Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 67


__ADS_3

“Pulang sama siapa, Nin?”


“Sama Vindra, Ma,”


“Vindra nggak mampir dulu?”


“Nggak, dia mau jalan sama pacarnya,”


“Zeline? Kemana?”


“Iya Zeline, Ma. Siapa lagi pacarnya Vindra selain Zeline? Nggak ada, Ma. Dia orangnya setia,”


“Oh, pergi kemana?”


“Pergi ke bioskop. Mereka mau nonton berdua,” jawab Anin atas pertanyaan sang mama.


“Kamu nggak diajak nonton? Yah kasian”


“Aku juga nggak mau kalaupun diajak. Ntar ganggu mereka lagi. Nggak enak sama Zeline nya. Kalaus ama Vindra sih santai. Takut Zeline ngambek,” ujar Anin seraya duduk di sofa ruang tamu, diikuti oleh mamanya.


“Kamu ganti baju dulu sana,”


“Nanti, Ma, masih males mau ganti baju,”


“Kalau diajak ikut ke bioskop kamu nggak mau? Emang kenapa?”


“Ya—-males aja,”


“Beneran? Yakin nggak mau nih?” Tanya Ninda sambil menjawil dagu anaknya.

__ADS_1


“Kamu jadi nyamuk ya kalau ikit mereka?”


“Iya, udah sering sih sebenarnya. Mending aku di rumah aja ah sekarang,”


“Makanya kamu punya pacar juga dong biar bisa double date,” ujar Ninda pada anaknya.


“Nggak nemu-nemu, Ma,”


“Ya mungkin karena kamu nempelnya sama Vindra mulu kali, jadi cowok-cowok juga ragu mau deketin kamu,”


“Ya ‘kan Vindra itu sahabat aku. Masa aku nggak boleh dekat dia, Ma?”


“Iya Mama tau, Nak. Mama tau kalau Vindra itu sahabat kamu. Tapi mungkin karena kamu terlalu dekat sama Vindra, jadi cowkk ragu mau deketin kamu,”


“Ya udah biarin aja lah, Ma. Nggak ada yang mau deketin aku nggak apa-apa,“


“Bukan gitu, Mama. Tapi aku ‘kan punya Vindra. Lagian belum mikirin pasangan deh sekarang. Aku nikmatin hidup aku yang sekarang dulu, nggak mau mikir yang lain,”


******


“Bener ‘kan? Kita cuma berdua? Aku nepatin janji aku ‘kan?”


“Ya,”


“Singkat banget ngomongnya. Masih ngambek apa?”


Zeline menggelengkan kepalanya. Vindra mengusap puncak kepala kelaishnya itu sambil terkekeh.


“Kamu bilangnya ke Anin gimana?”

__ADS_1


“Ya nggak gimana-gimana. Aku bilang aja ke dia kalau misalnya aku mau pergi sama kamu berdua,”


“Dia nggak keberatan ‘kan?”


“Ya kalau dia keberatan dia bakal ikut kita sekarang, Zel,”


“Oh jadi kalau misal dia nggak keberatan, kamu bakal biarin dia ikut kita ya?”


“Nggak,”


“Lah tadi barusan kamu ngomong gitu. Kalau dia keberatan, dia pasti udah ikut kita sekarang, berarti kamu bakal biarin dia ikut dong ya?”


“Ya nggak sih, aku bakal kasih pengertian ke dia,”


“Kalau misal dia tetap mau ikut gimana?”


“Nggak bakal lah, Zel. Dia kalau udah dikasih pengertian ya pasti ngerti, nggak maksa,” ujar Vindra.


“Ih aku ‘kan bilang kalau misalnya dia tetap mau ikut, dia keberatan nggak diajakin, reaksi kamu bakal gimana?”


“Ya udah aku biarin dia ikut kita,”


Zeline tersenyum mendengar jawaban Vindra. Ternyata Vindra tidak mau menepati janjinya. Kalau saja tadi Anin keberatan tidak ikut artinya Vindra akan mengikutsertakan Anin, mengabaikan janjinya pada Zeline.


“Oh ternyata kamu nggak benar-benar bisa nepatin janji kamu, tetap harus ada Anin,”


“Ya kasian kalau tetap nggak diajak,”


“Apa?” Tanya Zeline dengan salah satu alisnyang terangkat dan menatap Vindra dnegan raut wajah yang sinis. Vindra langsung menghela napas pelan.

__ADS_1


__ADS_2