
-Kalau udah sampai di rumah, kabarin ya, Zel-
Karena pesan dari Vindra itu, Zeline langsung memberitahu kalau Ia sudah tiba di rumah setelah diajak belanja oleh mamanya sejak siang sampai sore.
-Aku udah sampai di rumah-
Setelah itu Zeline langsung membersihkan badannya, dan menghampiri mamanya di kamar untuk membuka belanjaan mereka tadi. Niat di awal cuma membeli makanan ringan untuk dibawa berlibur besok. Tapi ternyata malah membeli pakaian juga.
“Ayo kita bongkar belanjaan kita. Mama udah nungguin kamu masuk kamar Mama,”
“Makasih ya Ma udah belanjain aku,”
“Sama-sama, Nakku,”
“Aku senang banget dijemput Mama, dibelanjain, terus besok diajakin libur, duh senangnya dalam hati,”
“Semoga jadi makin rajin ya belajarnya,”
“Pasti, Ma,”
“Jangan mikirin apapun selain belajar, jangan galau-galau karena cinta, nggak baik,”
__ADS_1
“Hahahaha emang siapa yang galau karena cinta? Aku nggak pernah kok, Ma,”
“Ya bagus deh kalau begitu. Mama Papa nggak mau anaknya galau karena cinta, nggak penting. Tapi emangnya Vindra pernah bikin kamu galau?”
Zeline tanpa ragu menggelengkan kepalanya. Sejauh ini Ia menganggap bahwa Vindra itu lelaki yang baik, tak pernah membuat hatinya sedih.
*******
“Eh tadi aku liat Zeline. Katanya ‘kan Zeline belanja sama Mamanya ya? Kok tadi aku kayak liat Zeline sama cowok ya? Apa sepupunya? Atau sahabatnya?”
Anin baru saja pulang dari toko buku bersama teman sekelasnya, Lativa. Dan Ia berencana untuk menginap lagi di rumah Vindra, besok baru pulang setelah bersepeda dengan Vindra, dan kedua orangtuanya. Ketika Ia tiba di depan pintur umah Vindra, Ia bertemu dengan Vindra yang akan pergi ke rumah temannya. Tiba-tiba Ia menyampaikan hal yang sebenarnya Ia sendiri belum yakin.
Tadi, Anin tak sengaja melihat sekilas perempuan yang mirip dengan Zeline. Ia akan menyapa, tapi perempuan itu terlanjur keluar dari toko buku lebih dulu. Akhirnya Ia mengurungkan niat.
“Iya, aku ngeliat Zeline sama cowok gitu, kayaknya sih Zeline ya, mungkin lagi sama sepupunya kali,”
“Orang Zeline lagi pergi sama Mamanya kok, kamu salah liat kali,”
“Hmm…iya mungkin. Ya udah aku salah liat. Eh ngomong-ngomong kamu mau kemana?”
Tanya Anin seraya menatap Vindra dari atas sampai bawah. Vindra mengenakan celana jeans biru tua dan juga kaos polos berwarna putih. Penampilan Vindra membuat Anin menarik kesimpulan kalau Vindra akan pergi ke tempat yang lumayan jauh.
__ADS_1
“Aku mau ke rumah teman,”
“Ngapain?”
“Ya mau main aja sih, kenapa emang?”
“Aku boleh ikut nggak?”
Vindra mengangkat salah satu alisnya mendnegar pertanyaan Anin. Bukannya tidak boleh, hanya saja Ia bingung kenapa Anin mau ikut dengannya ke rumah teman alih-laih beristirahat.
“Apa kamu nggak capek ya? Kamu ‘kan baru pulang juga,”
“Aku bosan nggak tau mau ngapain,”
“Mending sama Mama aku tuh, Mama lagi nonton,”
“Oh gitu, ya udah aku masuk deh kalau gotu. Kamu hati-hati, Vin,”
“Sip, aku berangkat, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
__ADS_1
Vindra masuk ke dalam mobil, tapi tak langsung bernagkat. Vindra meraih ponsel di saku celananya ingin mengirimkan pesan pada Anin. Walaupun tadi Anin berkata mungkin Ia yang salah melihat tentang keberadaan Zeline, tapi entah kenapa Vindra kepikiran. Kalaupun benar, kemungkinan besar Zeline pergi dengan keluarganya karena yang Ia tahu Zeline tidak memiliki sahabat laki-laki. Tapi yang Ia ingat tadi Zeline diajak pergi oleh mamanya. Oleh sebab itu Ia bingung dan ingin memastikan sekarang.
“Bener nggak sih Zeline jalan sama cowok? Apa Anin yang emang beneran salah liat?”