
“Duh papa, aku nggak ada penggemar rahasia. Papa jangan mulai deh,”
Richie tertawa melihat raut kesal ada di wajah putrinya. Zeline bingung, dan orangtuanya juga jadi bingung karena sudah dua kali Zeline menerima bunga.
“Nggak ada tuh sampai sekarang chat dari yang ngirim. Ini kayaknya dia niat ngerjain ya, Pa, Ma,”
“Tapi kurang kerjaan banget itu orang ya, kayak nggak ada hal penting aja yang bisa dia lakuin selain ngirimin kamu bunga. Buat apa coba? kata-kata di bunga juga nggak ada, namanya nggak ada, ‘kan aneh banget orang itu. Maksudnya apa papa juga bingung, Nak,”
“Udah ditolak sama Pak Ady tapi masih aja lagi, keras kepala banget dia,”
“Ya udah kita makan dulu deh. Pusing-pusing mikirin si pengirim bunga yang ada kita bisa lupa makan,”
“Iya aku udah lapar nih,”
“Mending kamu taruh di ruang tamu aja itu bunganya, Zel. Ganggu pemandangan mata papa, Zel,”
“Okay, Pa,”
Zeline membawa bunga yang ada di tangannya untuk Ia letakkan di meja ruang tamu sesuai permintaan papanya yang tak mau melihat bunga dulu untuk saat ini sebab matanya sedang ingin dimanjakan dengan makanan saja karena perutnya sudah lapar.
__ADS_1
Setelah meletakkan bucket bunga tersebut di ruang tamu, Zeline hendak ke ruang makan namun pintu rumahnya diketuk. Ia segera membukanya dan ternyata Vindra yang datang.
“Lho, kok kamu bisa ngelewatin pagar sih?”
“Bisa lah, ‘kan biasanya juga bisa, Zel. Aku udah kayak datang ke rumah sendiri aja,”
“Besok-besok aku bilang ke Pak Ady supaya jangan pernah izinin kamu masuk!”
“Eh jangan dong, masa kamu tega banget sih,”
“Kamu ngapain ke sini? Sana jauh-jauh,”
Zeline menyuruh Vindra untuk mundur dan langsung dilakukan oleh Vindra yang kecewa, berdiri berhadapan saja Zeline menolak.
“Hah? Kerajinan banget nganterin kue ke rumah aku,”
“Aku pengen kamu nyobain,”
“Itu alasan kamu aja ‘kan supaya datang ke sini?”
__ADS_1
Vindra tentu saja tertawa. Ia tetap keras kepala, dilarang datang ke rumah Zeline, mendekati Zeline, tapi Ia tetap pada keinginannya,
“Ini kuenya, semoga kamu suka,”
“Makasih tapi lain kali nggak usah repot-repot ya. Aku nggak mau ngerepotin orang lain,”
“Nggak repotin kok, ya udah kalau gitu aku pulang ya. Eh tapi tumben nih kamu yang nerima kedatangan aku, biasanya papa atau mama kamu,”
“Nggak sengaja! Aku baru mau ke ruang makan tapi karena pintu diketuk jadi aku yang bukain,”
Vindra hendak bergegas pulang namun Ia melihat ada satu bucket bunga di meja tamu. Tentu saja itu membuatnya bingung.
“Seingat aku, kamu udah buang bunga itu ‘kan setelah aku suruh? Kok itu masih ada? Itu bunga yang tadi siang bukan sih?”
“Bukan, itu baru aja diantar lagi,”
Kening Vindra mengernyit bingung. Jadi Zeline baru mendapatkan bunga lagi. Ternyata dugaannya salah, Ia pikir itu bunga tadi siang.
“Itj baru kamu terima? Siapa yang ngirim?”
__ADS_1
“Pak Ady yang nerima, yang ngirim katanya bakal chat aku tapi belum ada tuh. Pak Adi udah nolak tapi tetap aja nyuruh untuk diterima karena si kurir ini cuma ditugasin aja. Jujur aku bingung deh sebenarnya siapa yang ngirim ini, serius bukan kamu ‘kan, Vin?”
“Bukan, Zel. Aku jujur, malah jujur banget. Siapa ya? Aku juga ikut penasaran nih jadinya,”