergegas ke meja untuk mengambil air minum sementara Zeline dan Aca mencari tempat.


Zeline memilih salah satu sudut untuk menjadi tempatnya dan kedua temannya diduk. Zeline mengamati suasana sekitar. Disaat orang sibuk mengobrol, ada juga yang menggerakkan badan mereka seirama dengan musik yang ada.


“Aku malah ngantuk, mereka keliatannya malah semangat banget,”


Zeline menyatukan kedua tangannya di atas meja untuk menjadi tumpuan keningnya. Ia memejamkan mata sejenak. Nampaknya Ia akan bicara pada Nia dan Aca, setelah minum, Ia ingin langsung pulang saja. Karena rasa kantuknya makin bertambah. Tadi di perjalanan sempat hilang sekarang malah mengantuk lagi.


“Eh Zel, Ca, nih air minum sama blackforest cake buat kalian,”


Zeline langsung menatap Nia yang baru saja datang membawa dua gelas minuman juga dua piring kecil blackforest cake untuk dirinya sendiri dan juga sang teman, Zeline.


“Woah, makasih ya, Nia,” ujar Zeline dan Aca bersamaan.


“Sama-sama, kalian suka sama kue ini ‘kan?”


“Suka kok, makasih udah diambilin,” ujar Zeline.


“Iya, bilang makasih sekali lagi, gue kawinin lo sama Vindra,”


“Heh ngomong apa sih?” Zeline melotot tajam ke arah temannya yang langsung terbahak. Belum waktunya membahas pernikahan.


Nia tertawa lebar melihat pelototan tajam Zeline. Tanpa rasa bersalah Nia menyantap blackforest di depannya.


“Ya ‘kan lo sama Vindra emang udah ada hubungan,”


“Ya tapi nikah aja belum, udah ke kawin aja ngomongnya. Kamu kejauhan, Sayang,”


“Duh dipanggil sayang. Seneng bener dengarnya,” ujar Nia seraya mengedipkan kedua matanya bergantian.


“Eh ngomong-ngomong, lo udah bilang Vindra kalau lo ke sini sama gue?”


“Nggak, dia lagi sibuk mungkin. Terakhir kali chatingan pas pagi. Dia ngajakin aku berangkat bareng tapi dia nya kuliah pagi, nah aku kuliah siang, nggak jadi deh,” ujar Zeline bercerita terakhir kali Ia berkirim pesan dengan Vindra adalah tadi pagi ketika Vindra mengajaknya untuk berangkat bersama ke sekolah. Tapi Ia menolak karena Ia diantar, dan Vindra tidak masalah. Akhirnya mereka tidak jadi berangkat ke sekolah bersama.


“Dia lagi sibuk sama tugasnya kali,” ujar Zeline.


“Lo nggak chat?” Tanya Aca.


“Nggak, ngapain? Biarin aja dia fokus, aku nggak mau ganggu,”


“Tapi kalau ternyata dia nungguin lo yang hubungin duluan, gimana?”


“Nggak lah, Ni. Aku nggak mau ganggu Vindra. Dia tuh mungkin lagi sibuk ngerjain tugas, atau lagi ada urusan. Kalau dia udah nggak sibuk dan emang ada perlu sama aku, ada yang mau diomongin, pasti dia bakal hubungin aku kok,” ujar Zeline yang enggan menghubungi Vindra karena Ia berpikir Vindra sedang sibuk makanya belum mengirimkan pesan, ataupun menelponnya. Terakhir kali tadi pagi mereka berkomunikasi.


“Kita pulang yuk, aku nggak mau lama-lama, aku ngantuk,”


“Bentar, gue mau abisin kuenya, lo nggak abis?”


“Aku kenyang,”


“Ah elah, lo diet ya? Jangan diet, Shel. Lo tuh udah perfect, ngapain diet lagi sih?”


“Astaga, aku nggak diet, emang aku udah kenyang. Sejak kapan aku diet? Aku makan apa aja yang aku pengen, jajan ya jajan aja nggak mikirin ini itu,”

__ADS_1


“Tapi tetap aja badan lo segitu, nggak berubah,”


“Hai, boleh gabung nggak?”


