
“Liat orang utan mau nggak? yuk kita liat orang utan,”
“Ayo,”
Di akhir pekan ini Vindra menemani Zeline yang ingin mengenang masa kecilnya yaitu melihat-lihat satwa di kebun binatang. Mereka tidak hanya berdua melainkan bersama Richie, Papa Zeline.
Awalnya Zeline ingin pergi dengan Papanya saja tapi kebetulan Vindra datang ke rumah dan Vindra langsung ingin ikut juga. Sekalian Ia ingin mengenang masa kecilnya dulu yang suka sekali datang ke kebun binatang melihat banyak jenis hewan di sana.
“Ya udah kalian aja deh, Papa udah gempor nih, Zel. Papa duduk di sini aja boleh ya?”
Zeline terkekeh maklum dan langsung membungkukkan badannya sedikit di hadapan sang papa untuk memastikannya baik-baik saja. Zeline memijat sebentar kaki papanya setelah itu mengusap mengusap bahu sang ayah dengan lembut.
“Papa mau pulang? Ayok kita pulang,”
“Eh jangan, kamu baru bentar di sini apati belum puas liat hewannya. Udah mendingan kamu sekarang puas-puasin liat hewannya,”
“Papa beneran nggak apa-apa kalau aku tinggal bentar?”
“Iya, Papa cuma capek aja. Pegal kaki Papa. Kamu liat orang utan sama Vindra deh sana, nanti ke sini samperin Papa ya kalau udah mau pulang,”
“Ya udah kita pulang aja yuk,”
“Lho kok pulang? Kamu puas-puasin aja dulu mengenang masa kecil. Papa nggak apa-apa kok, Nak. Udah sana liat orang utan,” richie meyakinkan anaknya yang tidak tega karena kakinya sudah tidak bisa diajak kompromi.
Zeline merasa tidak tega karena sudah membuat papanya lelah. Setelah melihat buaya, orang utan, dan rusa, Ia masih ingin melihat orang utan. Tapi ternyata papanya sudah merasa lelah. Wajar saja, dari usia saja sudah beda dengannya. Belum lagi, tadi mereka harus mengayuh sepeda dari rumah ke ragunan.
“Om beneran baik-baik aja? Benar kata Zeline mending kita pulang kalau Om udah nggak kuat,”
“Santai, Om baik-baik aja kok. Kamu aja sana temenin Zeline liat orang utan, dia kangen orang utan kali. Terakhir ketemu pas kecil kayaknya,”
Zeline dan Vindra terkekeh. Vindra senang-senang saja dipercayai oleh papanya Zeline untuk menemani Zeline melihat-lihat satwa yang ada di ragunan. Tapi jujur Ia khawatir juga pada papanya Zeline.
“Beneran, Papa baik-baik aja, cuma capek doang. Duduk bentar juga udah hilang capeknya. Kamu mendingan puas-puasin deh liat hewannya, nanti kangen lagi,”
“Beneran Papa nggak apa-apa?”
“Ya ampun, Iya nggak apa-apa, Anakku sayang. Papa tunggu di sini aja. Papa cuma pegal doang. Ya maklum lah udah tua abis sepedaan, terus liat-liat satwa tadi ‘kan. Kalau kalian ‘kan masih muda stamina lebih kencang,”
“Aku udah puas kok liat-liatnya, Pa,”
“Nggak, tadi kamu mau ketemu orang utan, ya udah sana temuin si orang utan nya,”
Mana mungkin Richie pulang disaat anaknya masih nyaman di ragunan. Lagipula Richie merasa baik-baik saja. Richie bisa melihat seantusias apa Zeline ketika Ia bersedia menemani Zeline bersepeda dan mengunjungi satwa-satwa di ragunan. Tapi sayangnya kaki tidak bisa diajak kompromi sehingga tak bisa menemani Zeline sampai Zeline puas melihat-lihat satwa yang ada.
“Ya udah deh kalau gitu aku liat gajah bentar terus kita langsung pulang ya?” Tanya Zeline pada papanya
“Nggak usah cepat-cepat, santai aja. Kamu mau liat yang lain juga boleh. Papa ‘kan udah duduk di sini jadi nggak pegal lagi, kamu bisa santai jalan-jalannya, nggak usah mikirin Papa. Insya Allah Papa aman di sini, nunggu kalian ke sini samperin Papa terus kita pulang,”
“Okay kalau gitu aku pergi dulu ya, Pa. Papa di sini duduk aja istirahat, jangan kemana-mana lagi. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku, okay?”
“Sip, tenang aja. Hati-hati ya. Kamu sendiri?”
“Nggak, sama aku boleh ya, Om?”
