
“Zel, lo nungguin siapa?”
“Driver gue,”
“Bareng gue aja yuk. Mau ‘kan lo? Takutnya lama driver lo,”
“Ya kalau gue sama lo, kasian dong Pak Han? Gue nggak mau. Lo pulang sendiri aja. Tapi makasih udah nawarin gue pulang bareng,”
Zeline menolak ajakan Juan bukan tanpa alasan. Hari ini seperti biasa Ia akan dijemput oleh supir di rumahnya. Karena Papanya tak bisa menjemput. Setelah tidak lagi bersama Vindra otomatis Zeline pulang dan pergi dengan papanya atau dengan supir. Ia merasa tidak sopan kalau tiba-tiba pulang dengan Juan sementara supirnya sudah menuju ke sekolah untuk menjemputnya.
“Lo yakin nih nggak mau pulang sama gue?”
“Nggak, lo pilang aja duluan sana,”
“Hmm okay kalau gitu gue cabut duluan ya. Hati-hati lo, Zel,”
Zeline menganggukkan kepalanya dan tak lama kemudian Juan melaju dengan motornya yang berbadan besar dan kokoh meninggalkan sekolah.
Zeline masih menunggu di depan gerbang sambil memainkan ponselnya. Lalu tiba-tiba ada mobil yang berhenti di dekatnya, dan langsung membuka jendelanya.
“Zel, pulang bareng aku,”
Zeline langsung menolehkan kepalanya dan melihat ada Vindra dan Anin di mobil itu. Zeline mmendengus. Ia tdiak berharap diajak pipang bersama. Lebih baik Ia naik ojek online datipada harus pulang bersama Vindra dan Anin kalau memang seandainya sang driver tak bisa menjemputnya.
“Ayo pulang sama kita, Zel. Walaupun kamu udah putus sama Vindra tapi ‘kan kita bisa tetap berteman,” ujar Anin pada Zeline yang langsung merotasikan bola matanya. Berteman dengan Anin suka makan hati. Jadi lebih baik Ia gindari. Berteman dnegan Vindra juga sama. Cukup mengenal mereka baik saja, lebih datipada itu tidak perlu. Zeline rasa, hanya omong kosong sebagian orang yang bilang mantan bisa jadi teman. Kenyataannya banyak yang tidak seperti itu. Putus yang seperti apa dulu yang mantannya bisa dijadikan teman. Kalau putusnya karena merasa tak dihargai lagi, jangankan untuk menjadi teman, untuk basa-basi saja sudah malas.
“Ayo naik, Nin kamu pindah ya ke belakang,”
“Ok—“
“Nggak usah, gue dijemput kok,” jawab Zeline dengan ketus.
Untuk apa Vindra menyuruh Anin pindah ke kursi belakang? Maksudnya supaya Ia duduk di depan, di sebelah Vindra seperti biasa? Perlu diingat, Ia bukan gadis istimewa bagi Vindra lagi, mereka bukan sepasang kekasih lagi jadi tidak perlu memperlakukan Ia serupa dengan saat Ia masih menjadi kekasih Vindra.
“Ayo, Zel. Nanti ‘kan bisa dikabarin Pak Han nya. Lagian belum tentu beliau udah berangkat,”
“Orang udah berangkat ke sini kok dari rumah. Udah deh sana pulang aja duluan. Gue pulang sama Pak Han,”
Vindra menghembuskan napasnya dengan kasar lalu mengangguk dengan berat hati. Ia gagal pilang bersama Zeline siang ini karena Zeline bersikeras ingin pilang dengan drivernya dan Vindra tak bisa memaksa. Ia tidak mungkin memasukkan Zeline ke mobilnya secara paksa lalu Ia bawa pulang Zeline. Itu bentuk kejahatan dan Zeline akan semakin membencinya.
“Okay kalau gitu aku sama Anin duluan ya,”
Zeline menganggukkan kepala tak mau menatap ke arah Vindra ataupun Anin. Ia fokus saja dnegan ponsel.
