Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 127


__ADS_3

“Ya makanya aku juga bingung itu dari siapa soalnya nggak ada nama pengirim. Nih coba kamu liat sendiri deh,”


Zeline mengambil bunga yang sebelumnya sudah Ia letakkan di meja ruang tamu kemudian Ia serahkan kepada Vindra supaya Vindra juga bisa melihat langsung bahkan menyentuhnya.


“Ini dari siapa? Astaga, kok jadi main tebak-tebakan begini sih,”


“Ya udah kamu bawa aja itu bunganya, Vin. Aku nggak mau,”


“Dih ngapain aku bawa, mau aku buang aja ini,”


“Ya udah buang deh, aku muak banget dikirimin bunga dua kali tapi nggak jelas siapa yang ngirim,”


“Tapi ini bukan aku yang kirim, sumpah deh, aku nggak bohong,”


“Ya udah buang aja makanya. Sekalian kamu pulang deh, aku nggak bisa lama-lama ngobrol sama kamu,”


“Kenapa? Takut sama aku? Nggak mau dekat-dekat aku?”


“Itu tau, ya udah kamu pulang aja. Sekali lagi makasih ya kuenya. Aku pasti makan, dan aku bakal suka banget karena aku yakin rasanya enak,”


“Halah orang belum dicoba juga,”

__ADS_1


“Ya tapi enak, aku yakin kok,”


“Okay aku pamit pulang, ini aku buang nggak apa-apa ya? Atau aku selidiki dulu deh,”


“Gimana caranya?”


“Ya aku tanya ke Juan, entah kenapa aku curiga ke dia. Aku bakal bawa bunga ini ke rumahnya terus aku tanyain langsung ke itu anak,”


“Aku emang curiga ke dia tapi aku nggak mau nanya. Kurang kerjaan, malas aku berurusan sama dia, kalau emang dia, stop ganggu aku dengan kiriman-kiriman nggak jelas! Aku nggak suka, aku nggak mau dia ngirimin ini itu untuk permintaan maaf atau apapun itu, pokoknya stop! Bukan senang, aku amlah risih. Tapi ya nggak tau juga Juan atau bukan,”


“Ya kalau Juan pacar kamu sebenarnya wajar sih dia ngirim bunga,”


“Ya aku juga nggak bisa mastiin, tapie mang kamu pacaran sama Juan ya?”


Zeline tak menajwab dan hendak menutup pintu namun Vindra meraih lengannya. Vindra menatapnya dengan senyum. “Jawab yang benar dong, Zel,”


Zeline berdecak dan langsung melepaskan tangan Vindra yang memegang lengannya. “Kamu apa-apaan sih! Jangan macam-macam ya!”


“Astaga, aku nggak ada niat macam-macam, Zeline, kamu kenapa sih berprasangka buruk ke aku? Padahal aku nggak sejahat itu lho,”


“Ya udah sana pulang deh, nggak usah lama-lama di sini, Vin. Aku soalnya mau makan, maaf jadi kesannya ngusir kamu,”

__ADS_1


“Nggak apa-apa, udah biasa kok. Aku bakal pergi, maaf ya udah ganggu. Selamat makan malam,”


“Makasih, hati-hati,”


“Eh bentar, tumben pesan hati-hati?”


Zeline berdecak pelan. Salahnya dimana? Ia senang berpesan pada siapapun agar berhati-hati, tak hanya pada Vindta saja.


“Aku tuh bisa bilang hati-hati ke siapa aja, Vindra. Tujuannya ya untuk ingetin orang aja supaya hati-hati di jalan nya,”


“Aku senang banget, soalnya kalau aku jarang banget dapat ‘hati-hati’ dari kamu, malah kayaknya belum pernah deh setelah kita putus,”


“Ah kamu berlebihan. Udah sana pulang, jangan lama-lama di sini,”


“Iya, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


“Bunganya aku bawa ya, salam buat mama papa kamu,” ujar Vindra seraya tersenyum kemudian bergegas meninggalkan Zeline yang geleng-geleng kepala.


“Ngomong apa sih dia? Terlalu percaya diri juga nggak baik, omongannya kayak masih pacaran aja,”

__ADS_1


__ADS_2