Zeline dan Richie papanya langsung saling bertatapan satu sama lain. Richie tidak masalah, Ia membolehkan. Tapi entah dengan Zeline yang mungkin tidak nyaman bila ditemani oleh Vindra. Zeline terkadang suka apa-apa sendiri.
“Terserah sama Zeline, dia mau nggak ditemani sama kamu,”
“Mau nggak, Zel? Aku temenin kamu biar nggak sendirian. Jadi aku yang jagain kamu, papa kamu di sini aja,”
“Ya udah ayo,”
“Yess! Makasih ya,”
Zeline dan Richie menahan senyum mereka. Melihat ekspresi senangnya Vindra, mereka merasa kalau itu lucu. Sebahagia itu Vindra ketika Zeline tidak masalah bila Ia menemani Zeline.
“Kalian hati-hati ya, jangan lupa samperin Papa di sini kalau udah mau pulang,”
“Siap, Pa,”
“Iya, Om aku nggak akan lupain Om. Nanti kalau Zeline udah puas jalan-jalannya, aku sama Zeline bakal ke sini samperin Om,”
“Okay baik-baik kalian ya,”
Zeline dan Vindra menganggukkan kepalanya kompak. Setelah itu mereka langsung berjalan ke tempat gajah. Zeline benar-benar mengenang masa kecilnya di sini.
“Abis liat orang utan, kamu mau liat apa lagi?”
“Nggak ada, orang utan aja,”
“Beneran? Kata Papa kamu, puas-puasin aja dulu liat hewan-hewan di sini,”
“Nggak deh, liat orang utan aja abis itu kita pulang,”
“Okay terserah kamu aja yang penting kamu bahagia,”
“Kenapa kamu mau temenin aku? Emang kamu nggak capek apa?”
“Nggak, aku mana pernah capek kalau buat kamu, Zel,”
Zeline merotasikan bola matanya mendengar ucapan Vindra. Menurutnya ucapan Vindra berlebihan.
__ADS_1
“Lebay kamu ah, bisa aja deh,”
Vindra terkekeh dan merangkul bahu kekasihnya itu. Menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu di kebuk binatang.
“Lho kok lebay sih? Aku serius, Zel. Aku malah senang banget bisa temenin kamu,”
“Makasih,”
“Sama-sama, Cantik,”
Melihat wajah Zeline yang tanpa ekspresi membuat Vindra tertawa keras dan karena gemas tanpa sadar tangannya menepuk lembut puncak kepala Zeline yang memiliki tinggi sebatas bahunya saja.
“Kamu lucu banget sih. Geli ya denger aku ngomong gitu?”
“Tuh tau, kamu nggak geli emangnya?”
“Nggak, kamu ‘kan emang beneran cantik,”
“Aku nggak salting kamu puji gitu, Vin,”
“Salting sih dalam hati,” batin Zeline.
“Ya nggak apa-apa, yang penting hati aku lega udah mengungkapkan apa kata hati aku. Kamu emang beneran cantik kok!”
“Satu dua tiga kamu diam! Soalnya kita udah mau sampai di dekat kandang orang utan,”
“Okay sip Zeline can,”
Zeline menoleh ke arah vindra dan menatap Vindra dengan sorot mata kesal. Sementara Vindra memasang ekspres tengil yang menyebalkan di mata Zeline.
“Sekali lagi manggil aku begitu, aku—“
“Pacarin,” belum selesai Zeline bicara, Vindra sudah memotong dengan satu kata singkat yang membuat Zeline membelalakkan kedua matanya.
“Ya ‘kan emang udah pacaran,” ucap Vindra kemudian tertawa.
“Apaan sih? Kamu tuh ya kalau nggak gombal ngalor ngidul deh ngomongnya,
“Gini-gini calon jodoh masa depan kamu,”
“Nggak mau,”
“Lho emang kenapa? Aku ‘kan baik, kamu bisa nilai sendiri lah tanpa aku ngomong, bener nggak?”
“Ya ampun orang utan sweet banget,” ujar Zeline setelah tiba di dekat tempat tinggal orang utan. Di sana ada beberapa pengunjung yang sedang mengamati orang utan juga.
Zeline menatap dua ekor orang utan yang berdiri sebelahan. Posisi mereka cukup dekat. Zeline tidak tahu mereka betina dan jantan atau justru sama jenis kelaminnya. Tapi yang jelas melihat mereka akur dan dekat seperti itu membuat Zeline senang.
“Mana aku tau mereka pacaran atau nggak. Jenis kelamin nya aja aku nggak tau apaan,”
“Kayaknya jantan sama betina deh, makanya mau mepet-mepet begitu,”
“Sok tau deh, kalau bukan gimana?”