“Kamu hati-hati, Zel,”
Tak ada tanggapan apa-apa lagi dari Zeline. Sejujurnya berat bagi Vindra meninggalkan Zeline sendirian walaupun katanya dia akan dijemput oleh driver. Karena mereka biasa pulang pergi bersama. Tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau ajakannya sudah ditolak dengan tegas.
Setelah berpesan seperti itu pada Zeline, Vindra langsung bergegas melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.
“Kenapa ya Zeline nggak mau pulang bareng kita? Apa kita benar-benar udah nggak dianggap sama Zeline? Apa Zeline nggak mau temanan sama kita? Padahal ‘kan bisa ya mantan jadi teman,”
“Ya nggak tau lah, Nin. Aku juga nggak tau harus gimana. Zeoine kayaknya emnag udah nggak mau lagi berurusan sama kita, terutama aku karena dia benci sama aku,”
“Padahal kalian putusnya baik-baik lho,”
“Tapi karena aku dianggaps alah sama Zeline jadi ya gitu. Sebenarnya aku nggak pernah sepakat untuk putus. ‘Kan Zeline sendiri yang ambil keputusan itu. Jujur aku kecewa sih. Tiba-tiba aja dia putusin aku, biasanya kita ngobrol baik-baik dulu,”
“Ya mungkin Zeline udah terlalu benci sama kamu kali,”
Bindra menganggukan kepalanya setuju. Ia harus bisa menerima kenyataan bahwa erempuan yang dulu begitu Ia cintai, dan peremluan itu juga mencibtainya tiba-tiba harus membencinya. Tapis ampai kapanpun Zeline akan tetap menjadi bagian dari kisah hidupnya. Selama dua tahun lebih menjalin hubungan, pahit dan manis sudah mereka lewati, mereka sudah terbiasa bersama, dan sekarang harus tiba-tiba terpisah. Tapi hidup harus tetap berjalan. Saat ini Vindra sudah pasrah saja dengan keputusan yang diambil Zeline. Sekeras apapun Ia berusaha mempertahankan tapi kalau Zeline tidak mau dipertahankan usahanya akan percuma. Tapi Ia berharap masih ada kesempatan untuk mereka kembali walaupun sebenarnya sangat mustahil karena yang Ia tahu Zeline sudah punya pengganti dirinya.
“Kamu bakal nyerah, Vin?”
“Ya gimana ya? Akus ebenarnya pengen terus berusaha untuk kembaliin Zeline ke disi aku lagi. Tapi dia udah punya yang baru,”
“Emang beneran itu pacar baru Zeline?”
“Kayaknya sih gitu,”
“Kamu udah tanya ke Zeline?”
“Iya dan jawaban dia menjurus ke sama, kalau yang aku simpulkan ya,”
“Ya ampun, kok cepqt banget dih? Maksud aku, kok bisa secepat itu Zeline move on? Atau cowok itu cuma jadi pelatian doang ya supaya Zeline bisa lipain kamu? Kalau benar gitu, berarti Zeline kejam banget dong sama perasaan orang. Dia nggak mikir apa kalau ngejadiin orang sebagai pelarian itu jahat banget! Lahian di anak baru itu juga kenapa cepat banget sih baksir sama Zeline? Banyak perempuan lain kenapa harus Zeline? Kenapa harus mantan kamu yang baru putus belum sampai sebulan? Nggak habis pikir aku sama dua-duanya,”
“Duh udah deh jangan ngomongin Zeline yang nggak-nggak, kamu tuh nggak tau Zeline. Bis anggak sih jangan mojokin Zeline? Di sini tuh aku yang salah. Udha ya cukup!” Ujar Vindra dengan tegas pada Anin yang semakin tidak terkendali menilai Zeline padahal Anin semdiri belum tahu kenyataannya seperti apa.
“Huh ya udah lah terserah kamu. Oh iya aku jadi ya main ke rumah kamu,”
Vindra menganggukkan kepalanya. Ia memperisilahkan siapapun untuk datang ke rumahnya. Apalagi Anin yang sahabatnya. Ia tidak pernah melarang, dan kebetulan memang mama Vindra memanggil Anin supaya berkunjung ke rumah sekalian Rina mau memberikan buah tangan yang dibawa oleh suaminya sepulang dari Korea.