Mereka bertiga menoleh ketika dihampiri oleh seorang lelaki yang berdiri menatap mereka bertiga dan meminta izin sebelum bergabung di meja yang sama dengan mereka.


Ketiga gadis itu saling menatap satu sama lain. Nia yakin dua temannya itu tak akan menjawab terutama Zeline yang memang tak suka banyak bicara dengan orang asing terutama laki-laki.


“Boleh dong, duduk aja,” akhirnya Nia yang mempersilahkan.


“Teman kuliahnya Citra?”


“Teman SMP sih, lo sendiri?”


“Teman main aja. Oh iya kenalin, gue Rangga,” ujar lelaki itu seraya mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya kepada Zeline, Nia dan Aca.


“Gue Nia,”


“Gue Aca,”


Paling terakhir Zeline yang menyebutkan namanya.


“Okay, Zeline, Nia, Aca. Kalian berdua sama-sama teman SMP Citra ya? Kirain teman SMA,”


“Yup, teman SMP. Gue pikir lo yang satu SMA sama Citra,”


“Gue kenal Citra dari zaman SD, teman main aja kok,”


“Oh gitu, okay. Udah ketemu Citra nya?”


“Udah kok, kalian baru datang atau gimana?”


“Nggak baru juga sih, ini udah mau balik,”


“Yah, ntar-ntaran aja. Ngobrol dulu, masa gue baru duduk, kalian langsung pulang? Nggak enak nih gue jadinya. Gue ganggu kalian ya?”


“Eh Astaga, nggak sama sekali, lo kok ngomong gitu. Emang kita mau pulang ini,”


Ketika Nia bicara dengan Rangga, Zeline meraih ponselnya yang berdering sekali. Ada panggilan dari Vindra yang sengaja Zeline akhiri. Tapi Zeline mengirimkan pesan. Zeline tidak enak kalau bicara di telepon sementara Ia sedang bersama Nia, Aca dan Rangga. Kalau Ia harus menyingkir sebentar untuk menerima panggilan Vindra, Zeline terlalu malas untuk beranjak sendirian. Ia ingin beranjak meninggalkan kursi kalau dua sahabatnya juga melakukannya.


-Vin, aku lagi di acara ulang tahunnya Citra temen aku. Maaf ya nggak bisa angkat telepon kamu dulu- begitu isi pesan yang dikirimkan oleh Zeline kepada Vindra.


-Hah? Kamu ada dimana sekarang? Udah malam nih, hati-hati ya. Baliknya gimana?-


-Aku sama Nia Aca kok. Aku di Nightlife bar, Vin-


-Aku jemput ke sana-


Zeline mengerjapkan matanya ketika membaca pesan itu dari Vindra. Setelah beberapa jam mereka lalui tanpa ada komunikasi sama sekali. Sekarang tiba-tiba Vindra menanyakan keberadaannya kemudian langsung mengutarakan bahwa dirinya akan menjemput Zeline.


Dengan cepat Zeline mengirimkan pesan yang tentunya berisi penolakan. Ia tidak mau Vindra menjemputnya. Seharusnya Vindra istirahat, lagipula Ia akan pulang dengan Nia.


-Eh nggak usah, Vin-


Pesan Zeline itu hanya dibaca saja oleh Vindra yang tak memberikan balasan apapun. Zeline mendengus pelan. Perasaannya mengatakan Vindra sudah bergegas ke tempat ini. Artinya Ia harus menunggu Vindra sampai Vindra datang. Kalau Ia tiba-tiba pulang, dan Vindra sampai sini Ia tak ada lagi, kasihan Vindra. Kedatangannya sia-sia.


-Aku otw-


Zeline menghela napas pelan setelah mendapatkan pesan singkat dari Vindra. Benar dugaan Zeline. Vindra akan datang.


