
“Papa Mama kamu mana, Zel? Kok rumah sepi banget kayaknya. Apa udah tidur? Tapi ini belum jam tujuh,”
Vindra datang ke rumah Zeline dengan tujuan menjemput Zeline karena mereka akan bersama-sama datang ke kafe yang menjadi tempat perayaan ulang tahun Anin.
“Mama Papa aku lagi di rumah sudara yang mau tunangan,” jelas Zeline pada kekasihnya yang bertanya kemana orangtuanya, sebab rumah terlihat sepi suasananya.
“Kamu kok bajunya agak terbuka gitu sih? Biasanya juga nggak. Aku boleh kasih pendapat nggak?”
Setelah mengamati penampilan Zeline yang malam ini mengenakan gaun berwarna biru laut dengan model sabrina yang memperlihatkan kedua bahu mulusnya dan panjang gaun itu sedikit di atas lutut. Karena tidak pernah melihat Zeline berpakaian yang lumayan terbuka seperti ini, jadi Vindra merasa bingung dan jujur tidak nyaman. Apalagi membayangkan nanti Zeline akan bertemu dengan kaum serupa dengan dirinya di kafe. Kekasihnya itu akan menjadi objek perhatian.
“Kamu udah ngasih pendapat ngapain masih nanya boleh atau nggak? kata kamu barusan, pakaian aku ini terbuka,”
“Iya, itu pendapat aku. Kalau aku boleh kasih saran—“
__ADS_1
“Udah deh nggak usah ngasih saran apa-apa, ini takut telat,”
“Zel, aku bukan mau ngatur ya, tapi kita ini mau ke tempat ramai, dan udah malam juga. Emangnya kamu nyaman pakai baju itu? Hmm? Aku aja yang ngeliatnya nggak nyaman lho, serius. Soalnya kamu nggak pernah—“
“Aku pengen coba yang beda,“
“Nggak usah tampil beda kalau bikin kamu nggak nyaman, aku sebagai penganat juga nggak nyaman. Jadi lebih baik kamu ganti ya,”
Zeline berdecak ketika kekaishnya menyentuh kedua lengannya dengan lembut sambil meminta agar Ia segera mengganti pakaiannya.
“Ya iyalah, diliat cowok ya terutama, kalau diliat cewek sih masih mending. Lagipula nggak nyaman di kamu nya juga ‘kam? Kamu jujur deh sama aku, jangan karena mau tampil beda malah bikin kamu nggak bebas gerak, ngerasa nggak nyaman karena terlalu kebuka, ini udah malam dan dingin juga udaranya lho,”
Vindra masih berusaha membujuk kekasihnya untuk mengganti pakaian. Vindra
__ADS_1
Mengakui kalau Ia cemburu, Ia tidak terima ketika Zeline menjadi objek pengamatan laki-laki lain.
“Ayo ganti baju sana,”
“Tapi kita nggak bakal telat ya?”
Vindra berdecak mendengar pertanyaan itu dari mulut Zeline. Vindra langsung merangkum pipi Zeline dengan lembut sambil menjawab “Biarin aja kita telat, yang penting kamu datang dengan pakaian yang wajar,”
Vindra tidak lupa menekan kata wajar yang terletak di akhir kalimatnya. Menurut Vindra penampilan Zeline sekarang tidak wajar karena bajunya terlalu terbuka.
“Banyak yang bakal lebih seksi, ini ‘kan acara ulang tahun, bukan acara keagamaan,”
“Iya aku tau, Zel. Tapi mending ganti deh, nggak bakal telat kok, tapi kalau telat ya nggak masalah. Anin juga ngerti. Buruan ganti baju kamu, jangan bikin aku tambah kesal deh. Kamu nggak cocok pakai baju kayak gitu tau nggak? Kamu pikir kamu bakal cantik banget pakai baju yang bahunya keliatan kayak gitu, terus pahanya juga dipamerin,”
__ADS_1
Dari nada bicara Vindra, Zeline sudah tahu kalau kekasihnya itu benar-benar kesal, karena cemburunya dibantah dengan kenyataan bahwa nanti pasti akan ada banyak yang lebih terbuka pakaiannya.
Zeline menahan senyum, inilah yang Ia tunggu. Reaksi seperti ini yang memang Ia harapkan dengan jantung berdegup tidak normal sebelumnya karena takut tanggapan Vindra biasa saja setelah melihat penampilannya.