Begitu tiba di rumah Vindra, Anin langsung keluard ari nobil semnetara Vindra memarkirkan mobilnya lebih dilu dengan aman barulah Ia masuk ke rumah menyusul Anin yang memang sudah biasa datang ke rumah Vindra jadi tak perlu menunggu Vindra lagi untuk mengetuk pintu, Ia sudah biasa melakukannya sendiri. Lalu tak lama kemudian Rina membuka pintu rumah dan tersenyum hangat menyapa Anin.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, Alhamdulillah sampai juga. Ayo masuk-masuk, Nin,”
“Makasih, Tante,”
Anins egera duduk di sofa ruang tamu. Rina ke dapur sebentar untuk meminta tolong pada Bibi agar menyiapkan minum untuk Anin, setelah itu Rina kembali lagi ke ruang tamu.
“Baru banget pulang dari sekolah apa udah mampir-mampir dulu nih?”
“Dari sekolah langsung ke sini, Tante,”
“Oh iya, ada yang mau Tante kasih ke kamu. Tunggu sebentar ya,”
“Duh Tante benar-benar suka direpotin sama aku,”
“Ah nggak repot sama sekali. Tunggu sebnetar, Tante ambil dulu,”
Rina ke kamarnya untuk mengambil dua tad belanja berisi oleh-oleh untuk Anin kemudian Ia menyerahkannya langsung kepada Anin.
Lalu Rina bertanya pada anaknya yang duduk di sofa single, “Vin, kamu kenapa sih nggak seklaian ajak Zeline? Itu buat Zeline belum dikasih lho,”
“Bukan nggak mau, orang udah nggak ada hubungan apa-apa. Gimana mau ngajak Zeline ke rumah, orang diajakin pulang bareng aja nggak mau,” batin Vindra.
“Lho emang Tante nggak tau ya kalau misalnya Vindra sama Zeline itu udha putus? Dari yang ke Bogor itu lho, Tante. Zeline putusin Vindra tiba-tiba. Nggak ada kesepakatan dari Vindra makanya Vindra usaha untuk dapetin Zeline lagi tapi Zeline nya nggak mau, malah sekarang Zeline udah ada penggantinya. Dengar-dengar sih gitu. Cowok barunya anak baru di sekolah,”
Tentu saja penjelasan dari Anin itu membuat Rina terkejut. Yang Ia tahu hubungan anaknya dan juga Zeline baik-baik saja. Dan Bindra juga belum cerita secara gamblang tentang berakhirnya hubungan mereka. Oleh sebab itu Ia benar-benar kaget.
Vindra langsung melirik Anin dnegan kesal. Apdahal tadinya Ia akan cerita oerlahan-lahan kepada kedua orangtuanya ketika Ia sudah siap. Tapi ternyata Anin mencuri start lebih dulu. Seharusnya bukan Anin yang cerita, seharusnya Ia sendiri karena Ia anak dari kedua orangtuanya dan memang sudah sepatutnya apapun yang Ia alami, baiknya orangtua tahu, termasuk soal percintaan.
“Benar begitu, Vin?” Tanya Rina pada puta semata wayangnya itu.
__ADS_1
Vindra menundukkan kepalanya dan mengangguk. Rina langsung menghembuskan napas pelan.
“Kok bisa putus? Memangnya soa yang terjadi? Nggak mungkin ‘kan Zeline tiba-tiba mutusin kamu gitu aja tanpa alasan atau sebab yang jelas,”
“Zeline merasa udah nggak sihargai kagi dalam hubungan kami, Ma,”
“Lho—memang—memangnya apa yang kamu lakuin, Vin? Kenapa Zeline bisa merasa kayak gitu? Padti ada yang kamu lakuin sampai Zeline merasa bahwa kamu udah nggak menghargai dia lagi,”
“Namti aja aku ceirtain ya, Ma,”
Lebih menyenangkan untuk bicara emoat mata saja, tidak ada orang lain seperti ini. Walaupun Anin sahabatnya tapi tidak enak kalau membucarakan soal hubungan yang merupakan hal privasi di depan orang lain, kalau orangtua tidak masalah karena orangtuanya juga sudah bertanya dan Ia harus menjelaskan supaya tidak ada kesalahpahaman.