Dua sahabat Zeline dan Rangga juga kebetulan jadi banyak mengobrol. Zeline malah menjadi pendengar saja. Beberapa menit kemudian Nia baru ingat kalau seharusnya Ia dan dia sahabatnya tidak lama-lama di tempat itu. Zeline tadi sudah berkata bahwa dirinya mengantuk.


“Ayo balik, Zel,”


“Serius mau balik?” Tanya Rangga pada mereka bertiga.


“Nia, Vindra bilang mau ke sini,” ujar Shelina dengan senyum meringis pada Nia. Sejujurnya Ia tak enak. Sebelumnya Ia, Nia, dan Aca sudah sepakat untuk berangkat dan pulang bersama, tapi sekarang tiba-tiba Vindra datang hendak menjemputnya.


“Dia mau jemput lo, Zel?”


“Iya, kalian pulang berdua aja sekarang nggak apa-apa ya?”


“Oh ya udah, kita tungguin lo sampai dijemput,” ujar Aca.


“Serius? Nggak apa-apa kalau mau pulang duluan,”


Sebenarnya Zeline berat sekali bila harus ditinggal oleh mereka. Tapi Ia tak mungkin egois membiarkan mereka di sini bersamanya sampai Vindra datang sementara mereka mungkin sudah ingin pulang ke rumah masing-masing.


“Nggak apa-apa, santai aja. Kita tungguin sama Vindra datang jemput lo,” begitu kata Nia yang membuat Zeline tersenyum. Aca dan Nia ternyata tetap ingin menemaninya sampai Vindra datang, dan Ia senang karena hal itu.


“Sorry, Vindra siapa?”


“Itu pacar Zeline,” ujar Aca yang langsung membuat salah satu alis Zeline menukik. Ia agak kaget juga Aca langsung mengungkapkan statusnya Vindra.


“Oh pacar. Kirain teman kalian yang mau gabung juga di sini,”


“Nggak-nggak, dia pacar Zeline, mau jemput Zeline di sini. Tadinya Zeline mau pulang sama kita berdua cuma kalau pacarnya mau jemput ya nggak apa-apa. Mungkin Vindra khawatir kali kalau biarin Zeline pulang sama kita,”


“Ih nggak gitu, Nia. Padahal aku udah bilang sama kamu tapi dia tetap aja,”


“Iya mungkin dia bakal tenang kalau lo dijemput sama dia, lo nggak balik sama siapa-siapa,”


“Vindra satu sekolah sama kalian?”


“Sama Zeline,”


“Oh, kenal di sekolah sama Vindra ya, Zeline?” Tanya Rangga pada Zeline yang sedari tadi banyak diam.


“Iya, Rangga,” ujar Zeline menjawab pertanyaan lelaki yang ada di depannya itu.


“Oh, udah berapa lama pacaran, Zeline?”


“Udah nggak usah ditanyain kapan pacarannya udah mau nikah tuh mereka kayaknya,” ujar Nia sambil terkekeh. Tak hanya membuat kaget Rangga, Zeline juga ikut kaget mendengar ucapan Nia. Yang ditanya oleh Rangga adalah dirinya, tapi yang menjawab malah Nia.


“Nggak kok, belum,” ujar Zeline.


“Oh? Serius udah mau nikah? Wuih selamat ya, semoga lancar,”


“Nggak-nggak, mau kuliah dulu lah,”


“Makasih lho doanya, Ga. Temen gue ini bentar lagi lepas status single,”


“Ih Nia!” Zeline menatap Nia dengan tatapan kesal


“Nah kalau kalian sendiri gimana, Nia, Aca?” Tanya Rangga lagi, tapi kali ini Ia melontarkan pertanyaan itu kepada dua sahabatnya Zeline.


“Gue? Belum ada tanda-tanda nih,” ujar Aca seraya terkekeh.


“Gue juga belum,”


Rangga menatap dengan dua sorot mata yang tidak percaya.


“Serius nih? Masa iya belum ada tanda-tanda? Tapi pacar udah ada ‘kan?”


“Pacar juga belum ada, Ga,”

__ADS_1


__ADS_2