“Aku nebak aja, Zel,”
“Kalau seandainya mereka sama-sama betina terus sahabatan gimana?”
“Nggak, kayaknya betina sama jantan deh,”
“Kamu tanya dokter hewan aja sana buat mastiin,”
“Ngapain? Bukan urusan aku, suka-suka deh hubungan tuh dua ekor apaan, pacaran kek, suami istri kek, adik kakak kek, suka-suka mereka aja lah,”
*******
“Mas, kok narok mobil di sini sih?”
“Maaf, Pak. Saya udah nggak keburu lagi mindahin mobil ke rumah Zeline. Minta maaf ya, Pak,”
Vindra mendapat teguran dari pihak keamanan komplek karena meletakkan mobil di dekat gerbang komplek perumahan. Vindra terlalu semangat ingin menemani Zeline dan papanya ke ragunan. Jadi tidak ingat kalau seharusnya mobil yang Ia bawa itu Ia simpan dulu di rumah Zeline selama Ia pergi bersama Zeline menggunakan sepeda. Vindra mengakui kalau dirinya salah jadi Ia langsung meminta maaf tentunya.
“Maaf ya, Pak. Vindra nya nggak sempat mindahin mobil ke rumah saya tadi, maaf sekali lagi,” Richie juga ikut mwminta maaf atas kesalahan kekaish dari anaknya itu.
“Iya nggak apa-apa, cuma takut aja mobilnya kenapa-napa,”
“Nggak Alhamdulillah. Sekali lagi maaf ya, Pak,”
“Siap, Pak Richie,”
“Kamu mau langsung pulang atau ke rumah dulu, Vin?” Tanya Richie pada teman anaknya itu.
“Aku langsung pulang aja ya, Om, makasih udah bolehin aku ikut ke ragunan. Aku senang banget bisa ke ragunan sama Zeline sama Om,”
“Harusnya Om yang bilang makasih karena kamu udah bawa sepeda bonceng Zeline pulang pergi,”
“Iya sama-sama, Om,”
“Aku pulang ya, Zel,”
“Iya makasih ya. Harusnya aku yang bawa sepeda pas pulang ke sini eh malah kamu. Pasti kamu capek ya?”
__ADS_1
“Nggak capek kalau buat kamu, hehehe. Aku pakit pulang ya,”
“Okay hati-hati,”
“Om, aku pulang ya, makasih sekali lagi udah ngizinin aku ikut ke ragunan,”
Vindra mencium tangan Richie sebelum pulang. Vindra sangat bahagia sekali hari ini karena Ia bisa menghabiskan waktu bersama Zeline dan juga papanya. Menemani Zeline mengenang masa kecil di ragunan tak pernah ada dalam bayangan Vindra selama ini.
“Hati-hati, Vin,”
“Iya, Om, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Vindra memasuki mobilnya. Ia menurunkan jendela mobil dan melambaikan tangannya ke arah Zeline juga papanya, setelah itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan komplek perumahan.
Setelah mobil Vindra tidak terlihat lagi, Richie mengajak anaknya untuk bergegas ke rumah dengan sepeda mereka masing-masing.
“Papa pasti capek ya?”
“Nggak, Sayang. Tadi ‘kan udah istirahat pas kamu sama Vindra liat orang utan,”
“Tapi dari ragunan ke sini ‘kan gowes sepeda sendiri,”
“Tapi nggak capek kok, biasa aja,”
“Nanti langsung aku pijitin, Pa. Makasih ya udah temenin aku ke ragunan, Pa,”
“Nggak usah dipijitin, pakai minyak urut juga hilang pegalnya. Sama-sama, Papa senang temenin kamu, Nak,”
“Aku yang nggak capek, Pa. Karena yang gowes sepeda nya si Vindra,”
“Iya sih bener, jadi Vindra yang kakinya capek ya. Tapi dia keliatan senang-senang aja tuh, kayaknya karena sama kamu deh,”
“Ya emang dia dari tadi happy aja tuh keliatannya, Pa. Aneh banget, padahal aku aja agak capek lho karena tadi sempat keliling liat-liat hewan. Lah dia nggak keliatan capek, semangat mulu. Malah ngajakin aku bercanda terus dengan jurus seribu gombalnya,”
“Hahaha kalau di depan Papa agak kalem dia,”
“Ya tapi kalau lagi berdua sama aku keluar sifat aslinya. Heran aku, gombal mulu kerjaan nya. Muji-muji aku bukan bikin aku senang malah geli dengarnya. Berapa kali bilang aku cantik, kayak kurang kerjaan aja gitu muji aku mulu,”
“Emang Vindra suka muji deh kayaknya, Zel,”
“Iya, Pa,”
******
“Kenapa muka kamu keliatannya bahagia banget? Abis darimana sih? Cerita dong sama Mama,”
“Abis dari jalan-jalan sama calon pasangan dan calon mertua,”
“Waduh, siapa itu? Zeline?”