“Ya ampun, Mama nggak nyangka bakal putus. Padahal Mama udah cukup akrab sama Zeline,”
“Aku minta maaf udah bikin Mama kecewa,”
“Lho kok kamu mihta maaf ke Mama? Ya kalau sitanya Mama kecewa atau nggak pastilah Mama kecewa. Tapi Mama tau, yang lebih kedwa adalah kamu. Mama tau betul gimana perasaan kamu ke Zeline. Gimana bahagianya kalian rerus tiba-tiba harus putus,”
“Makanya aku bilang ke Vindra, cari aja yang lain, banyak kok perempuan lain di luar sana, soalnya Zeline aja udah bahagia sama hidupnya sekarang. Dia udah punya pacar lagi, dan dia anak baru di sekolahan “
“Kamu tau darimana kalau Zeline udah punya pacar lagi? Masa seceoqt itu? Memang putusnya kapan?”
“Ya terhitung belum sebulan deh, Ma. Aku juga malas ngitungnya. Pokoknya pulangd ari acara pramuka di Puncak itu, aku udah diputusin Zeline,”
“Mama nggak nyangka, Vin. Tapi nggak apa-apa mungkin memang ini yang terbaik untuk kalian berdua. Tapi kalau jodoh nggak kemana kok, Vin. Bisa aja nanti kamu sama Zeline balikan lagi ‘kan. Ya kalau dia udah unya yang baru, kamu hatus menghargai pacar barunya itu, jangan diusik. Tenang, kalau jodoh pasti akan ada banyak cara untuk kembali bersatu, percaya deh sama Mama,”
Mendnegar ucapan Mamanya, Vindra tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia menatap mamanya dnegan sorot mata yang lembut sambil berkata “Makasih ya, Ma,”
“Sama-sama, Nak. Udah kamu jangan galau lagi, nggak usah khawatir. Jodoh udah ada yang ngatur kok,”
“Iya, Ma,”
“Tapi kenapa sih kamu baru cerita sekarang ke Mama? Anin aja udha tau masa Mama belum sih? Papa juga belum?”
“Belum, Mama ataupun Papa belum aku ceirtain secara gamblang tapi kalau Mama Papa perhatiin pasti ada yang beda deh dari aku setelah putus dari Zeline,”
“Ya dari sikap aku mungkin keliatan,”
“Oh iya-iya Mama sadar. Kamu kayaknya emang belakangan ini jadi hobi menyendiri deh di kamar,”
“Ya baru mau dua minggu dia mutusin aku, Ma, setelah dua tahun lebih kami pacaran. Jadi wajar kalau aku jadi murung,”
“Ya ampun, baru bentar ya,”
“Makanya aku bilang belum sebulan, masih bentar banget,”
“Tenang, Mama dukung kamu balikan lagi sama Zeline. Kalau udah jodoh nggak kemana. Tapi kalau dia udah punya yang baru ya jangan kamu usik. Pantai takdir aja. Ya nggak?”
Vindra terkekeh melihat Rina menaik turunkan alisnya menatap sambil tersenyum ke arahnya juga.
“Mama nih jadi penyemangat aku tau nggak?”
“Ya harus dong. Disaat anak galau karena putus cinta, Mama harus jadi penyemangat,”
“Makasih ya, Ma,”
“Sama-sama, tapi ingat lho ya, usaha ya boleh usaha tapi kalau Zeline udah punya yang baru jangan kamu usik. Nggak boleh! Biarkan dia nemuin kebahagiaannya sendiri, dan mungkin kamu juga bakal ketemu orang baru. Ya nggak apa-apa itu namanya proses dalam hidup, mungkin jodoh kamu ya orang baru itu. Kita nggak ada yang bisa tau ‘kan takdir hidup kita ini seperti apa. Yang jelas jalanin aja,”
“Vindra itu sebenarnya cowok yang baik banget bahkan hampir sempurna deh kalau menurut aku. Udha ganteng, nggak neko-neko, baik banget, aku sendiri juga liat gimana Vindra bersikap ke Zeline. Tapi aku bingung kenapa Zeline mau mutusin Vindra? Padahal ya kalau dipikir-pikir dia bakalan nyesal sih karena belum tentu dia dapetin cowok yang kayak Vindra lagi,”
“Tapi cinta pertama itu belum tentu jadi cinta terakhir. Kamu yang sabar ya. Kalau seandainya emang dia bukan jodoh kamu ya nggak apa-apa, terima aja takdir kamu. Itu artinya Tuhan udah nyiapin yang lebih baik daripada dia,” ujar Anin.
