Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 149


__ADS_3

Hari ini Zeline merasa kurang sehat di tengah jam pelajaran ketiga. Ia yang kelihatan tak baik-baik saja akhirnya diminta oleh guru untuk ke ruang UKS.


Dan di sinilah Ia berada. Ketika Ia istirahat, tiba-tiba datang Juan, sebelumnya Vindra. Hidup Zeline sekarang porosnya hanya mereka berdua saja.


“Udah sana keluar, Juan. Lo ngapain masih di sini sih?”


“Gue mau—“


“Vindra aja udah keluar tuh,”


“Ya itu kan dia, gue mau di sini,”


“Lo mau bolos ya dengan apasan mau di sini sama fue? Hah? Parah banget lo. Gue aduin ke BK baru tau rasa,”


Juan tertawa kemudian menaikkan turunkan alisnya. Ia tetap mau mempertahankan keberadaannya di ruang unit kesehatan sekolah walaupun Vindra ingin sekali Ia pergi. Tapi pada akhirnya Vindra saja yang pergi.


“Gue mau istirahat, lo keluar deh sana,”

__ADS_1


“Gue malas masuk kelas,”


“Parah banget ih, gue laporin ke BK beneran lo, Juan!”


“Silahkan,”


“Yee ini anak kurang ajar bangets ama guru. Lo tuh harus sekolah yang benar! Mau jadi apaan lo kalau masuk krlas aja mager. Mau jadi apa bangsa ini? Hah? Gara-gara generasi lo yang kayak gini Indonesia tuh—“


“Banyak omong lo ah. Gue mau di sini temenin lo, Zel,”


“Keluar aja Juan! Jangan ganggu gue,”


“Ya udah istirahat tinggal istirahat,”


“Mana bisa gue istirahat kalau ada lo yang berisik banget banyak omong,”


“Lah gitu amat,”

__ADS_1


“Heh lo tuh udah totalitas tadi, nggak usah lah beneran temenin gue di sini. Percuma juga Vindra tetap nggak percaya,”


Juan tertawa mendengar Zeline mengomentari dirinya yang tadi berperan totalitas hanya saja Vindra tetap pada pemikirannya. Vindra tidak percaya kalau Zeline sudah move on secepat itu. Walaupun sudah bisa lihat bagaimana kedekatan antara Zeline dan Juan tetap saja Vindra menyamakan Zeline itu seperti dirinya. Ia saja belum move on, jadi Zeline juga pasti belum move on. Walaupun sebenarnya ada rasa ketakutakutan “Bagaimana kalau Zeline dan Juan benar-benar sudah menjadi sepasang kekasih? Bagaimana kalau Zeline benar-benar sudah move on?” Tapi Vindra berusaha untuk mengusir pemikiran seperti itu. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Zeline itu tidak mungkin secepat itu move darinya.


Mereka pernah saling mencintai dan menyayangi selama dua tahun lebih jadi tidak mungkin dalam kurun waktu tiga bulan sudah mive on. Apalagi Vindra semdiri tahu secinta apa Zeline, begitupun sebaliknya.


“Nggak apa-apa, ntar juga lama-lama dia percaya dan perlahan tapi pasti ngejauhin lo, liat aja nanti,” ujar Juan seraya terkekeh.


Orang yang mengamatj mereka dari balik pintu mendadak panas menyaksikan interaksi antara Juan dan Zeline. Yang bisa Ia dengar hanyalah suara tawa, tapi yang dibicarakan tak sampai ke telinganya.


Vindra tidak bisa terlalu lama melihat pemandangan yang membuatnya sakit hati dan merasa sesak. Akhirnya Ia bergegas pergi membiarkan Zeline dan Juan menghabiskan waktu mereka hanya berdua. Hati Vindra panas sekali bahkan sudah sampai di kelas sekalipun.


“Entah berapa lama mereka berduaan kayak gitu. Katanya mau istirahat, katanya gue sama Juan harus keluar biarin dia sendirian karena mau istirahat tapi kenyataannya Juan nggak diminta pergi tuh, Juan tetap di UKS, giliran gue mati-matian diusir. Gini banget rasanya asing sama orang yang masih disayang,”


Vindra tidak tahu kenapa Ia bisa selemah ini soal Zeline. Ia tidak menyangka kalau hubungannya dengan Zeline akan seperti ini. Cara bicara saja sudah beda. Zeline bicara dengannya sudah seperti bicara dengan teman biasa.


“Lama-lama jenuh juga liat mereka, pengen bisa move on juga. Tapi kenapa bagi gue susah banget ya? Semuanya terlalu tiba-tiba,”

__ADS_1


__ADS_2