“Iya dong, Ma. Emang siapa lagi? Udah jelas Zeline ‘kan pacar aku cuma satu aja yaitu Zeline,”
Vindra tersenyum menaik turunkan alisnya. Ketika Ia sampai rumah, ekspresi wajahnya kelihatan bahagia sekali dan itu bisa dilihat jelas oleh mamanya.
Vindra memasuki rumah dengan ekspresi riang sambil bersiul, wajar kalau mamanya itu menduga Vindra sedang berbunga-bunga hatinya.
“Emang Zeline mau diajakin jalan sama kamu? Kamu nggak diusir?”
“Ih Mama jahat banget sih sama anaknya. Mama doain aku diusir sama Zeline?”
“Nggak, maksud Mama kok tumben kalian jalan berdua? Emang Zeline mau?”
“Jadi gini, Ma. Tadi ‘kan aku niatnya mau ke rumah Zeline, tapi belum sampai di rumah Zeline, baru sampai di dekat gerbang komplek perumahannya Zeline, aku ngeliat Zeline sama Papanya naik sepeda mau keluar komplek. Otomatis aku berhentiin mobil ‘kan. Terus aku samperin mereka deh untuk tanya mereka mau kemana. Dan ternyata Zeline tuh pengen ke ragunan, Ma. Dia mau olahraga sekalian liat hewan-hewan gitu deh. Terus ditemenin sama papanya. Nah aku langsung pengen ikut, Ma. Tapi aku nggak bawa sepeda ‘kan, akhirnya aku yang bawa sepedanya Zeline terus Zeline duduk di belakang aku deh. Pulang pergi aku yang bawa sepeda Zeline, Ma. Gimana? Romantis ‘kan, Ma?”
“Aduh Hahahaha,”
Vindra mengernyitkan keningnya bingung ketika melihat mamanya tertawa. Apakah ada yang lucu?
“Ma, kok ketawa sih? Aku ‘kan barusan cerita bukan lagi ngelawak. Emang dari cerita aku ada yang lucu?”
“Lucu, kamu nya yang lucu,”
“Ah Mama bisa aja,”
“Ya abisnya gimana? Kamu segitu senangnya bisa pergi sama Zeline. Meksipun bukan kencan ke restoran mahal, ke tempat-tempat romantis, tapi kamu udah sebahagia itu keliatannya, Vin. Padahal cuma ke ragunan lho. Tempat tinggalnya hewan-hewan, dan tempat yang cukup rame juga di hari libur gini,”
“Iya aku emang senang banget, Ma. Nggak nyangka sih bisa jalan sama Zeline ke ragunan. Ya aku anggap aja itu lagi kencan walaupun kencan nya sama Om Richie,”
“Akhirnya ngerasain kencan diawasin sama orangtua Zeline ya. Dulu papa kamu juga gitu kok. Mama nih susah untuk dilepas sama orangtua Mama, kalau Papa mau ngajakin Mama pergi, ayahnya Mama tuh suka mau ikut untuk ngawasin, dan itu seru lho,”
“Iya aku nggak masalah sama sekali. Yang penting aku bisa sama Zeline. Mau diawasin sama siapa aja aku nggak masalah, Ma. Lagipula aku juga nggak mau ngapa-ngapain kok, cuma pengen dekat aja sama Zeline, bisa ngobrol bareng, bercanda, pokoknya bisa ada momen sama Zeline aja udah bikin aku senang. Nggak peduli deh aku pengen diawasin sama siapa,”
“Wajar kalau diawasin juga. Zeline itu ‘kan anak perempuan, mana satu-satunya, ya pasti dijagain banget lah. Kalian pacaran ajdi ya harus siap-siap dipantau terus sama orangtuanya Zeline. Tujuannya bukan untuk ganggu kalian kok, bukan untuk bikin risih juga, tapi mereka mau mastiin anak mereka itu ada di tangan yang tepat, dan kamu harus buktiin kalau kamu tuh bisa dipercaya jagain Zeline terus,”
“Iya, Ma,”
“Nah kalau udah dipercaya, jangan kamu sia-siakan kepercayaan itu. Sulit lho untuk dapat kepercayaan dari orang lain. Kalau udah sekali aja kamu rusak kepercayaan itu, belum tentu ada kesempatan lagi nantinya untuk kembali dipercaya,”
“Aku sayang sama Zeline, Ma. Aku pastinya pengen jagain dia, dan bikin orangtuanya tuh percaya kalau aku cowok yang baik, yang pantas untuk Zeline,”
__ADS_1