“Untuk saat ini aku nggak ada niat untuk cari penggantinya Zeline. Aku harus pulih dulu dari rasa salit aku,”
“Iya, Sayang, Mama paham kok. Nggak ada yang maksa kamu untuk move on sekarang. Karena Mama tau kamu perlu waktu untuk menerima keadaan. Tapi Mama harap jangan berlarut-larut ya. Putus cinta emang nggak enaka palagi putusnya sama orang yang udha bsik bangets ama kita dan luar biasa di mata kita, tapi ini ‘kan yang harus kamu terima, jadi jalanin aja ya,”
“Iya benar kata Mama kamu, Vin. Jangan galau terus. Lagian ‘kan baru pacaran belum nikah, nggak usah berlebihan galaunya. Dan lagi, Zeline aja udah bahagia sama kehidupannya yang baru,”
********
“Mba Zeline, saya agak telat ya soalnya ban pecah, Mba. Tolong tunggu dulu ya, Mba,”
“Oh iya nggak apa-apa, Pak Han. Saya tungguin kok,” ujar Zeline pada Pak Han yang baru saja menghubunginya untuk memberikan informasi bahwa Ia sedang mengurus ban mobil yang pecah di bengkel jadi Zeline diminta untuk sabar menunggu.
“Iya okay, Pak, makaish ya, Pak, hati-hati,”
“Iya, Mba ini mudah-mudahan nggak lama, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Karena Pak Han masih mengurus ban mobil yang pecah, jadi Zeline putuskan untuk ke mini market dekat sekolah. Ia ingin membeli makanan ringan karena jujur perutnya mulau menimbulkan bunyi. Padahal tadi makan siang di kantin.
Zeline memilih makanan ringan yang gurih, kemudian roti, dan juga air minum berupa susu botol dan juga air putih. Setelah membayar Ia segera duduk di salah satu kursi yang disediakan oleh pihak minimarket tepat di bagian depan minimarket itu.
Zeline mulai membasuh tangannya dengan air putih kemasan setelah itu barulah Ia mulai menyantap makanan ringan sambil sibuk dengan ponselnya.
Sekitar setengah jam Ia di sana, Ia akan kembali ke sekolah supaya Pak Han tidak bingung mencarinya tapi tidak sengaja Ia bertemu dengan Juan yang masih mengenakan seragam sekolah. Juan yang pertama kali menyapa Zeline. Ia melihat Zeline akan beranjak meninggalkan kursi dan Ia langsung menghampiri. Tentu saja Zeline terkejut seklaigus tidak menyangka akan bertemu dengan Juan.
“Lho, kok di sini?”
“Iya gue abis jalan-jalan di sekitar sekolah terrus mau mampur beli jajanan, eh nggaks engak ketemu lo. Kenapa lo belum pulang sih, Zel?”
“Gue juga mau langsung oupang ke rumah, larena gue bukan tipe orang yang suka kemana-mana setelah pulang sekolah kecuali kalau emang ada kepentingan, nah ini gue belum pulang karena Pak Han masih di bengkel. Ban mobil pecah makanya gue diminta untuk nunggu dulu,”
“Ya ampun, terus itu kira-kira kelar jam berapa? Di bengkel antre nggak? Kalau gitu lo sama gue aja ayok. Daripada nggak pasti supir lo kemput jam berapa. Mending gue anterin ke rumah lo sekarang sekalian gue mau oulang ke rumah juga,”
“Nggak deh, kadian Pak Han. Beluau udah jalan ke sini soalnya,”
“Ya tapi ‘kan lagi ada kendala dan nggak tau juga Pak Han sampai jam berapa di bengkel,”
Zeline langsung bimbang sekarang. Menerima ajakan Jusn atau Ia menunggu Pak Han saja. Kalau dipikir-pikir apa yang dikatakan oleh Juan ada benarnya juga. Ia tidak tahu Pak Han sampai kapan di bengkel itu.
“Ayo mending dama gue aja,”
Zeline menatap Juan yang mengajaknya lagi, maish berusaha meyakinkan dirinya supaya langsung pupangs aja sekarang. Akhirnya Zeline menganggukkan kepala.
“Ya udah deh, tapi gue kaish kabar ke Pak Han dulu ya,”
“Okay, gue mau masuk bentar ke minimarket karena ada yang mau gue beli, biasa lah jajan,”
“Okay,”
“Lo mau apa biar sekalian?”
“Nggak usah, gue udah kenyang. Semua jajanan gue udha habis semua,” ujar Zeline zambil terkekeh menunjuk tempat sampah dimana Ia membuang kemasan makanan dan minuman yang tadi dibeli olehnya.
__ADS_1
“Oh gitu ya udah gue masuk dulu kalau gitu ya,”
Zeline menganggukkan kepalanya membiarkan Juan masuk ke dalam minimarket, sementara Ia menghubungi Pak Han melalu smabungan telepon supaya langsung dijawab oleh Pak Han. Kalau melalui pesan takutnya terlalu lama, dan Pak Han keburu ke sekolah bila seandainya ban mobil sudah selesai diurus.
“Halo Assalamualaikum, Pak,”
“Waalaikumsalam iya kenapa, Mba?”
“Bapak masih di bengkel ya?”
“Iya, lagi antre nih, Mba. Mana kayaknya yang satu lagi kempes, nggak cuma pecah satu aja,”
“Pak, kalau boleh, aku mau pilang sama teman aku, kira-kira Bapak masalah nggak? Aku nggak enak sebenarnya karena bapak udha terlanjur mau jemput aku,”
“Nggak apa-apa, Mba. Terserah Mba nya aja. Kalau begitu Mba pulang sama siapa? Untuk saya laporan sama Bapak,” ujar Pak Han yang diberikan tanggung jawab oleh Richie untuk menjemput anaknya hari ini karena Ia ada urusan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.
“Iya, Pak. Kalau gitu nggak apa-apa ya?”
“Iya nggak apa-apa kok, Mba. Tapi Mba pulang sama siapa?”
“Teman aku, Juan namanya,”
“Ok siap, Mba. Hati-hati ya, Mba, pangsung pilang ‘kan, Mba?”
“Iya mau langsung pulang kok, Assalamualaikum,”
“Waaalaikumsalam, bapak juga hati-hati ya,”
Sambungan telelon mereka berakhir. Zeline merasa tenangs etelah memberi jabar kepada Pak Han supaya Pak Han tidak buang waktu dan energi ke sekolahnya lagi setelah mobil diperbaiki.
Tidak lama kemudian Juan keluar dari minimarket dengan membawa satu kantong plastik kecil.
“Udah ngomong sama Pak Han?” Tahya Juan pada Zeline yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Ya udah ayok naik ke motor gue,”
“Okay,”
“Eh tapi gue nggak bawa helm dua, Zel,”
“Iya nggak apa-apa, rumah gue nggak jauh dari sini kok,”
“Tapi ini sebenarnya bahaya sih, nggak boleh dicontoh. Ntar gue bawa helm dua deh kalau lo mau pulang tiap hari sama gue,”
“Hahaha ya kali pulang tiap hari sama lo. Jangan lah, ini karena gue kebetulan nggak mau nunggu lama aja. Biasanya Pak Han tepat waktu kok,”
“Lumayan juga ‘kan mengurangi kerjaan supir pribadi lo,”
“Ya ‘kan itu memang tugasnya beliau. Kalau bokap gue nggak bisa antar jemput ya berarti Pak Han yang antar jemput,”
Juan tiba-tiba memberikan satu minuman dan roti kepada Zeline yang langsung menolak. “Nggak usah, Juan. Gue ‘kan udah bilang tadi gue udah jajan, bahkan udah habis semua,”
“Makan aja sama lo,”
“Kok lo nolak sih? Gue ikhlas lho ini,”
“Iya gue tau lo ikhlas. Tapi gue nggak mau. Udah buat lo aja ya,”
“Beneran nih? Buat lo di rumah ‘kan bisa, Zel,”
“Nggak usah, di rumah Alhamdulillah ada makanan,”
Juan terkekeh pelan. Ternyata tetaps aja Zepine tdiak mau menerima pemberiannya. “Ya udah kalau gitu nggak jadi buat lo karena lo nolak terus,”
“Ya karena gue udah kenyang, ngapain lagi dikaish makanan coba?”
“Ya ‘kan bisa buat nanti-nanti iseng pas di rumah,”
“Nggak, di rumah ada makanan,”
Setelah meletakkan kantong palstik kecil berisi jajanan di bawah jok motor, Juan langsung menggunakan helm dan Ia naik ke ata smotor menghidupkan mesin barulah Ia persilahkan Zeline untuk duduk di atas jok motornya bagian belakang.
“Udah nyaman duduknya?”
“Udah,”
“Okay jalan sekarang ya,”
Zeline menganggukkan kepalanya. Juan langsung melajukan motor dengan kecepatan normal, sehingga Zeline merasa nyaman menjadi penumpangnya.
“Lo arahin gue ya. Soalnya gue belum tau rumah lo dimana,”
“Pasti dong, ini masih lurus aja,”
Zeline tdiak menyangka kalau hari ini Ia pulang bersama anak baru di sekolahnya. Dan keakraban mereka nampaknya akan semakin bertambah setelah ini.
Ketika akan belok ke kiri memasuki komplek perumahan Zeline, tiba-tiba ada yang membunyikan klakson untuk mereka sehingga mau tidak mau Juan menghemtikan motornya.
“Katanya mau pulang sama supir, ternyata sama pacar. Cieee Zeline,”
Zeline menggertakkan giginya kesal ketika Anin meledeknya seperti itu. Ya, mobil yang membunyikan klakson adalah mobil Vindra. Dan begitu mobil berhenti, Anin langsung buka jendela mobil dan bicara seperti itu kepada Zeline.
Yang menekan klakson adalah Anin, dan Anin memaksa Vindra untuk menghentikan mobil. Apdahal tadinya Vindra tidak mau tahu, memilih tak peduli karena melihat kebersamaan Zeline dengan laki-laki lain membuat perasaannya terluka.
“Apaan sih, nggak jelas,” jawab Zeline kemudian menepuk kedua bahu Juan menyuruh Juan untuk kembali melajukan motornya.
Setelah melanjutkan perjalanan, Juan langsung bertanya pada Zeline “Itu satu sekolahs ama kita ‘kan? Maish pakai seragam tuh yang ceweknya,”
“Iya,”
“Dia teman lo? Nggak sekelas ya sama kita?”
“Nggak,”
“Dih kenapa singkat-singkat amat sih jawabnya,”
Juan protes karena Zeline terlalu dingkat menjawab semua pertanyaannya padahal Ia sangat penasaran hubungan Zeline dengan perempuan tadi apa sebab mereka satu sekolah.
“Kalau dia bukan teman lo, tapi kenapa dia ngomong kayak tadi ke lo?”
“Ya mana gue tau. Dia emang nggak jelas. Udahlah nggak usah dibahas. Nggak penting,”
“Dia nggaks ekelas sama kita ‘kan ya? Atau gue aja yang belum kenal satu persatu muka teman di kelas?”
“Nggak kok, emang dia nggak satu kelas sama kita, dia itu satu kelas sama cowok yang di sebelahnya tadi, yang bawa mobil,”
__ADS_1
“Oalah, mereka pacaran ya? Pantesan berduaan, segala ngeledekin lo lagi,”